Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SD Negeri 10 Bandar Buat, Warna yang Menemani Pubertas

Novitri Selvia • Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:15 WIB
Dita Indah Permata Sari, S.Pd, GURU SD NEGERI 10 BANDAR BUAT
Dita Indah Permata Sari, S.Pd, GURU SD NEGERI 10 BANDAR BUAT

PADEK.JAWAPOS.COM-Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, aku selalu berdiri di depan cermin kecil di kamar. Aku menatap pantulan wajahku, kulitku sawo matang, rambutku keriting mengembang seperti awan yang menolak diatur.

Tapi ada satu hal yang selalu membuatku tersenyum: bandana warna-warni yang menempel di kepalaku. Bandana itu bukan barang mahal. Aku menjahitnya sendiri dari potongan kain perca yang aku kumpulkan.

Setiap helai punya cerita: ada yang berasal dari daster lama mama, ada pula yang aku minta dari tetanggaku, seorang penjahit. Tiap hari, aku memilih warna yang berbeda. 

Namun, di balik warna-warna itu, ada masa yang tak selalu cerah.
Aku mulai merasa tubuhku berubah. Aku merasa malu, bingung, juga takut. Aku tak tahu harus bicara pada siapa.

Di kelas, teman-teman perempuanku mulai membicarakan hal-hal yang tak kupahami: tentang haid pertama. Tentang perasaan yang tiba-tiba campur aduk.

Sampai suatu hari, saat pelajaran olahraga, aku hampir menangis. Kami sedang latihan lari keliling lapangan bersama pak Zul, guru olahraga yang terkenal tegas tapi perhatian.

Di tengah-tengah lari, dadaku terasa nyeri dan nafasku tak teratur. Aku berhenti di pinggir lapangan, menunduk malu karena teman-temanku sudah jauh di depan. Pak Zul mendekat dan berkata lembut, “Kamu nggak apa-apa, Dita?”

Aku menggeleng cepat, takut dikira lemah. Tapi beliau hanya tersenyum, “Kamu tahu, tubuhmu sedang tumbuh. Kamu nggak harus memaksakan diri. Yang penting kamu belajar mengenal dirimu sendiri.”

Kata-katanya menenangkan. Saat itu juga aku sadar, perubahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Malamnya, aku duduk di kamar sambil memegang bandana berwarna biru langit yang baru saja kujahit.

Aku menatap cermin dan berkata pelan pada diri sendiri, “Ini aku, Ayi. Aku sedang tumbuh. Dan pubertas itu bukan hal yang memalukan.”

Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah dengan bandana ungu, warna yang paling kusuka. Di kelas, teman sebangkuku, Ica, memujiku, “Bandanamu bagus banget! Kamu selalu kelihatan ceria.”

Aku tersenyum kecil. Mereka mungkin hanya melihat warna di kepalaku, tapi bagiku, bandana itu lebih dari sekadar hiasan. Ia adalah penanda setiap langkah perubahan dalam diriku, penanda keberanian untuk menerima tubuh dan hatiku yang sedang belajar remaja.

Seiring waktu, aku mulai memahami banyak hal. Tentang cara menjaga kebersihan, cara merawat kulitku yang sering kusam karena panas matahari, juga cara menghadapi perasaan yang kadang tiba-tiba berubah tanpa alasan.

Pubertas ternyata bukan hanya soal fisik, tapi juga tentang belajar mengenali emosi sendiri. Setiap kali aku merasa minder, aku akan menatap bandanaku yang tergantung di dinding.

Warnanya beragam, seperti perjalanan hidupku yang tak selalu sama setiap hari. Ada hari yang kelabu, tapi esoknya bisa kembali cerah.

Suatu pagi setelah jam olahraga, pak Zul menegurku dengan senyum, “Esok hari bandana warna apa, Dita?”

“Kuning, pak,” jawabku tegas. “Kata orang warna kuning bikin semangat.”

“Bagus!!” jawab beliau. “Kamu memang pantas jadi warna apa pun. Karena orang yang berani jadi dirinya sendiri itu sudah memancarkan cahaya.”

Sejak hari itu, aku tak lagi takut dengan perubahan. Aku belajar bahwa menjadi perempuan bukanlah sesuatu yang harus disesali, melainkan dirayakan, seperti mengganti warna bandana setiap hari.(Dita Indah Permata Sari, S.Pd, Guru SDN 10 Bandar Buat)

 

Editor : Novitri Selvia
#pubertas #SD Negeri 10 Bandar Buat #Dita Indah Permata Sari