Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Saham Syariah dalam Pusaran Rupiah Tertekan

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Syafruddin Karimi.
Syafruddin Karimi.

Advertisement

Penulis : Syafruddin Karimi - Departemen Ekonomi Universitas Andalas

Pasar saham syariah Indonesia sedang menghadapi ujian penting. Tekanan rupiah tidak hanya mengguncang pasar valuta asing, tetapi juga menekan kepercayaan investor terhadap aset rupiah, termasuk saham-saham yang masuk kategori syariah.

Data Refinitiv menunjukkan USD/IDR berada di sekitar 17.460, sementara IHSG turun 1,98 persen ke level 6.723,320. Pada saat yang sama, Islamic Index melemah 11,627 poin ke 437,887.

Advertisement

Angka-angka ini memberi pesan jelas: pasar saham syariah tidak hidup dalam ruang steril. Ia tetap bergerak dalam ekosistem makro yang dipengaruhi kurs, suku bunga, arus modal, inflasi, dan persepsi risiko negara.

Banyak investor sering memahami saham syariah sebagai instrumen yang lebih aman karena lolos penyaringan syariah. Pemahaman ini perlu diluruskan. Kepatuhan syariah memastikan emiten tidak bergerak dalam bisnis yang dilarang dan memenuhi batas tertentu dalam struktur keuangannya.

Akan tetapi, kepatuhan syariah tidak menghapus risiko harga, risiko likuiditas, risiko pelemahan kurs, dan risiko penurunan laba. Saham halal tetap bisa turun jika pasar meragukan prospek bisnis, valuasi terlalu mahal, atau tekanan makro meningkat.

Advertisement

Rupiah menjadi variabel paling menentukan dalam situasi ini. Ketika rupiah melemah tajam, investor asing menghitung ulang imbal hasilnya dalam dolar AS.

Mereka tidak hanya melihat potensi kenaikan harga saham dalam rupiah, tetapi juga risiko kerugian kurs. Jika rupiah terus tertekan, kenaikan harga saham domestik bisa hilang ketika dikonversi ke dolar. Akibatnya, investor meminta premi risiko lebih tinggi atau mengurangi eksposur pada aset rupiah.

Tekanan rupiah juga langsung menyentuh fundamental emiten syariah. Perusahaan konsumsi, pangan, farmasi, manufaktur, dan peternakan menghadapi kenaikan biaya impor jika bahan baku, barang modal, atau energi terkait dolar AS.

Emiten yang memiliki liabilitas valuta asing juga menanggung beban lebih berat ketika rupiah melemah. Dalam kondisi seperti ini, pasar akan membedakan emiten yang memiliki pricing power, neraca sehat, arus kas kuat, dan pendapatan dolar dari emiten yang hanya bertahan karena sentimen sementara.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Ungkap Penyebab Utamanya

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Ungkap Penyebab Utamanya

Rupiah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS. BI menyebut tekanan berasal dari geopolitik global dan tingginya kebutuhan valas.

Ekonom Soroti Kejanggalan Data BPS, Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Dinilai Perlu Dikaji Ulang

Ekonom Soroti Kejanggalan Data BPS, Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Dinilai Perlu Dikaji Ulang

Aliansi Ekonom Indonesia mempertanyakan data pertumbuhan ekonomi 5,61 persen versi BPS dan mengingatkan risiko pelemahan Rupiah hingga fiskal RI.

Masyarat Desa tetap Terimbas Kenaikan Dolar

Masyarat Desa tetap Terimbas Kenaikan Dolar

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal rakyat desa tak pakai dolar menuai kritik karena pelemahan rupiah dinilai tetap berdampak ke masyarakat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer