Tanpa dasar ilmiah, kebijakan berisiko gagal karena hanya bersifat coba-coba.
“Teori yang tidak diterjemahkan ke kebijakan hanya akan menjadi wacana akademik. Sebaliknya, kebijakan tanpa teori dan basis data adalah kebijakan coba-coba,” ujar Tito dalam keterangan resmi, Senin (10/11/2025).
Menurut Tito, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai agen perubahan sekaligus penyeimbang pemerintah dalam proses pembuatan kebijakan publik.
Ia menilai kampus tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga harus aktif memberi masukan berbasis riset dan data ilmiah.
“Universitas diisi oleh orang-orang dengan kapasitas intelektual tinggi yang mampu mengubah budaya masyarakat. Karena itu, kampus harus berani memberi masukan berbasis referensi dan data yang akurat,” jelasnya.
Ia menegaskan, perguruan tinggi harus menjadi mitra strategis pemerintah, bukan oposisi.
Kampus berperan sebagai counterbalance yang menyampaikan pandangan objektif dan berbasis penelitian ilmiah.
Soliditas Kampus dan Profesionalisme Aparatur
Tito juga menekankan pentingnya soliditas internal kampus agar peran tersebut berjalan optimal.
“Rektor, jajaran pimpinan, mahasiswa, hingga senat akademik harus kompak. Hanya dengan kekompakan, universitas dapat menjalankan peran strategisnya dalam pembangunan nasional,” katanya.
Selain itu, ia menyoroti perlunya aparatur pemerintahan yang profesional dan efisien untuk memastikan kebijakan berjalan efektif.
“Tanpa aparatur yang profesional, kebijakan yang baik sekalipun tidak akan berjalan optimal,” tegas Tito.(*)
Editor : Hendra Efison