Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pembangunan Tanpa Kehidupan di Tanah Minang

Tandri Eka Putra
Penulis: Tandri Eka Putra❯
Muhammad Farhan Shafly, S.AP Mahasiswa Magister Administrasi Publik Unand
Muhammad Farhan Shafly, S.AP Mahasiswa Magister Administrasi Publik Unand

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM- Pembangunan infrastruktur di Sumatera Barat terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Jalan-jalan desa mulai di aspal, jembatan diperbaiki, akses antar wilayah dibuka lebih luas, hingga berbagai fasilitas umum dibangun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat. 

Pemerintah meyakini bahwa pembangunan infrastruktur merupakan kunci utama mempercepat pembangunan daerah.

Namun di tengah masifnya pembangunan fisik tersebut, muncul satu kenyataan yang sulit
dibantah: semakin banyak pemuda nagari tetap memilih pergi merantau.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan fisik belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan mendasar masyarakat, terutama terkait lapangan pekerjaan dan masa depan generasi muda di kampung halaman.

Hari ini banyak nagari memiliki jalan yang lebih bagus dibanding beberapa tahun lalu, tetapi aktivitas ekonomi masyarakat tidak berkembang signifikan. 

Advertisement

Infrastruktur memang mempermudah mobilitas, namun belum tentu mampu menciptakan kesempatan kerja yang memadai bagi masyarakat lokal. Akibatnya, pembangunan hanya menghadirkan perubahan fisik tanpa diikuti perubahan kesejahteraan yang nyata.

Fenomena ini dapat dianalisis menggunakan teori pembangunan manusia (human development) yang dipopulerkan Mahbub ul Haq dan dikembangkan dalam konsep UNDP.

Dalam teori ini, pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi dari peningkatan kualitas hidup manusia, seperti pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, dan kemampuan masyarakat mengembangkan potensinya.

Artinya, keberhasilan pembangunan bukan sekadar tentang banyaknya proyek yang dibangun, melainkan apakah pembangunan tersebut benar-benar mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Di banyak daerah di Sumatera Barat, pembangunan masih cenderung berfokus pada infrastruktur fisik. Jalan dibangun, kantor diperbesar, taman diperindah, tetapi pengembangan
ekonomi produktif masyarakat sering belum menjadi prioritas utama.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Dialektika Seni: Kritik, Kebebasan, dan Pembangunan

Dialektika Seni: Kritik, Kebebasan, dan Pembangunan

Polemik film Pesta Babi memantik kembali perdebatan lama tentang seni, kritik sosial, kebebasan, dan pembangunan.

Irman Gusman: Green Economy Jadi Arah Baru Pembangunan Daerah

Irman Gusman: Green Economy Jadi Arah Baru Pembangunan Daerah

Irman Gusman dorong green economy dan green democracy jadi arah baru pembangunan daerah berkelanjutan berbasis SDM.

Sumbar Belum Punya Perda Ekonomi Sirkular, Pakar Soroti Lambatnya Regulasi Hijau

Sumbar Belum Punya Perda Ekonomi Sirkular, Pakar Soroti Lambatnya Regulasi Hijau

Sumbar dinilai tertinggal dalam regulasi ekonomi hijau dan sirkular. Seminar Nasional Unand menyoroti belum adanya Perda khusus.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer