Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

The Venyamin: Dari Padang ke Pestapora, Kisah Musisi yang Diproduseri Baskara ”Hindia”

Adetio Purtama • Sabtu, 27 September 2025 | 11:38 WIB

The Venyamin saat manggung di salah satu iven beberapa waktu lalu.
The Venyamin saat manggung di salah satu iven beberapa waktu lalu.
Kecintaan terhadap musik ternyata bisa tumbuh dari hal sederhana. Bagi The Venyamin, nama panggung seorang musisi asal Padang, benih cinta itu sudah hadir sejak kecil. Saat masih kanak-kanak, orangtuanya sering mengajaknya bernyanyi di berbagai acara. Dari kebiasaan itu, perlahan ia merasa musik bukan hanya hiburan, melainkan bagian dari hidupnya. Seperti apa kisahnya?

Laporan Adetio Purtama, Padang—

“Sejak kecil sebenarnya saya sudah cukup dekat dengan musik. Orangtua sering mengajak saya menyanyi di berbagai acara. Dari situ mungkin kecintaan terhadap musik mulai tumbuh. Waktu SD dan SMP saya juga sempat ikut berbagai ajang menyanyi. Tapi benar-benar mulai mendalami musik itu ketika SMA, saat mulai aktif ngeband,”

Itulah jawaban dari The Venyamin Ketika Padang Ekspres memberikan sejumlah pertanyaan tentang awal karir bermusiknya.

Kepada Padang Ekspres, ia menceritakan, perjalanan musikalnya pun berkembang seiring usia. Di masa remaja, ia tumbuh bersama lagu-lagu band Ungu yang kala itu begitu populer.

Namun saat SMA, perjumpaan dengan musik internasional justru memperluas cakrawalanya. Ia jatuh cinta pada Radiohead, band legendaris asal Inggris yang terkenal dengan gaya eksperimental dan lirik puitis.

“Vokalisnya, Thom Yorke, sangat menginspirasi saya. Sampai sekarang, terutama dalam karya solo saya sebagai The Venyamin, pengaruh Thom Yorke dan Radiohead masih sangat terasa,” ungkapnya.

Dari Happysoda ke The Venyamin

Secara profesional, karier musiknya dimulai sejak kuliah, sekitar tahun 2014. Ia tergabung dalam Happysoda, band yang hingga kini masih eksis sebagai homeband meski sedang rehat dari produksi karya baru. Namun ide-idenya yang lebih idealis membuatnya memutuskan untuk membuka jalur solo lewat nama The Venyamin.

“Awalnya memang tidak terlalu memikirkan pasar, tapi akhirnya saya sadar bahwa menyesuaikan diri juga adalah bagian dari perkembangan,” jelasnya.

The Venyamin memilih jalur rock sebagai identitas, meski di dalamnya ada campuran pop, elektronik, hingga eksperimental. Kebebasan untuk mengeksplorasi suara dan rasa, menurutnya, adalah alasan utama memilih jalur itu.

Hingga kini, ia sudah merilis 1 album bertajuk Relic in Religion dengan 8 lagu di dalamnya, serta 2 single: Gold Seekers dan Keramaian Yang Liar—yang merupakan kolaborasi bersama musisi terkenal, Baskara Putra ”Hindia”. Sebelumnya, saat bersama Happysoda, ia juga merilis mini album berisi 5 lagu.

Aksi panggung yang ditampilkan The Venyamin di salah satu iven.
Aksi panggung yang ditampilkan The Venyamin di salah satu iven.

Panggung Impian: Dari Padang ke Pestapora

Meski sering tampil di Padang, panggung paling berkesan justru datang ketika ia terpilih tampil di Pestapora 2024 di Jakarta. Ia berhasil naik ke panggung besar “Hingar Bingar” setelah menjuarai ajang IM3 Collabonation Talent Hunt. Dari ratusan peserta, hanya empat yang terpilih, dan The Venyamin salah satunya.

“Waktu itu saya bawa tim dari Padang dan Jakarta, total 12 orang. Rasanya luar biasa bisa tampil di depan penonton sebesar itu. Momen itu sangat tidak terlupakan,” katanya penuh semangat.

Kemenangan di ajang tersebut menghadirkan pengalaman berharga lainnya. Ia berkesempatan diproduseri langsung oleh Baskara Putra ”Hindia” Hasil kolaborasi itu melahirkan single Keramaian Yang Liar, yang mempertemukannya dengan nama besar di industri musik nasional.

Strategi Promosi dan Tantangan Digitalisasi

Dalam mempromosikan karyanya, The Venyamin memilih jalur digital. Semua lagunya dirilis di platform musik digital agar bisa didengar siapa saja. Ia juga aktif di media sosial, menggelar tur, hingga menciptakan panggung sendiri.

“Walaupun belum ada rilisan fisik, ke depannya, terutama untuk album kedua, saya pertimbangkan untuk merilis dalam bentuk fisik juga,” ujarnya.

Ia menyadari, di era digitalisasi, konsistensi adalah kunci. “Digitalisasi sangat membantu. Konsistensi di media sosial sangat penting, karena lewat platform digital, kita bisa memperkenalkan karya ke siapa saja tanpa harus berada di ibukota,” jelasnya.

Skena Musik Sumbar yang Semakin Hidup

Menurutnya, perkembangan musik di Sumatera Barat kini lebih baik dibanding sebelumnya. Dulu, ruang untuk musisi lokal yang punya karya sendiri masih terbatas. Kini, banyak media musik lokal hadir dengan program-program yang mendukung musisi, mulai dari gigs, talkshow, hingga kolaborasi.

“Saya melihatnya sudah makin hidup. Media-media musik terus bertumbuh, tapi yang terpenting adalah produktivitas dari para musisi itu sendiri. Kalau musisinya gak aktif, media pun akan kelelahan sendiri. Sekarang saya lihat, semangat berkarya makin tumbuh, dan saya berharap kita semua saling mendukung agar terus berkembang,” katanya optimis.

The Venyamin menjadi satu-satunya musisi asal Sumbar yang pernah diproduseri Baskara Putra "Hindia"
The Venyamin menjadi satu-satunya musisi asal Sumbar yang pernah diproduseri Baskara Putra "Hindia"

Menatap Masa Depan

Saat ini, ia tengah menyiapkan album kedua The Venyamin yang rencananya dirilis paling lambat Januari tahun depan. Selain itu, ia juga bersiap merilis single baru bersama Happysoda.

Harapannya sederhana namun penuh makna: agar musik dari Sumatera Barat bisa dikenal luas. “Saya ingin musik dari Padang harum namanya di seluruh Indonesia. Bahkan kalau bisa sampai internasional. Kita harus saling mendukung, agar bisa tumbuh dan sukses bersama,” pungkasnya. (*)

Editor : Adetio Purtama
#musisi #Baskara Putra Hindia #padang #The Venyamin #PestaPora