Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Teknologi VR Kian Imersif, Pasar Game Virtual Diprediksi Tembus 60 Miliar Dolar AS pada 2030

Rafiul Refdi • Rabu, 22 Oktober 2025 | 13:14 WIB

 

Teknologi VR makin imersif dan terjangkau. Pasar game virtual diprediksi capai 60 miliar dolar AS pada 2030, dorong evolusi industri hiburan. (pexel)
Teknologi VR makin imersif dan terjangkau. Pasar game virtual diprediksi capai 60 miliar dolar AS pada 2030, dorong evolusi industri hiburan. (pexel)
PADEK.JAWAPOS.COM — Industri permainan digital memasuki babak baru dengan semakin matangnya teknologi virtual reality (VR).

Setelah satu dekade dianggap sebagai “teknologi masa depan”, VR kini tampil lebih ringan, terjangkau, dan imersif, menandai pergeseran besar dalam dunia hiburan interaktif.

Sejak kemunculan headset generasi awal seperti Oculus Rift pada pertengahan 2010-an, inovasi terus berlanjut.

Produk terbaru seperti Meta Quest 3, PlayStation VR2, dan Apple Vision Pro menunjukkan bahwa pasar VR telah berkembang menjadi ekosistem komersial aktif, bukan sekadar eksperimen teknologi.

Menurut laporan Newzoo dan Statista (2025), pasar global gim berbasis VR diperkirakan menembus 60 miliar dolar AS pada 2030, dua kali lipat dibanding lima tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan perangkat keras dan kualitas konten yang semakin realistis.

Selain visual dan audio, teknologi umpan balik haptik menjadi fokus utama pengembangan karena memungkinkan pemain merasakan getaran atau tekanan secara nyata.

Fitur ini memperkaya pengalaman bermain, terutama dalam gim bertema petualangan dan simulasi.

Sejumlah studio besar seperti Capcom, Ubisoft, dan Valve juga mulai mengadaptasi judul populer mereka ke format VR.

Resident Evil 4 VR Remake dan Half-Life: Alyx menjadi contoh sukses bagaimana VR mengubah interaksi antara pemain dan dunia digital.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Harga perangkat yang masih tinggi dan risiko motion sickness menjadi hambatan utama adopsi massal.

Baca Juga: Seleksi Dewan Pengawas Perumda Air Minum Padang 2023–2027, Delapan Peserta Lolos UKK

Produsen kini fokus meningkatkan refresh rate dan sistem pelacakan gerak agar lebih nyaman digunakan.

Analis TechCrunch menilai, masa depan VR tidak hanya berada di ranah gim. Integrasi dengan teknologi metaverse, AI, dan sensor biometrik akan menciptakan hiburan interaktif di mana pemain dapat benar-benar “hidup” dalam dunia digital.

Selain itu, konsep social VR seperti VRChat dan Horizon Worlds memperluas fungsi VR menjadi wadah interaksi sosial.

Pengguna dapat berkomunikasi dan beraktivitas bersama di ruang virtual, menciptakan komunitas digital baru yang lebih dinamis.

Bagi para pengembang, VR juga membuka disiplin baru dalam desain pengalaman imersif (immersive experience design), yang menuntut pemahaman terhadap ruang tiga dimensi dan interaksi fisik secara langsung.

Dengan perkembangan pesat ini, VR diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama industri gim masa depan, berdampingan dengan cloud gaming dan augmented reality (AR). Gabungan ketiganya diyakini akan menghadirkan pengalaman bermain yang lebih personal dan tanpa batas fisik.(CC5)

 

Editor : Hendra Efison
#virtual reality #VR gaming #industri game 2030 #Teknologi imersif #Meta Quest 3