Sebuah tongkrongan di trotoar tepi jalan menjadi awal perjalanan District. Dari tempat sederhana di kawasan Simpang Yarsi, Belakang Balok, Bukittinggi, sejumlah anak muda yang memiliki lingkungan dan pertemanan yang sama mulai menemukan ruang untuk berekspresi melalui musik.
Laporan ADETIO PURTAMA, Padang--
Saat itu, beberapa orang dalam skena musik tengah merancang sebuah acara bernama Bukittinggi Syndrome 2012. Dari lingkungan dan pertemanan tersebut, District kemudian terbentuk dan menjadi wadah bagi para personelnya untuk belajar, berbagi kehidupan, sekaligus bermusik.
Kepada Padang Ekspres, para personel bercerita, masa-masa awal, District memiliki enam personel, yakni Sansan dan Cikiak sebagai vokalis, Dian dan Adek pada gitar, Tolek pada bas, serta Tokek sebagai drummer.
Baca Juga: Hutan Adat dan Mitigasi Bencana jadi Fokus Pengabdian UNP di Desa Saureinu Mentawai
Hubungan yang semakin erat di antara personel membuat mereka memiliki arah yang sama. District kemudian tidak hanya menjadi sebuah nama band, tetapi juga ruang ekspresi yang mereka harapkan dapat tetap bersinergi, baik melalui musik maupun kehidupan di luar musik.
Kini, formasi District diisi Cikiak sebagai vokalis, Dian dan Adek pada gitar, Tolek pada bas, serta Tokek atau Trondol pada drum.
Mereka mengatakan, nama District dipilih karena dianggap memiliki karakter yang mudah diingat. Bagi para personelnya, nama tersebut juga memiliki kesan eksklusif, fleksibel, dan multitafsir.
Baca Juga: Nagari Mabit Camp 2026 Digelar, Bank Nagari Bekali Pelajar Literasi Wakaf dan Perencanaan Haji
District bagi mereka dapat menggambarkan kehidupan dalam sebuah wilayah yang di dalamnya terdapat berbagai unsur, mulai dari suku, adat, budaya, agama, bahasa, tata krama, persoalan individu maupun kelompok hingga konflik.
Setiap orang di dalamnya memiliki alur cerita dan versinya masing-masing. Dari pemaknaan tersebut, District memilih untuk bergelut dalam musik keras yang mereka sebut sebagai District Hardcore.
Pada awal perjalanan, mereka memilih hardcore sebagai pijakan bermusik. Keterbatasan akses informasi pada masa itu turut membentuk proses pencarian musik mereka. Internet belum semudah sekarang, sementara warnet menjadi salah satu media komunikasi dan sumber informasi yang tersedia.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumbar Sabtu 5 September 2026, Cek Kondisi 7 Kota
Dari sana, pengaruh sejumlah band hardcore mulai masuk ke dalam referensi bermusik mereka. Nama-nama seperti Biohazard, Terror, Hatebreed, Comeback Kid, Under18, Straight Answer, hingga Burgerkill menjadi bagian dari musik yang mereka dengarkan dan pelajari.
Namun, ketika itu District mengaku belum terlalu memahami perbedaan berbagai subgenre dalam musik hardcore.
“Lucunya, kami hanya memainkan apa yang ingin kami mainkan dan sing a long dalam hardcore,” demikian gambaran District mengenai fase awal perjalanan musik mereka.
Baca Juga: Kadis Kebudayaan Sumbar Syaiful Bahri Berpulang, Mahyeldi Kenang Dedikasinya
Proses tersebut membuat District berkembang secara organik. Mereka memainkan musik yang mereka sukai, belajar bersama, dan membangun karakter melalui pengalaman yang dijalani sebagai sebuah kelompok.
Sepanjang perjalanan bermusik, District telah menghasilkan sejumlah rilisan yang menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Untuk kategori single, District mencatat empat lagu, yaitu Busuk, AKB, My Way, dan Let's Revolt. Sementara itu, mereka memiliki sejumlah materi EP, yakni Netizen, Escape Room, Melati Street, dan Each Other.
Baca Juga: KAI Buka Rekrutmen 2026, Ini Modus Penipuan yang Wajib Diwaspadai
Lagu-lagu District tidak selalu berasal dari satu sumber. Sebagian karya lahir dari pengalaman pribadi para personel, pertemanan, maupun cerita yang mereka dengar dari lingkungan sekitar.
