Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Merasa Kehilangan Semangat setelah Berbagi Kabar Baik ke Keluarga? Ini Penjelasan Psikologisnya

Adetio Purtama • Minggu, 1 Februari 2026 | 15:46 WIB

Ilustrasi kumpul keluarga.
Ilustrasi kumpul keluarga.
PADEK.JAWAPOS.COM—Pernahkah Anda merasakan perasaan hampa setelah membagikan kabar baik kepada anggota keluarga? Anda tidak sendirian, dan tidak, perasaan itu bukan sekadar khayalan.

Ini merupakan fenomena yang canggung namun ternyata cukup umum, ketika kabar menggembirakan yang dibagikan—alih-alih disambut dengan perayaan—justru memunculkan rasa kehilangan semangat.

Dikutip dari laman Geediting, Minggu (1/2/2026) barangkali hal tersebut terasa lebih dekat dengan kehidupan kita daripada yang kita sadari.

  1. Bukan Anda, Melainkan Mereka

Terkadang, membagikan kabar gembira kepada keluarga justru menimbulkan perasaan rendah yang tak terduga, alih-alih kegembiraan seperti yang diharapkan.

Penyebabnya—tidak selalu ada pada diri Anda. Bisa jadi, itu ada pada mereka. Hal ini berkaitan dengan pemahaman bahwa kurangnya respons antusias sering kali lebih mencerminkan kondisi batin atau situasi mereka saat itu, bukan nilai dari pencapaian Anda.

  1. Respons terhadap Stres

Pernahkah Anda merasakan tusukan kekecewaan ketika kabar baik disambut dengan respons yang datar? Respons semacam ini bisa jadi berkaitan dengan penyebab yang tak terduga—stres.

Penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres yang tinggi dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk mengekspresikan kegembiraan dan antusiasme. Oleh karena itu, ketika anggota keluarga terkesan meremehkan kabar besar Anda, mungkin mereka sedang bergulat dengan stres, kecemasan, atau kelelahan emosional.

  1. Mengurai Dinamika Keluarga

Dinamika keluarga sering kali rumit dan dapat memengaruhi cara kabar baik diterima. Jika pencapaian Anda tidak mendapatkan respons yang layak, mungkin inilah saatnya menelaah dinamika tersebut dengan lebih saksama.

Sebagai contoh, adanya persaingan terselubung, kebiasaan membandingkan, atau bidang minat yang saling tumpang tindih dapat membuat perayaan atas keberhasilan Anda menjadi hambar.

  1. Kualitas Hubungan

Kualitas hubungan sering kali memengaruhi respons yang kita terima saat membagikan kabar baik. Ikatan keluarga, khususnya, bisa sangat kompleks, dipengaruhi oleh sejarah, harapan, dan kadang persaingan.

Sebagai contoh, jika Anda memiliki hubungan yang renggang dengan seorang kerabat, respons dingin mereka mungkin tidak mencerminkan pencapaian Anda, melainkan kondisi hubungan tersebut. Pemahaman ini dapat membantu mencegah reaksi semacam itu merusak rasa bahagia atau kemenangan Anda.

  1. Validasi Diri adalah yang Utama

Hal paling krusial untuk diingat ketika membagikan keberhasilan dan merasa kehilangan semangat akibat respons yang lemah adalah ini: validasi diri adalah kunci utama.

Mengharapkan respons orang lain selalu sepadan dengan kegembiraan Anda dapat berujung pada kekecewaan, tetapi mengakui pencapaian secara mandiri dapat memperkuat rasa bangga Anda.

Ketika Anda mengendalikan narasi atas pencapaian sendiri dan memvalidasinya secara mandiri, Anda mengurangi kuasa orang lain atas kebahagiaan Anda.

Energi, usaha, dan dedikasi yang Anda curahkan dalam meraih kemenangan adalah milik Anda untuk dirayakan, dengan atau tanpa pengakuan eksternal.

Memahami labirin reaksi emosional bukanlah hal yang mudah. Benar bahwa dinamika keluarga dan kondisi individu dapat memengaruhi respons yang kita terima saat membagikan kabar baik. Kita semua mendambakan pengakuan, perayaan, dan kebahagiaan bersama ketika meraih sesuatu yang bermakna. (*)

Editor : Adetio Purtama
#Kabar baik #kehilangan semangat #keluarga #psikologi