Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Meriah: Dialektika Trump dan Xi

Tandri Eka Putra
Penulis: Tandri Eka Putra❯
Meriah: Dialektika Trump dan Xi
Meriah: Dialektika Trump dan Xi

Advertisement

 

Oleh Shofwan Karim

(Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM- Pertemuan dua presiden besar dunia—Donald Trump dan Xi Jinping—pada 14 Mei di Beijing, menjadi tontonan meriahyang disiarkan ke seluruh penjuru dunia. Gema musikkebangsaan, barisan kehormatan militer, hingga sorakan anak-anak sekolah dengan bendera Cina dan Amerika, menghadirkan panggung yang seolah menegaskan kehangatandiplomasi. Namun di balik gemerlap itu, tersimpan masalah-masalah sulit yang tak mudah diselesaikan. Pertemuan inibukan sekadar pesta simbolik, melainkan dialektika kuasayang menyingkap paradoks hubungan dua negara adidaya.

Xi Jinping tampil sebagai pemimpin yang stabil, memegangtiga jabatan sekaligus: Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Sekretaris Jenderal Partai Komunis, dan Ketua Komisi MiliterPusat. Ia adalah wajah tunggal dari kekuatan politik, ekonomi, dan militer Tiongkok. Di sisi lain, Donald Trump, Presidenke-47 Amerika Serikat, hadir dengan aura dominasi politiksayap kanan “Make America Great Again” (MAGA). Ia membawa serta 30 CEO perusahaan multinasional, simbolbahwa kepentingan bisnis dan industri menjadi bagian takterpisahkan dari diplomasi Amerika.

Kedua pemimpin saling memuji kebesaran bangsa masing-masing. Trump bahkan menyebut Xi sebagai “pemimpinhebat” dan menggambarkan Tiongkok sebagai negeri yang indah. Pernyataan ini kontras dengan retorika kerasnya di masa lalu, ketika ia menuduh Tiongkok “merobek Amerika” dan menyebut Covid-19 sebagai “virus Tiongkok”. Di siniterlihat paradoks politik: seorang presiden yang membangunmerek politik dengan kritik tajam terhadap Tiongkok, kiniharus meneguk manisnya sambutan Beijing demi membukapintu negosiasi.

Namun, di balik senyum diplomasi, terdapat isu-isu yang sulitditawar. Pertama, soal Iran. Trump berharap Beijing dapatmembantu menengahi krisis di Selat Hormuz yang mengguncang ekonomi global. Hubungan panjang Cina dengan Teheran, ditambah posisinya sebagai mitra dagangterbesar Iran, memberi Xi kartu tawar yang kuat. Jika Beijing mampu mendorong Iran ke meja perundingan, makapengaruhnya terhadap geopolitik energi akan semakin besar. Tetapi, sebagaimana hukum diplomasi, setiap bantuan pastimenuntut imbalan.

Imbalan itu jelas: Taiwan. Bagi Tiongkok, reunifikasi Taiwan adalah “harga hidup” yang tak bisa ditawar. Xi menegaskanbahwa penjualan senjata AS ke Taiwan dapat membawakedua negara ke dalam konflik. Di sisi lain, bagi Amerika, Taiwan adalah pilar strategis di Asia Pasifik. Tanpa Taiwan, kekuatan AS di kawasan akan melemah. Maka, barter antaraIran dan Taiwan bukanlah transaksi sederhana, melainkanpertarungan eksistensial yang menyangkut wajah kuasamasing-masing negara. Seperti kata Sun Tzu dalam The Art of War: “Supreme excellence consists in breaking the enemy’s resistance without fighting.” Diplomasi Xi adalah senimenundukkan lawan tanpa peluru, dengan kartu tawar yang lebih halus namun tajam.

Kedua, soal perdagangan. Sejak perang dagang memuncakdengan tarif saling melampaui 100%, dunia menyaksikanbetapa rapuhnya gencatan senjata ekonomi. Kini, Trump membawa delegasi bisnis yang terdiri dari tokoh-tokoh besarseperti Elon Musk, Tim Cook, dan Jensen Huang. Kehadiranmereka menandakan bahwa AS ingin membuka lebih banyakakses ke pasar Cina. Xi, di sisi lain, menunjukkan betapadunia bergantung pada manufaktur dan teknologi Tiongkok: sepertiga barang dunia, 90% mineral tanah jarang, dan 60–80% panel surya serta kendaraan listrik diproduksi di negeri itu. Dengan angka-angka ini, Tiongkok menegaskan posisinyasebagai pusat manufaktur global.

Ketiga, soal citra dan legitimasi. Pertemuan ini tak hanyadiplomasi, melainkan tayang “power”. Beijing menampilkanXi: pemimpin global yang stabil. Berbeda dengan Trump yang sering dianggap berubah-ubah. Pemimpin dunia lain yang bersemangat menjalin kesepakatan dengan Beijing memperkuat narasi bahwa keseimbangan kekuatan global tengah bergeser. “Kebangkitan Tiongkok tak terhindarkan kiniterjadi di depan mata,” ujar John Delury, pengamat hubunganAS–Cina. Diksi ini mengandung nuansa historis: dunia sedangmenyaksikan transisi dari hegemoni tunggal menujumultipolaritas. Gema Machiavelli dalam The Prince terasarelevan: “It is better to be feared than loved, if you cannot be both.” Xi ingin dihormati, Trump ingin ditakuti; keduanyamemainkan peran ganda antara cinta dan ketakutan di panggung dunia.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Xi ke Trump: Jangan Main-main soal Taiwan, Jika Salah Penanganan, Tiongkok-AS akan Berkonflik Langsung

Xi ke Trump: Jangan Main-main soal Taiwan, Jika Salah Penanganan, Tiongkok-AS akan Berkonflik Langsung

Xi Jinping menegaskan Taiwan bukan negara merdeka saat menerima Donald Trump di Beijing di tengah meningkatnya tensi geopolitik kawasan Asia.

Multipolaritas: Jalan dari Beijing

Multipolaritas: Jalan dari Beijing

Putin-Xi di Beijing tegaskan poros baru dunia multipolar. Iran melihat peluang, Ukraina tetap jadi bayang konflik global.

Pesta Simbolik: Strategi Bertahan Dua Imperium

Pesta Simbolik: Strategi Bertahan Dua Imperium

Trump-Xi di Beijing jadi panggung diplomasi simbolik di tengah rivalitas Iran, Taiwan, dagang, dan masa depan geopolitik dunia.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer