Bagi banyak orang yang pernah tumbuh dalam keterbatasan finansial, kebiasaan hemat yang dipelajari sejak kecil kerap melekat hingga dewasa, bahkan ketika situasi keuangan sudah jauh lebih baik.
Kebiasaan yang lahir dari keterbatasan ekonomi tidak semata-mata soal uang, melainkan juga tentang rasa aman, kehati-hatian, dan ketakutan akan kekurangan yang pernah dialami. Kebiasaan ini sering kali berjalan secara otomatis, bahkan tanpa disadari oleh pelakunya.
Dalam konteks sosial, perilaku semacam ini banyak ditemukan pada individu yang tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Kebiasaan menghemat, menggunakan ulang barang, hingga memaksimalkan fungsi setiap benda menjadi bagian dari pendidikan informal di rumah.
Dikutip dari laman Geediting, Senin (9/2/2026) berikut sejumlah kebiasaan yang kerap melekat pada orang yang pernah tumbuh dalam kondisi ekonomi sulit, meskipun secara finansial telah mengalami peningkatan:
- Menggunakan kembali barang sekali pakai
Kantong plastik, wadah makanan, hingga botol bekas sering kali dicuci dan digunakan kembali. Bagi sebagian orang, membuang barang yang masih bisa dipakai menimbulkan rasa bersalah. - Sangat berhati-hati dalam membelanjakan uang
Kebiasaan membandingkan harga, menunggu diskon, dan berpikir panjang sebelum membeli sesuatu tetap dilakukan, meski sebenarnya kemampuan finansial sudah mencukupi. - Memprioritaskan fungsi dibandingkan estetika
Barang dinilai dari kegunaannya, bukan dari merek atau tampilannya. Selama masih berfungsi, barang tersebut dianggap layak digunakan. - Sulit merasa benar-benar aman secara finansial
Pengalaman kekurangan di masa lalu membentuk kewaspadaan berlebih. Tabungan dan cadangan dana menjadi hal yang sangat penting, bahkan terkadang disimpan dalam jumlah berlebihan. - Nilai emosional pada kebiasaan kecil sehari-hari
Aktivitas sederhana seperti mencuci peralatan dapur atau menyimpan sisa makanan bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga menjadi refleksi dari pelajaran hidup yang pernah dijalani.
Kebiasaan-kebiasaan ini kerap bertahan karena terbentuk dalam periode penting kehidupan, terutama masa kanak-kanak dan remaja.
Psikolog menyebutnya sebagai memori perilaku, yakni respons otomatis yang tertanam lebih dalam daripada pertimbangan rasional.
Meski tidak selalu logis dalam konteks ekonomi saat ini, kebiasaan tersebut sering kali memberi rasa kontrol dan keamanan emosional. Bagi sebagian orang, kebiasaan itu bukan sesuatu yang perlu dihilangkan, melainkan dipahami sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kemajuan finansial tidak selalu sejalan dengan perubahan cara berpikir. Beberapa pelajaran hidup, terutama yang lahir dari perjuangan, tetap bertahan dan membentuk karakter seseorang hingga jauh ke masa depan. (*)
Editor : Adetio Purtama