Jika Anda pernah meninggalkan sebuah percakapan dengan perasaan bingung, mempertanyakan apa yang sebenarnya baru saja terjadi, atau heran mengapa Anda justru dianggap bersalah padahal Andalah yang disakiti, bisa jadi Anda sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki kecenderungan narsistik.
Orang-orang seperti ini memiliki serangkaian ungkapan halus yang digunakan untuk menjaga diri mereka tetap tampak tidak bersalah, sembari membuat Anda meragukan realitas dan perasaan Anda sendiri.
Dikutip dari laman Geediting, Selasa (10/2/2026) berikut 9 ungkapan tersebut. Setelah Anda mengenalinya, Anda akan dapat mendeteksinya dengan mudah.
- “Saya minta maaf jika kamu merasa seperti itu”
Sekilas terdengar seperti permintaan maaf, tetapi sejatinya bukan. Ungkapan ini tidak mengakui kesalahan, melainkan menyiratkan bahwa masalah terletak pada perasaan korban, bukan pada tindakan pelaku.
- “Kamu terlalu sensitif”
Ungkapan ini mengalihkan fokus dari perilaku pelaku ke karakter korban. Alih-alih membahas kesalahan, korban diposisikan sebagai pihak yang berlebihan dalam bereaksi.
- “Itu bukan maksud saya”
Meskipun kesalahpahaman bisa terjadi, penggunaan frasa ini secara berulang menandakan penolakan untuk bertanggung jawab atas dampak dari ucapan yang menyakiti orang lain.
- “Kamu selalu mengungkit masa lalu”
Ungkapan ini bertujuan memutus hubungan antara kejadian saat ini dengan pola perilaku yang telah berulang, sehingga kesalahan terlihat seolah berdiri sendiri.
- “Saya hanya bercanda”
Kalimat ini sering digunakan sebagai tameng setelah melontarkan ucapan menyakitkan. Jika korban tersinggung, mereka justru dianggap tidak memiliki selera humor.
- “Tidak ada orang lain yang bermasalah dengan saya”
Pernyataan ini menyiratkan bahwa korbanlah satu-satunya yang bermasalah, sekaligus mengabaikan pengalaman dan perasaan korban yang sebenarnya sah.
- “Setelah semua yang saya lakukan untuk kamu”
Ungkapan ini merupakan bentuk manipulasi emosional, di mana kebaikan masa lalu dijadikan alasan untuk membenarkan perilaku buruk saat ini.
- “Kamu yang membuat saya melakukan itu”
Ini merupakan salah satu ungkapan paling mengkhawatirkan karena pelaku sepenuhnya melemparkan tanggung jawab atas tindakannya kepada orang lain.
- “Sepertinya saya tidak pernah melakukan apa pun dengan benar”
Alih-alih menyelesaikan masalah, pelaku memposisikan diri sebagai korban, sehingga korban justru merasa bersalah karena mengungkapkan keberatannya.
Mengenali ungkapan-ungkapan ini merupakan langkah awal yang penting. Tantangan berikutnya adalah menentukan sikap ketika menghadapinya. Seseorang yang enggan bertanggung jawab tidak dapat diubah dengan paksaan, tetapi respons dan batasan diri dapat dikendalikan.
Menetapkan batas yang jelas, menolak permintaan maaf semu, serta mempercayai perasaan sendiri merupakan langkah penting dalam menjaga hubungan yang sehat. Dalam relasi yang sehat, setiap individu mampu mengakui kesalahan tanpa harus memutarbalikkan keadaan. (*)
Editor : Adetio Purtama