Di sudut kecil kamar kosnya, di antara tumpukan draf puisi dan catatan pendek yang disimpan dalam telepon genggam, Andip menemukan sesuatu yang tidak pernah ia sangka bakal mengantarnya menjadi penyanyi profesional. Musik, baginya, bukan sekadar bunyi-bunyian yang dipadukan menjadi harmoni, tetapi media curahan perasaan yang selama ini hanya tersimpan dalam catatan pribadi.
Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—
Dorongan kuat itu datang dari dua orang yang paling dekat, Boy Candra dan Pramoedya—dua nama yang menjadi fondasi awal perjalanan kreatifnya.
Boy Candra, penulis yang dekat dengannya, berkali-kali mengatakan bahwa draf puisi dan curahan hati itu terlalu sayang untuk dibiarkan diam. Menurutnya, tulisan-tulisan tersebut layak diolah menjadi sebuah karya musik.
Sementara Pramoedya, teman sejak SMP yang kini menjadi music director dalam proyek-proyek solonya, membantu mengarahkan warna musik yang selama ini belum terlalu ia dalami. “Bersyukur di dekat saya ada orang-orang hebat yang selalu support saya,” kata Andip kepada Padang Ekspres.
Perjalanan profesionalnya sebagai penyanyi dimulai pada November 2024. Saat itu, ia merilis single perdananya yang berjudul “Romansa Sepulang Kerja”. Dari titik itulah, ia mulai mantap menyebut dirinya sebagai musisi profesional, meskipun proses panjang di baliknya dimulai jauh sebelum itu, dari catatan-catatan sunyi yang akhirnya menemukan bentuk.
Meski tumbuh dan berkembang di tengah ekosistem musik yang beragam, Andip memilih untuk tidak menunjuk satu sosok solois maupun band tertentu sebagai inspirasi utama.
Baginya, semua karya musik, baik dari musisi besar maupun musisi lokal, memiliki nilai tersendiri. “Sebagai pengkarya saya harus mendalami setiap garapan dan selalu bertanya pada orang sekitar saya. Sekarang lagi suka mendengar The Cure, Sakanation, dan beberapa musisi Padang,” ujarnya.
Pengaruh itu tentu hadir dalam karya-karyanya, meskipun ia tetap berkomitmen menghadirkan warna yang berbeda. Andip mencoba mencampurkan berbagai referensi tanpa kehilangan kepribadian musiknya sendiri.
Komitmen itu tercermin dari pilihan genre yang ia usung dalam proyek solonya, yakni pop, city pop, hingga pop alternatif. Warna-warna yang lebih ringan di telinga, meski ia sendiri mengakui bahwa sebagai mantan pendengar musik underground, adaptasi menuju musik pop bukan hal mudah.
“Butuh banyak latihan dan diskusi dengan Pramoedya dan teman-teman musisi,” tuturnya.
Di luar menjadi solois, Andip juga aktif sebagai vokalis band bernama Stevunk yang mengusung genre punk. Perbedaan genre itu justru ia anggap sebagai ruang kejujuran yang berbeda.
Jika lewat proyek solo ia mengekspresikan sisi personal, maka melalui Stevunk ia mewakili keresahan kolektif dan potret kehidupan sosial. “Kejujuran bermusik itu sedang aku wujudkan dalam dua proyek tersebut,” katanya.
Kesibukan mengelola dua peran ini tidak membuatnya kesulitan. Komunikasi digital yang serba mudah menjadi kunci. “Tinggal di-selang-seling saja. Hari ini bahas project solo sama Pramoedya, nanti telepon teman-teman Stevunk,” ucapnya.
Karya-karya yang sudah lahir dari tangan Andip sejauh ini meliputi tiga single. Di antaranya “Romansa Sepulang Kerja”, “Aku Paham Itulah Jarak”, dan “Bertaruh”. Sementara bersama Stevunk, ia telah merilis “Batu dari Neraka” dan kini tengah mengerjakan dua single baru berjudul “Balada di Celah Kota” dan “Sudahi Menghancurkan”.
Di balik proses kreatifnya, tantangan terbesar justru datang dari kenyataan bahwa ia harus membagi waktu antara pekerjaan, latihan, proses kreatif, hingga membangun relasi.
“Saya harus bekerja untuk bahan bakar karya. Ekosistem musik di Sumbar juga harus bisa menghidupi musisi agar semua bisa fokus berkarya,” harapnya.
Sejauh ini, panggung yang pernah ia jajal baru satu, yakni di So.Fast Creative, sementara Stevunk dijadwalkan tampil di Hulu-Hilir Club pada 20 Desember mendatang. “Saat ini saya ingin fokus berkarya dulu,” ujar Andip.
Perkembangan teknologi menurutnya menjadi kemudahan besar. Media sosial dan platform digital adalah jembatan utama untuk memperkenalkan diri, sekaligus ruang untuk bertemu pendengar baru.
Meski demikian, ia berpandangan bahwa rilisan fisik kini bukan lagi kewajiban. Musisi bisa memilih apakah ingin memproduksi kaset atau piringan hitam atau tidak, tergantung kebutuhan dan visi mereka masing-masing.
Soal gigs dan skena musik di Sumbar, pandangannya cukup optimistis. Ia melihat geliat musisi lokal semakin hidup, rilisan-rilisan baru semakin sering muncul, dan panggung-panggung kecil mulai membuka ruang bagi musisi independen maupun underground.
“Yang penting gigs dan acara harus kita support dan bisa memenuhi kolom media sosial agar lebih hidup tiap minggu,” jelasnya.
Baca Juga: Bupati Eka Putra Tinjau Pengungsian di Gunung Bungsu, Salurkan Bantuan Sembako dan Genset
Namun, ia tidak menutup mata bahwa masih banyak PR besar. Untuk dapat menembus pasar nasional, menurutnya, musisi Sumatera Barat harus lebih dulu dicintai di kampung sendiri. “Sumbar harus melirik musisinya sendiri. Kalau ekosistem musik hidup setiap detiknya, nasional pasti melirik,” katanya.
Harapan Andip terhadap dunia musik Sumbar sederhana tetapi penuh makna, agar semakin stabil, semakin hidup, dan memungkinkan musisi menghidupi dirinya lewat karya.
Sementara untuk proyek terdekat, ia tengah menyiapkan single keempat untuk solo kariernya. Di saat yang sama, Stevunk bersiap masuk proses mixing untuk dua single terbaru. “Doakan ya, bang,” ujarnya. (*)
Editor : Adetio Purtama