Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perjalanan Idol Group, Ginga Space: Melawan Monoton, Hadirkan Warna Baru di Skena Idol

Adetio Purtama • Sabtu, 3 Januari 2026 | 10:31 WIB

Para personel Idol Group, Ginga Space.
Para personel Idol Group, Ginga Space.
Di tengah arus utama musik populer yang kian seragam, sekelompok anak muda di Sumatera Barat memilih melangkah dengan jalur berbeda. Mereka menamai diri Ginga Space, sebuah idol group yang lahir dari kegelisahan, pertemuan tak terencana, dan mimpi untuk “terbang” melampaui batas.

Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—

Ginga Space resmi terbentuk pada 13 Mei 2023. Bukan dari audisi besar atau perekrutan formal, melainkan dari proses yang sederhana dan organik, bermula dari pertemuan di berbagai iven jejepangan.

“Prosesnya itu dari iven ke iven sih, terutama iven jejepangan. Dari situ ketemu, ngobrol, terus berkumpullah semua member,” kata Astronot Operation Team Ginga Space, Chodief Hadidi kepada Padang Ekspres.

Saat itu, kata Chodief, belum ada wadah idol group dengan konsep yang mereka bayangkan. Dari kekosongan itulah Ginga Space lahir, dengan semangat yang cenderung spontan namun penuh keyakinan. “Karena belum ada, ya akhirnya bikin sendiri,” ujarnya.

Nama Ginga Space dipilih bukan tanpa makna. Ginga berasal dari bahasa Jepang yang berarti galaksi, sementara space berarti luar angkasa. Filosofi ini menggambarkan harapan besar grup tersebut. “Maknanya grup ini akan terus terbang, terus berkembang, sampai sejauh luar angkasa,” jelasnya.

Berbeda dengan kebanyakan idol group yang identik dengan satu pola musik tertentu, Ginga Space justru sengaja mengambil jarak dari pakem yang sudah mapan. Mereka ingin menghadirkan warna baru di dunia idol, khususnya di Sumatera Barat.

“Untuk genre, kita memang pengen beda dari idol grup pada umumnya. Biar ngasih warna baru aja di skena musik dan dunia idol,” katanya.

Jika berbicara pengaruh, Chodief tak menampik bahwa AKB48 menjadi referensi besar, sebagaimana hampir semua idol group di dunia. Namun, benang merah Ginga Space justru lebih dekat dengan Babyraids, idol underground asal Jepang.

“Babyraids itu idol underground dan punya market sendiri. Itu yang jadi benang merah kita,” ungkapnya.

Idol Group Ginga Space saat tampil di salah satu iven di Fabriek Padang beberapa waktu lalu.
Idol Group Ginga Space saat tampil di salah satu iven di Fabriek Padang beberapa waktu lalu.

Sementara itu, kolaborasi dengan band beraliran metal pada single kedua Ginga Space bukan berarti mereka terpengaruh Babymetal. Menurut Chodief, kolaborasi tersebut murni karena latar belakang personel band yang mayoritas berasal dari skena metal. “Vibes Ginga Space tetap nggak hilang,” tegasnya.

Hingga kini, Ginga Space telah merilis dua lagu. Meski demikian, mereka sebenarnya telah menyiapkan sekitar 10 materi lagu untuk satu album penuh. “Doain aja ya, semoga album bisa cepat selesai,” kata Chodief.

Proses kreatif lagu-lagu Ginga Space dilakukan secara kolektif. Ide dan konsep digodok bersama antara manajemen dan para member, tanpa jarak yang kaku. “Kita bikin bareng-bareng aja. Diskusi antara manajemen dan member,” ujarnya.

Di tengah era digital, Ginga Space juga mengikuti perubahan zaman. Platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook menjadi ruang utama mereka untuk promosi dan membangun basis pendengar. Namun, soal rilisan fisik, Chodief mengakui relevansinya kini kian berkurang.

“Kalau sekarang, menurut kami itu sudah tidak terlalu worth it. Banyak penikmat musik lebih memilih platform digital,” katanya. Meski begitu, ia tetap menilai karya fisik memiliki nilai tersendiri sebagai bentuk dokumentasi perjalanan musik.

Berbicara tentang skena musik Sumatera Barat, Chodief menilai kondisinya sebenarnya cukup sehat. Banyak musisi lokal yang melakukan gebrakan dan berani bereksperimen.

Ia juga menyoroti peran 3AM Studio yang disebutnya konsisten mendukung proses kreatif Ginga Space. “Tapi memang Sumbar masih terkesan monoton. Harapannya ke depan ada lebih banyak event besar, dan musisi lokal juga ditonjolkan, bukan cuma artis nasional,” ujarnya.

Dalam perjalanan panggung, Ginga Space telah tampil di berbagai acara. Namun, momen paling berkesan bagi mereka adalah saat tampil di Festival Wara Wiri. “Itu stage terbesar yang pernah kita injak sejauh ini,” katanya.

Tantangan terbesar Ginga Space, menurut Chodief, justru datang dari pemahaman masyarakat terhadap seni yang masih terbatas, terlebih dengan konsep idol yang berbeda dari kebiasaan lokal. “Lingkup seni di Sumbar masih awam, apalagi kita bawa genre dan konsep yang lumayan beda,” ujarnya.

Photo
Photo

Meski demikian, Ginga Space tak kehilangan arah. Mereka terus menyiapkan proyek album dan bercita-cita menggelar konser solo suatu hari nanti.

“Harapan ke depan, bisa rilis lagu-lagu selanjutnya, menyelesaikan proyek yang tertunda, dan didengarkan oleh lebih banyak penikmat musik,” tutup Chodief. (*)

Editor : Adetio Purtama
#monoton #melawan #skena #Idol Group #Ginga Space #sumbar #padang #idol #warna baru