Dulu, waktu makan lebih sering dihabiskan untuk mengobrol dengan keluarga atau sekadar menikmati makanan. Sekarang, sebagian orang justru merasa ada yang kurang jika tidak ditemani layar.
Dari perspektif psikologi, kebiasaan ini bisa mengungkap banyak hal tentang perilaku seseorang. Kenapa ada orang yang selalu butuh tontonan saat makan? Apa yang sebenarnya terjadi dalam pola pikir mereka?
Dikutip dari laman Digital Marketing News pada Kamis (20/3/25), berikut tujuh perilaku yang sering ditemukan pada orang yang sulit makan tanpa menonton sesuatu.
- Selalu Mencari Stimulasi
Pernah merasa gelisah saat tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan? Orang yang terbiasa menonton sambil makan cenderung mencari stimulasi terus-menerus. Mereka merasa hampa jika harus duduk diam tanpa hiburan.
Bagi mereka, makan tanpa tontonan terasa membosankan. Mereka membutuhkan input visual dan audio agar tetap terlibat.
Akibatnya, mereka bisa kehilangan kesadaran akan makanan yang mereka konsumsi, karena perhatian lebih tertuju pada layar.
- Terbiasa Multitasking (tapi tidak Selalu Efektif)
Makan sambil menonton sering dianggap sebagai multitasking yang produktif: makan sekaligus menikmati hiburan. Namun, penelitian psikologi menunjukkan bahwa multitasking sebenarnya mengurangi fokus.
Ketika perhatian terbagi antara makanan dan tontonan, otak tidak bisa benar-benar menikmati keduanya. Akibatnya, seseorang bisa melewatkan detail dalam video atau bahkan tidak menyadari sudah menghabiskan makanan dalam hitungan menit.
- Menggunakan Hiburan sebagai Pelepas Stres
Bagi banyak orang, menonton sambil makan bukan sekadar kebiasaan, tapi juga mekanisme untuk mengatasi stres. Makanan memberi rasa nyaman, dan hiburan membantu melupakan beban pikiran.
Namun, jika kebiasaan ini terus dilakukan, seseorang bisa kesulitan mengatasi stres tanpa bantuan layar. Mereka mungkin merasa gelisah saat harus makan dalam keheningan, karena otak sudah terbiasa dengan gangguan eksternal.
- Kurang Sadar akan Pilihan Makanan
Pernah tanpa sadar menghabiskan sekantong camilan sambil menonton? Ini karena otak lebih fokus pada tontonan daripada makanan.
Dalam psikologi, konsep “mindful eating” menekankan pentingnya menikmati makanan dengan penuh kesadaran. Namun, ketika perhatian tertuju pada layar, sinyal kenyang dari tubuh sering terabaikan. Akibatnya, seseorang bisa makan berlebihan tanpa menyadarinya.
- Tidak Nyaman dengan Keheningan
Sebagian orang merasa canggung saat harus makan sendirian tanpa distraksi. Keheningan bisa memunculkan pikiran-pikiran yang tidak nyaman, membuat mereka merasa perlu "melarikan diri" ke dunia digital.
Padahal, membiasakan diri dengan keheningan bisa meningkatkan kesadaran diri dan kesehatan mental. Dengan melatih diri untuk makan tanpa tontonan, seseorang bisa lebih menikmati rasa makanan dan memahami emosinya dengan lebih baik.
- Menggunakan Layar sebagai Pengganti Interaksi Sosial
Menonton sesuatu saat makan bisa terasa seperti "mengganti" kehadiran orang lain. Suara dari layar memberikan kesan ada teman yang menemani, meskipun sebenarnya mereka makan sendirian.
Namun, jika kebiasaan ini terlalu sering dilakukan, bisa jadi seseorang mulai lebih nyaman dengan interaksi digital dibandingkan pertemuan sosial yang nyata.
Akibatnya, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk membangun koneksi yang lebih dalam dengan orang-orang di sekitar.
- Membentuk Kebiasaan Ritualistik
Bagi sebagian orang, menonton saat makan sudah menjadi ritual yang tak terpisahkan. Rasanya ada yang kurang jika makan tanpa tontonan.
Kebiasaan ini terbentuk karena otak mengasosiasikan makanan dengan hiburan. Seiring waktu, mereka mungkin kesulitan menikmati makanan tanpa layar. Namun, dengan sedikit usaha, kebiasaan ini bisa diubah agar lebih seimbang dan sehat.
Makan sambil menonton mungkin terasa menyenangkan, tetapi kebiasaan ini bisa berdampak pada pola makan dan kesehatan mental seseorang.
Jika kamu merasa sulit makan tanpa layar, mungkin saatnya mencoba menikmati makanan dengan lebih sadar. Siapa tahu, kamu bisa menemukan kembali kenikmatan sederhana dari setiap gigitan. (*)
Editor : Adetio Purtama