Dalam orasinya, Tito menegaskan bahwa kekuatan global kini tidak lagi ditentukan oleh militer, melainkan oleh ekonomi, budaya, dan pengetahuan.
“Banyak hal kini diselesaikan bukan dengan kekuatan militer, tapi melalui ekonomi, perdagangan, sosial, dan budaya. Pertarungan yang paling menentukan saat ini adalah pertarungan ekonomi,” ujarnya.
Tito menjelaskan, dalam tatanan dunia baru, negara yang mampu memproduksi barang dan jasa secara masif serta menguasai rantai pasok global akan memegang kendali terhadap ekonomi dunia.
Ia mengutip pemikiran Prof. Sait Yilmaz dalam buku State, Power, and Hegemony yang menyebut empat faktor utama kekuatan ekonomi: jumlah tenaga kerja besar, sumber daya alam melimpah, wilayah luas, dan posisi geografis strategis.
“Indonesia berada di jalur vital dunia. Jika kita mampu memanfaatkannya dengan baik, posisi ini dapat memengaruhi ekonomi negara lain,” tegasnya.
Tito menilai, hanya beberapa negara yang memenuhi keempat faktor tersebut—China, India, Amerika Serikat, Rusia, dan Indonesia. Ia optimistis Indonesia dapat menjadi kekuatan ekonomi keempat dunia pada 2045, dengan catatan penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi prioritas.
“Negara itu maju bukan karena sumber daya alam, tapi karena SDM-nya. Bonus demografi Indonesia sebesar 68,95 persen harus diarahkan melalui pendidikan agar menjadi kekuatan produktif,” katanya.
Tito mencontohkan Singapura di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew yang berhasil menjadi negara maju berkat investasi besar di bidang pendidikan.
Ia menilai kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 melalui program pendidikan rakyat, seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan beasiswa kedokteran.
Ia juga mendorong perguruan tinggi agar tidak sekadar menjadi menara gading, tetapi berperan aktif sebagai penggerak inovasi dan pengembangan SDM.
“Perguruan tinggi harus bertransformasi. Dunia berubah cepat, dan kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus jadi pemain utama dalam tatanan global baru,” kata Tito.
Dosen Hukum Internasional Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Triyana Yohanes, menilai pandangan Tito relevan dengan dinamika global saat ini.
“Tito menghadirkan narasi strategis berbasis konstruktivisme yang sejalan dengan tantangan politik internasional modern,” ujarnya.
Menurut Triyana, orasi Tito dapat menjadi landasan konseptual bagi penguatan posisi Indonesia di kancah internasional melalui peningkatan SDM, penguasaan teknologi, serta tata kelola pemerintahan yang bersih.
“Pemerintahan yang visioner dan bebas korupsi adalah prasyarat bagi Indonesia menjadi kekuatan dominan pada 2045,” pungkasnya.(*)
Editor : Hendra Efison