Kritikan, rasa geram, tawa, duka, hingga luka juga menjadi bagian yang kemudian menemukan bentuknya melalui musik.
Dengan demikian, karya District menjadi rekaman dari berbagai pengalaman yang mereka temui, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari lingkungan dan pertemanan dalam skena musik.
Baca Juga: Stanis Idumbo Bawa AS Monaco Comeback, PSG Kalah 1-2 di Parc des Princes
EP Hilang, Perjalanan Harus Diulang
Perjalanan District sebagai band tidak selalu berjalan mulus. Salah satu pengalaman yang paling berat justru berkaitan dengan materi rekaman mereka.
District pernah kehilangan EP karena hard disk tempat menyimpan materi tersebut mengalami kerusakan akibat terbakar atau “gosong”.
Kondisi tersebut membuat mereka harus menghadapi tantangan untuk mengulang kembali materi yang telah hilang. Di tengah kesibukan dan tuntutan untuk bertahan hidup dengan keadaan masing-masing personel, proses mengulang karya menjadi tantangan tersendiri.
Baca Juga: Real Betis 1-0 Real Madrid: Parrott Hentikan Start Sempurna Los Blancos, Mbappe Gagal Penalti
Bagi band yang tumbuh dari lingkungan kolektif, persoalan waktu dan kehidupan sehari-hari menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan bermusik.
Di sisi lain, District juga telah merasakan pengalaman tampil di berbagai daerah. Mereka pernah manggung di sejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Sumatera Barat, Medan, Pekanbaru, dan Jambi.
Menariknya, District mendapat tawaran tampil dari skena black metal di Medan. Dalam kesempatan tersebut, mereka menjadi salah satu band pembuka tur band hardcore asal Kanada, Gravemaker.
Baca Juga: Lemhannas Goes to Campus Unand, Ace Hasan: Teknologi Harus Dikendalikan untuk Kepentingan Bangsa
Pengalaman tersebut mempertemukan District dengan banyak pelaku musik dan komunitas. Mereka juga bertemu dengan SOG atau Sekumpulan Orang Gila dari Malaysia serta berbagai band lainnya.
Bagi District, perjalanan tersebut bukan hanya mengenai tampil di atas panggung. Pertemuan secara langsung dengan teman, kerabat, komunitas, dan pelaku skena dari daerah lain memberikan pengalaman baru sekaligus memperluas jaringan pertemanan mereka.
Gigs Sumbar dan Semangat Kolektif
Mengenai perkembangan gigs di Sumatera Barat, District melihat bahwa jumlah acara musik cukup banyak dan solid. Namun, pelaksanaannya juga menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait ruang atau space, pengurusan, keterbatasan waktu, serta persoalan finansial yang harus ditanggung secara kolektif.
Baca Juga: Jalan Pasir Jambak Padang Rampung Pekan Depan, Drainase Tunggul Hitam Desember
Bagi District, gigs pada dasarnya lahir dari semangat kolektif dalam satu wadah. Karena itu, hal yang paling penting bukan sekadar keberpihakan kepada musisi, melainkan bagaimana sesama pelaku dapat saling menghargai.
Semangat tersebut juga mereka kaitkan dengan perkembangan ekosistem musik secara keseluruhan. Menurut District, skena musik tidak hanya terdiri atas musisi. Di dalamnya terdapat banyak pelaku kreatif lain yang memiliki peran penting, seperti pembuat artwork, kreator video, kreator audio, produsen merchandise, media, zine, hingga pihak yang bergerak di bidang promosi, pemasaran daring dan luring, serta berbagai sektor kreatif lainnya.
Siapkan Rekaman Ulang, Album, dan Tur
District juga telah menyiapkan sejumlah agenda untuk perjalanan berikutnya. Salah satunya adalah merekam ulang sejumlah single lama yang pernah mereka keluarkan.
Baca Juga: Penerima Bantuan Pangan Payakumbuh Bertambah 392 KK, Kini 14.020 Keluarga
Selain itu, District berencana menggarap album Each Other. Rencana tur juga masuk dalam daftar proyek mereka ke depan. (*)
Editor : Adetio Purtama