Sehari-hari, Subur dan istrinya bekerja sebagai pemulung di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
Ia mengaku sulit menyekolahkan anaknya hingga jenjang lebih tinggi karena keterbatasan ekonomi. Namun, kehadiran program Sekolah Rakyat membuka peluang baru bagi keluarganya.
“Alhamdulillah, kita bersyukur. Anak satu-satunya ini punya keinginan maju dan lanjut kuliah. Kami sebagai orang tua tinggal dukung semampunya,” ujar Subur saat ditemui di Bantar Gebang, pekan ini.
Subur menuturkan, sejak bersekolah di Sekolah Rakyat, Jumaroh tampak lebih bahagia dan semangat belajar. Ia kerap mendengar cerita anaknya tentang kegiatan dan fasilitas sekolah yang membuatnya betah.
“Katanya, di sana banyak teman dan kegiatan. Ya syukurlah kalau dia senang sekolah,” ujarnya.
Meski jarang bertemu karena Jumaroh tinggal di asrama, Subur tetap mendukung sepenuhnya. Ia menilai keputusan anaknya untuk mandiri dan fokus belajar sebagai langkah penting bagi masa depannya.
“Sekarang rumah jadi sepi, tapi tidak apa-apa. Yang penting dia punya semangat dan tujuan. Kami bangga,” ucapnya.
Subur juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo atas hadirnya program Sekolah Rakyat yang memberikan kesempatan pendidikan bagi keluarga berpenghasilan rendah.
“Dulu saya pikir paling mentok bisa sekolah sampai SMA. Tapi sekarang ada harapan sampai kuliah. Terima kasih kepada Bapak Prabowo yang bantu anak-anak seperti Jumaroh,” katanya.
Program Sekolah Rakyat menjadi salah satu upaya pemerintah dalam membuka akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Melalui dukungan orang tua dan masyarakat, program ini diharapkan dapat membantu memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan generasi muda Indonesia.(r)
Editor : Heri Sugiarto