Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kue Talam Kembali Populer di Padang, Jajanan Tradisional yang Bangkit di Tengah Tren Modern

Mengki Kurniawan • Sabtu, 8 November 2025 | 16:41 WIB

Ikil Saputra menjajakan Kue Talam dagangannya di kawasan Jl. Raya Air Dingin, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. (Foto: Mengki Kurniawan/Padek)
Ikil Saputra menjajakan Kue Talam dagangannya di kawasan Jl. Raya Air Dingin, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. (Foto: Mengki Kurniawan/Padek)
PADEK.JAWAPOS.COM-Di tengah gempuran kuliner modern, Kue Talam, jajanan tradisional otentik Indonesia, tetap bertahan sebagai ikon kuliner yang dicintai masyarakat.

Kue berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula ini menghadirkan perpaduan rasa manis dan gurih dengan tekstur lembut dan kenyal, menjadi simbol keakraban dalam budaya keluarga Nusantara.

Nama talam sendiri berasal dari loyang bundar tempat kue ini dikukus. Hidangan klasik ini diyakini telah berusia lebih dari lima abad dan dikenal luas di berbagai daerah, termasuk di Kota Padang, Sumatera Barat.

Meski resep dasarnya sama, setiap daerah menghadirkan cita rasa berbeda, seperti talam pandan, talam ubi kayu, hingga versi inovatif seperti talam abon.

Salah satu penjaga warisan kuliner ini adalah Ikil Saputra, 32, warga Air Dingin, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, yang empat bulan terakhir fokus menekuni usaha keluarga menjual Kue Talam.

Usaha ini diwarisinya dari sang nenek yang telah berjualan sejak awal tahun 2000-an di Pasar Lubuk Buaya.

Ikil, yang sempat bekerja di gudang pabrik makanan ringan selama dua tahun, memutuskan berhenti dan melanjutkan tradisi keluarganya.

“Beban kerja di pabrik itu berat, sementara kue ini peninggalan Nenek. Sayang kalau tidak dilestarikan,” ujarnya, Sabtu (8/11/2025).

Kini, setiap pagi sejak pukul 07.00 WIB, Ikil berkeliling menggunakan becak motor di kawasan Simpang Lampu Merah Anak Air hingga Jalan Raya Air Dingin.

Dalam waktu sekitar enam jam, dagangannya habis terjual. Ia menjual Kue Talam seharga Rp3.000 per potong, menghasilkan omzet Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per hari, dengan keuntungan bersih sekitar Rp150 ribu.

Ikil menawarkan dua varian utama — talam ubi kayu dan talam tepung beras.

Dari keduanya, talam ubi kayu menjadi primadona dengan rasio penjualan dua banding satu.

Namun, ia juga menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku dan cuaca ekstrem yang memengaruhi jumlah pembeli.

“Harga ubi kayu dan tepung sering naik. Kalau panas terik, pembeli juga berkurang,” tuturnya.

Menariknya, usaha Kue Talam Ikil sempat viral di media sosial dan meningkatkan jumlah pelanggan.

Saat ditemui, ia didampingi sang adik, Novri Muhammad Rizky, 14, yang tengah belajar berdagang.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Ikil untuk menjaga warisan keluarga dan masa depan kedua anaknya yang masih kecil.

Melalui ketekunan dan semangat melestarikan tradisi, Ikil Saputra bukan hanya menjual jajanan, tapi juga menghadirkan kisah tentang ketulusan, keluarga, dan cinta terhadap warisan kuliner Nusantara yang tak lekang oleh waktu.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#manis gurih #resep turun temurun #jajanan tradisional #kue talam #Warisan nenek #jajanan padang