Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kenali 8 Tanda Orang Terlalu Berpusat pada Diri Sendiri dalam Percakapan

Adetio Purtama • Selasa, 17 Februari 2026 | 11:04 WIB

Ilustrasi orang berdebat dalam diskusi.
Ilustrasi orang berdebat dalam diskusi.
PADEK.JAWAPOS.COM—Fenomena percakapan yang terasa “berubah arah” saat seseorang membagikan kabar baik ternyata bukan hal yang jarang terjadi. Dalam banyak situasi sosial, momen perayaan justru bergeser menjadi ajang orang lain membicarakan diri sendiri.

Pola komunikasi ini dinilai sebagai bentuk sikap terlalu berpusat pada diri sendiri (self-absorbed) yang kerap muncul secara halus.

Dikutip dari laman Geediting, Selasa (17/2/2026) berdasarkan uraian naratif yang beredar luas di berbagai platform pengembangan diri, terdapat sedikitnya delapan kalimat yang sering digunakan individu dengan kecenderungan tersebut ketika orang lain menyampaikan kabar menggembirakan.

Percakapan yang Berubah Arah

Ilustrasi sederhana menggambarkan seseorang yang baru saja memperoleh kontrak kerja besar dan membagikannya kepada rekan lama.

Alih-alih memberikan ucapan selamat, rekan tersebut justru mengalihkan pembicaraan pada pengalaman promosi dirinya di masa lalu, lengkap dengan tekanan dan kesulitan yang dialaminya.

Situasi semacam ini dinilai sebagai contoh bagaimana momen perayaan dapat berubah menjadi sesi curhat sepihak.

Delapan Kalimat yang Kerap Muncul

Berikut delapan kalimat yang disebut sering digunakan dan berdampak menggeser fokus percakapan:

  1. “Ah, itu belum seberapa, tunggu sampai kamu dengar apa yang terjadi pada saya.”
    Kalimat ini kerap menjadi pembuka untuk membandingkan pencapaian dan secara tidak langsung meremehkan kabar baik yang dibagikan.
  2. “Saya pernah mengalami hal yang sama, bahkan lebih buruk.”
    Bentuk adu nasib ini memindahkan fokus dari perayaan menjadi kompetisi pengalaman.
  3. “Saya tidak mungkin bisa melakukan itu karena saya terlalu sibuk dengan…”
    Respons ini sering kali menyiratkan bahwa pencapaian orang lain terjadi karena mereka memiliki lebih banyak waktu atau kemudahan.
  4. “Bagus, tapi apakah kamu sudah mempertimbangkan…”
    Alih-alih merayakan, lawan bicara langsung memberikan nasihat atau peringatan yang tidak diminta.
  5. “Saya kenal seseorang yang melakukan itu dan akhirnya gagal.”
    Kalimat bernada pesimistis ini dapat meredam antusiasme dan menggeser percakapan ke arah kekhawatiran.
  6. “Kamu beruntung sekali, saya berharap punya privilese seperti kamu.”
    Pernyataan ini berpotensi mengecilkan kerja keras seseorang dengan mengaitkannya semata-mata pada keberuntungan atau privilese.
  7. “Kalau saya, saya akan melakukannya dengan cara ini.”
    Ucapan ini muncul setelah keberhasilan diraih, tetapi fokusnya berubah menjadi bagaimana orang lain merasa bisa melakukannya dengan lebih baik.
  8. “Itu mengingatkan saya pada saat saya…”
    Setiap cerita dikaitkan kembali pada pengalaman pribadi sehingga percakapan tidak kembali ke topik awal.

Dampak Psikologis dalam Relasi Sosial

Baca Juga: Remaja 13 Tahun Hanyut di Sungai Liku Ditemukan Meninggal, SAR Tutup Operasi Pencarian

Praktik komunikasi seperti ini dinilai dapat menghambat terciptanya koneksi yang tulus. Momen berbagi kabar baik sejatinya menjadi ruang untuk membangun dukungan emosional dan mempererat relasi. Namun, ketika percakapan terus-menerus dialihkan, perasaan tidak dihargai dapat muncul.

Dalam konteks hubungan sosial, kemampuan mendengarkan secara aktif dan memberi ruang bagi orang lain untuk menikmati pencapaiannya menjadi keterampilan penting. Perbandingan yang berlebihan disebut dapat merusak kebahagiaan kedua belah pihak.

Narasi tersebut juga menekankan bahwa kesadaran diri menjadi kunci. Setiap orang berpotensi terjebak dalam pola komunikasi yang terlalu berpusat pada diri sendiri, terutama saat merasa tidak diperhatikan atau kurang dihargai.

Pentingnya Kesadaran dan Empati

Alih-alih langsung mengaitkan cerita orang lain dengan pengalaman pribadi, respons sederhana seperti “Itu luar biasa, ceritakan lebih banyak” dinilai lebih mendukung terciptanya komunikasi yang sehat.

Memberi ruang bagi orang lain untuk bersinar tanpa merasa tersaingi merupakan bagian dari empati dalam interaksi sosial. Dengan demikian, perayaan kecil maupun besar dapat benar-benar menjadi momen kebersamaan, bukan ajang perbandingan. (*)

Editor : Adetio Purtama
#orang #tanda #percakapan #psikologi #diri sendiri