Rafiul Refdi & Imam Syaputra, Padang—
Salah satunya dirasakan Rahul, 23, fotografer muda yang sempat vakum sejak 2022 setelah menjual kameranya. Kini, berkat tren foto jogging, ia kembali menekuni dunia yang pernah ia tinggalkan. Melalui aplikasi FotoYou, Rahul bisa memasarkan hasil jepretannya secara online.
“Biasanya sehari dapat 10 foto. Ada yang beli satu atau dua momen terbaik. Dengan sistem aplikasi, lebih aman karena pembayaran langsung via transfer,” jelas Rahul sembari menunjukkan koleksi fotonya.
Dari Hobi jadi Cuan Tambahan
Tidak hanya Rahul, Rama Praja Setia, 25, juga merasakan geliat serupa. Awalnya hanya menekuni hobi memotret wisuda dan jalan-jalan, Rama kini mampu mengantongi penghasilan hingga Rp 300 ribu per hari, terutama pada akhir pekan.
“Paling ramai Sabtu-Minggu. Kalau lagi bagus bisa 10 pelanggan lebih. Jadi lumayan untuk tambahan pemasukan,” ujarnya.
Namun, Rama juga menyadari adanya tantangan dalam bisnis ini. Persaingan harga antar fotografer kerap menekan pendapatan. “Kalau ada yang banting harga, otomatis penghasilan menurun. Jadi sebenarnya harus ada kesepahaman antar sesama fotografer,” tambahnya.
Dari Lapangan Jogging ke Iven Resmi
Sementara itu, Yoga, 29, fotografer dengan pengalaman lima tahun, melihat tren foto jogging lebih dari sekadar tren sesaat. Ia bahkan pernah mendapat kesempatan menjadi dokumentasi resmi dalam sebuah lomba lari.
“Kalau hanya jual foto per lembar, rata-rata saya dapat lima foto per hari dengan harga Rp 35 ribu per foto. Tapi kalau bisa masuk ke iven resmi, omzetnya jauh lebih besar,” ungkap Yoga.
Menurut Yoga, kebutuhan foto jogging semakin tinggi seiring budaya masyarakat yang semakin dekat dengan media sosial. Dokumentasi olahraga, khususnya lari, kini dianggap bagian dari gaya hidup. “Orang butuh foto bagus buat dipamerkan di Instagram. Itu yang bikin pasar foto jogging tumbuh,” katanya.
Baca Juga: PT Semen Padang Resmikan Tiga Ruang Kelas Baru dari Sepablock di SD Semen Padang School
Antara Tren dan Masa Depan
Meski potensial, para fotografer sepakat bahwa tren ini tidak bisa dijadikan tumpuan utama. Rama menegaskan pentingnya diversifikasi bisnis.
“Jangan hanya bergantung pada jogging. Kita harus adaptif. Bisa masuk ke wedding, event korporasi, atau branding. Tapi tren ini cukup jadi batu loncatan yang bagus,” katanya.
Dengan harga foto bervariasi, mulai Rp 35 ribu per lembar hingga ratusan ribu untuk paket, tren foto jogging terbukti menjadi pintu masuk baru bagi fotografer muda untuk menyalurkan kreativitas sekaligus menambah penghasilan.
Yoga menutup dengan pesan sederhana namun penuh makna bagi para fotografer pemula. “Tipsnya sederhana. Mulai dulu, jangan takut belajar, dan terus tingkatkan skill. Kalau konsisten, bisnis ini bisa lebih dari sekadar tren musiman,” jelasnya.
Tren ini menunjukkan bahwa GOR H. Agus Salim kini tidak hanya menjadi ruang olahraga, tetapi juga wadah lahirnya inovasi kreatif anak muda. Dari sebuah lapangan lari, tumbuh harapan baru bagi industri fotografi lokal. (*)
Editor : Adetio Purtama