Meskipun seseorang sudah lama hadir dalam hidupmu, bukan berarti mereka layak berada di masa depanmu. Kadang, waktu yang dilalui bersama tidak sebanding dengan energi yang terkuras karenanya.
Persahabatan seharusnya saling menguatkan, bukan membuat lelah secara emosional.
Jika kamu mulai merasa terjebak dalam hubungan yang sepihak, bisa jadi ini saatnya untuk melepaskan, tanpa drama, tanpa penjelasan panjang. Cukup perlahan mundur.
Dikutip dari laman My Inner Creative pada Kamis (3/7/25), berikut ini tujuh jenis teman yang sebaiknya kamu pertimbangkan untuk lepaskan demi kesehatan mental dan pertumbuhan pribadi.
1. Teman yang Hanya Datang Saat Butuh
Mereka menghilang begitu lama, lalu tiba-tiba muncul saat sedang butuh sesuatu, entah curhat, bantuan, atau pertolongan darurat.
Setelah itu? Hilang lagi. Kamu bukan tempat pelampiasan sementara. Teman sejati saling hadir, bukan hanya saat terpuruk.
2. Teman yang Tak Pernah Senang Melihatmu Bahagia
Saat kamu berbagi kabar baik, respons mereka datar, atau malah membandingkan dengan pencapaiannya sendiri.
Mereka mungkin tak mengucapkan kata-kata negatif, tapi kamu bisa merasakan aura tidak nyaman.
3. Teman yang Selalu Jadi Korban
Dalam setiap cerita, mereka selalu jadi pihak yang disakiti. Semua orang salah, kecuali mereka. Mereka tidak butuh saran, hanya butuh panggung.
Jika kamu mencoba menyarankan perubahan, mereka akan bilang kamu tidak pengertian. Padahal, bertumbuh butuh kejujuran, bukan hanya validasi.
4. Teman yang Tidak Menghargai Waktu
Mereka sering membatalkan janji secara mendadak, datang terlambat tanpa permisi, atau hanya menghubungimu saat butuh sesuatu.
Sikap seperti ini bukan tentang lupa, tapi tentang tidak menghargai waktu dan usahamu. Waktu terlalu berharga untuk dihabiskan pada orang yang tak menghargainya.
5. Teman yang Hanya Suka Versi Dirimu yang Dulu
Ketika kamu mulai berubah ke arah yang lebih sehat, menjaga batas, bilang tidak, atau memilih ketenangan—mereka justru merasa terganggu.
Mereka merindukan versi dirimu yang bisa dikendalikan. Tapi kamu tidak wajib kembali menjadi pribadi yang menyakiti diri demi menyenangkan mereka.
6. Teman yang Hidup dari Gosip dan Drama
Mereka selalu punya cerita tentang orang lain, penuh konflik dan keributan. Awalnya seru, tapi lama-lama melelahkan. Ini bukan keintiman, tapi kekacauan terselubung.
Jika seseorang suka bergosip padamu, besar kemungkinan mereka juga bergosip tentangmu.
7. Teman yang Tidak Pernah Bertanya Kabar
Kamu mendengarkan, memberi saran, hadir di saat sulit. Tapi coba ingat kembali: kapan terakhir kali mereka bertanya, “Bagaimana kabarmu?”
Jika hubungan selalu satu arah, itu bukan persahabatan. Itu adalah kerja emosional yang menyamar jadi loyalitas.
Bukan berarti kamu menjadi egois saat menjauh dari orang yang membuatmu lelah. Justru itu bentuk mencintai diri sendiri.
Seiring bertambahnya usia, lingkaranmu mungkin mengecil, dan itu wajar. Kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. (*)
Editor : Hendra Efison