Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Ungkap Penyebab Utamanya

j
Penulis: jpg❯
Karyawan berada di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin (4/6). (SALMAN TOYIBI/JPG)
Karyawan berada di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin (4/6). (SALMAN TOYIBI/JPG)

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM - Menurut Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara, gejolak di pasar keuangan menjadi sinyal bahwa persoalan tata kelola Makan Bergizi Gratis belum terselesaikan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran investor terhadap tata kelola program unggulan pemerintah tersebut.

Pada perdagangan kemarin (4/6), rupiah menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, menurut Bank Indonesia (BI), pelemahan tersebut dipicu kombinasi faktor eksternal dan kebutuhan valas domestik yang masih tinggi.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah (Timteng). Kondisi tersebut menghambat prospek perdamaian dan mendorong harga minyak dunia tetap tinggi.

Advertisement

“Situasi itu meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging,” kata Destry di Jakarta kemarin (4/6).

Selain faktor global, lanjut Destry, permintaan dolar AS di dalam negeri juga masih cukup besar. Kebutuhan tersebut sejalan dengan periode repatriasi dividen perusahaan serta pembayaran utang luar negeri.

Menghadapi tekanan tersebut, BI memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intensitas intervensi akan ditingkatkan agar mekanisme pasar tetap berjalan baik dan pergerakan rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi nasional.

Advertisement

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kondisi fiskal dan fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga. Menurut Purbaya, pelemahan rupiah memang berdampak terhadap pembayaran utang pemerintah yang berdenominasi dolar AS. Meski kupon obligasi bersifat tetap (fixed), nilai pembayaran dalam rupiah akan meningkat ketika kurs domestik melemah.

Namun, dia menegaskan, posisi kurs saat ini masih berada dalam rentang simulasi yang pernah dihitung pemerintah. Saat penyusunan APBN, asumsi nilai tukar dipatok di kisaran Rp 16.500 per dolar AS. Setelah terjadi berbagai dinamika global, termasuk lonjakan harga energi, pemerintah telah melakukan sejumlah simulasi lanjutan.

Meski enggan menyebutkan batas atas skenario yang digunakan pemerintah, Purbaya menyatakan, nilai fundamental rupiah sesungguhnya berada di level yang lebih kuat dibanding posisi saat ini.

“Pemerintah juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara di pasar. Nilainya diperkirakan sudah mencapai lebih dari Rp 8 triliun,” katanya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Ekonom Soroti Kejanggalan Data BPS, Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Dinilai Perlu Dikaji Ulang

Ekonom Soroti Kejanggalan Data BPS, Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Dinilai Perlu Dikaji Ulang

Aliansi Ekonom Indonesia mempertanyakan data pertumbuhan ekonomi 5,61 persen versi BPS dan mengingatkan risiko pelemahan Rupiah hingga fiskal RI.

Masyarat Desa tetap Terimbas Kenaikan Dolar

Masyarat Desa tetap Terimbas Kenaikan Dolar

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal rakyat desa tak pakai dolar menuai kritik karena pelemahan rupiah dinilai tetap berdampak ke masyarakat.

Dollar dan Lapar

Dollar dan Lapar

Pelemahan rupiah tetap berdampak ke rakyat desa lewat kenaikan harga pangan, biaya logistik, dan turunnya daya beli masyarakat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer