Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengenal Musisi Si Leman: Hidupkan Mistik Lokal lewat Musik Multi-Genre

Adetio Purtama • Sabtu, 1 November 2025 | 09:35 WIB

Si Leman.
Si Leman.
DI balik sosok bertopeng yang kerap tampil misterius di atas panggung dan layar digital, tersimpan kisah panjang seorang anak muda Minang yang menjadikan musik sebagai jalan hidupnya. Dialah Si Leman, musisi independen yang berani menabrak batas-batas genre, mengangkat budaya dan bahasa Minangkabau ke panggung musik modern dengan gaya unik dan penuh karakter.

Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—

Segalanya bermula ketika Si Leman berusia 14 tahun, masa-masa sekolah menengah pertama di Bukittinggi. Kala itu, musik bukanlah ambisi besar, melainkan ketertarikan yang muncul dari kaset-kaset mp3 yang dijual di pasar.

“Pertama kali saya dengar Led Zeppelin, Black Sabbath, dan The Rolling Stones, langsung jatuh cinta. Dari situ saya mulai belajar gitar otodidak lewat YouTube, terutama channel Marty Schwartz,” katanya kepada Padang Ekspres.

Dari latihan harian itu, bakat bermusiknya kian terasah. Ia mulai bermain di berbagai festival musik SMA sebagai lead guitar, dan sejak itu tekadnya untuk hidup di dunia musik semakin kuat.

Asal Nama dan Identitas di Balik Topeng

Nama panggung “Si Leman” ternyata bukan sembarangan. Ia mengaku terinspirasi dari tokoh antagonis film Candu Baburu (A Dog’s Life), karya dosen ISI Padangpanjang yang dikenalkan oleh temannya.

“Saya suka karakter si Leman di film itu. Bahasa Minang yang dipakai khas sekali, seperti yang sering saya dengar waktu kecil dari orang tua di kampung,” jelasnya.

Dari situ, lahirlah persona Si Leman, bukan hanya sebagai nama panggung, tapi juga representasi karakter khas, misterius, dan sarat identitas Minangkabau.

“Nah kalau topeng yang saya pakai itu bukan terinspirasi dari band Sukatani, tapi lebih ke gaya hip-hop luar negeri seperti Wu-Tang Clan atau Hollywood Undead. Topeng bagi saya simbol misteri, identitas, dan sisi artistik dari Si Leman itu sendiri,” ujarnya.

Langkah Serius di Dunia Musik

Proyek musik profesional Si Leman dimulai pada Desember 2022 dengan merilis album “Carito Urang-Urang”, sebuah karya live folk-acoustic berisi 10 lagu. Ia melakukan semuanya sendiri, mulai dari penulisan lagu, rekaman, mixing, hingga promosi. “Semua karya saya sejauh ini murni D.I.Y (Do It Yourself),” katanya bangga.

Baca Juga: Pemko Padang dan Tokoh Lintas Agama Perkuat Pembinaan Karakter Generasi Muda

Album tersebut menjadi pijakan untuk karya berikutnya yang lebih eksperimental, yakni “Antu Nagari”, sebuah album dengan nuansa dark wave dan new wave yang menggabungkan lirik berbahasa Minang dan tema mistis khas budaya Minangkabau.

“Cerita-cerita rakyat tentang hantu Minang jarang diangkat. Saya ingin mengenalkannya lagi lewat musik, bukan sebagai kepercayaan, tapi sebagai bagian dari budaya yang harus tetap hidup,” tuturnya.

Musik Mistik, Lirik Klasik, dan Gelombang Elektronik

“Antu Nagari” memperlihatkan keberanian Si Leman dalam mencampurkan dunia mistik Minangkabau dengan sound elektronik retro era 70–80an. Ia mengakui, inspirasi soniknya banyak datang dari dark wave dan new wave.

“Saya suka suara-suaranya yang kelam tapi elegan. Saya padukan dengan lirik berbahasa Minang yang bercerita tentang hantu lokal, jadilah konsep yang unik,” jelasnya.

Namun, dalam single terbarunya seperti “Apak Ang Diang” dan “Stel Panuah”, Si Leman kembali berubah haluan ke gaya rap 90an dan 2000an, mempertegas bahwa proyek musiknya adalah multi-genre.

“Bagi saya, Si Leman itu proyek lintas genre. Tidak ada batasan. Musik saya bisa folk, dark wave, atau hip-hop, tergantung semesta inspirasinya,” ujarnya.

Bahasa Minang sebagai Jiwa Musik

Si Leman menegaskan, bahasa Minang bukan sekadar pilihan artistik, tapi identitas dan bentuk kebanggaan budaya.
“Saya orang Minang, dan bahasa asli saya Minang. Jadi wajar kalau saya berkarya dalam bahasa saya sendiri. Itu cara saya memperkenalkan kultur Minang ke masyarakat luas,” katanya.

Sejauh ini, ia telah menelurkan dua album berisi masing-masing 10 lagu dan dua single rap. Tantangan terbesar yang ia hadapi bukan pada teknis produksi, tetapi pada penerimaan publik.

“Yang paling berat itu menghadapi komentar netizen. Ada yang pro, ada yang kontra. Tapi bagi saya, karya ini cerminan masyarakat apa adanya, bukan dibuat-buat,” ujarnya.

Satu Panggung, Seribu Reaksi

Sepanjang kariernya, Si Leman baru tampil satu kali secara langsung, yaitu di acara Lapau Kurai Bukittinggi di Jakarta tahun 2023. “Reaksi penonton campur aduk. Ada yang suka, ada yang bingung. Tapi itu hal yang wajar karena musik saya memang tidak biasa, apalagi dengan lirik Minang dan konsep mistik,” kenangnya.

Meski begitu, ia tetap optimistis terhadap perkembangan musik di Sumatera Barat. “Gigs di Sumbar sudah lumayan ramai kalau lihat dari media sosial. Cuma saya belum bisa datang langsung karena di perantauan,” ujarnya.

Pandangan tentang Dunia Musik Digital dan Masa Depan

Bagi Si Leman, era digital telah mengubah total cara musisi berjuang. “Sekarang semua bisa lewat HP. Kita bisa rilis lagu sendiri, promosi sendiri, dan langsung dapet feedback. Dulu harus lewat label, radio, atau TV,” jelasnya.

Namun, ia tetap menganggap rilisan fisik seperti kaset atau piringan hitam masih penting. “Rilisan fisik itu sesuatu yang bisa dimiliki fans. Kalau cuma digital, kita nggak punya kenangan fisiknya. Tapi sejauh ini belum bisa bikin karena biaya,” katanya sambil tertawa.

Menjelang akhir 2025, Si Leman siap merilis single “Nomor Satu” pada 31 Oktober 2025, yang menjadi pembuka untuk album hip-hop barunya. “Saya akan rilis single satu atau dua bulan sekali sampai terkumpul sepuluh lagu untuk album hip-hop ini,” ungkapnya.

Baginya, masa depan musik Sumbar ada di tangan generasi yang berani tampil dengan identitas sendiri. “Yang paling dibutuhkan itu karakter dan konsistensi. Banyak yang jago, tapi belum punya ciri khas. Kita punya budaya dan bahasa yang kuat. Kalau dikemas dengan baik, itu bisa jadi kekuatan besar,” pungkasnya. (*)

Editor : Adetio Purtama
#musisi #mistik #Si Leman