Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Multipolaritas: Jalan dari Beijing

Tandri Eka Putra
Penulis: Tandri Eka Putra❯
Multipolaritas: Jalan dari Beijing (dok. Shofwan Karim)
Multipolaritas: Jalan dari Beijing (dok. Shofwan Karim)

Advertisement

 

Oleh Shofwan Karim

(Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)

Advertisement

 

PADEK.JAWAPOS.COM- PERTEMUAN Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 19–20 Mei 2026 bukan sekadar agenda diplomatik rutin. Ia adalah sebuahpanggung simbolik yang menandai pergeseran arus sejarah. Dua kekuatan besar Eurasia bertemu, memperingati 25 tahun Perjanjian Persahabatan Sino-Rusia, sekaligus meneguhkan arah baru dalam geopolitik global.

Secara umum ikhtisar pertemuan ini berupa seremonial 25 tahun persahabatan, energi, geopolitik Timur Tengah,  tentu konflik Rusia dan Ukraina, dan tatanan baru dunia.

Advertisement

Persahabatan, Simfoni Kekuasaan

Sejak penandatanganan Perjanjian Persahabatan tahun 2001, hubungan Rusia–China telah berkembang dari sekadar kerjasama pragmatis menjadi kemitraan strategis yang mendalam.

Perayaan seperempat abad ini bukan hanya nostalgia, melainkan pernyataan bahwa persahabatan mereka adalah fondasi bagi tatanan dunia multipolar. Xi dan Putin menegaskan bahwa dunia tidak lagi bisa dikendalikan oleh satu hegemoni, melainkan harus ditopang oleh keseimbangan kekuatan.

Putin datang dengan delegasi energi, membawa tawaran besar: kelanjutan proyek pipa gas Power of Siberia 2. Energi di sini bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen geopolitik. Gas Rusia yang mengalir ke China adalah simbol interdependensi strategis. Dalam bahasa lebih substantif, ia adalah “nadi Eurasia” yang menghubungkan dua peradaban besar kawasan Timur dan Barat yang dinamis tetapi fluktuatif.

Iran dan Ukraina

Bagi Iran, kesepakatan energi Rusia–China memiliki resonansi mendalam. Iran, yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran sanksi Barat, melihat peluang untuk memperkuat posisinya. Jika Rusia dan China semakin solid dalam energi, maka Iran dapat menjadi simpul tambahan dalam jaringan energi Timur. Dengan cadangan minyak dan gas yang melimpah, Iran berpotensi masuk dalam orbit kerjasama ini, memperkuat blok anti-hegemonik yang menantangdominasi Barat.

Di seberang iu, bayangan Ukraina tetap menghantui. Invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022 telah menjadi luka geopolitik yang belum sembuh. Pertemuan Putin–Xi di Beijing memberi pesan bahwa Rusia tidak terisolasi. China, meski berhati-hati, tetap membuka ruang bagi Rusia untuk tampil sebagai mitrasah.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pesta Simbolik: Strategi Bertahan Dua Imperium

Pesta Simbolik: Strategi Bertahan Dua Imperium

Trump-Xi di Beijing jadi panggung diplomasi simbolik di tengah rivalitas Iran, Taiwan, dagang, dan masa depan geopolitik dunia.

Meriah: Dialektika Trump dan Xi

Meriah: Dialektika Trump dan Xi

Pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing menyorot rivalitas AS-Tiongkok, Taiwan, Iran, perdagangan, dan geopolitik global.

Xi ke Trump: Jangan Main-main soal Taiwan, Jika Salah Penanganan, Tiongkok-AS akan Berkonflik Langsung

Xi ke Trump: Jangan Main-main soal Taiwan, Jika Salah Penanganan, Tiongkok-AS akan Berkonflik Langsung

Xi Jinping menegaskan Taiwan bukan negara merdeka saat menerima Donald Trump di Beijing di tengah meningkatnya tensi geopolitik kawasan Asia.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer