Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem, KAI Siagakan 735 Petugas Antisipasi Gangguan Jalur Rel

Novitri Selvia • Kamis, 13 November 2025 | 13:52 WIB

Photo
Photo

PADEK.JAWAPOS.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan.

Kombinasi empat fenomena atmosfer menjadi penyebab. Di sisi lain, dalam rangka mengantisipasi cuaca ekstrem serta periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan langkah pengamanan menyeluruh.

Sebanyak 735 petugas ekstra diterjunkan di seluruh wilayah kerja, disertai kesiapan perlengkapan siaga di berbagai titik strategis sepanjang jalur rel untuk mengantisipasi gangguan perjalanan.

KAI juga memperbarui data wilayah rawan di seluruh Indonesia. Tahun ini terdapat 177 titik yang menjadi prioritas pemantauan, terdiri atas 110 lokasi di Pulau Jawa dan 67 lokasi di Sumatera.

“Titik-titik tersebut terus diawasi, terutama yang berisiko mengalami tanah longsor, banjir, dan pergeseran tanah saat musim hujan,” papar Vice President Public Relations KAI Anne Purba.

Terpisah, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan bahwa peningkatan intensitas hujan dipicu oleh aktifnya berbagai faktor dinamika atmosfer berskala global, regional, hingga lokal.

“Gabungan dinamika atmosfer tersebut diprediksi meningkatkan potensi cuaca ekstrem dan dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang,” paparnya dalam keterangan resmi kemarin (12/11).

Pada Selasa (11/11), tanah longsor terjadi saat hujan deras di Jalan Raya Turus–Jurug, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Akibatnya, seorang pengendara yang sedang melintas tewas di lokasi.

Sementara itu, Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menyebutkan, pihaknya memprakirakan adanya potensi cuaca ekstrem yang signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 10–16 November 2025.

Berdasarkan analisis BMKG, pada 13–16 November 2025, potensi hujan dengan kategori lebat–sangat lebat masih akan terjadi di Bengkulu, Jawa Barat (Jabar), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIJ), Jawa Timur (Jatim), Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), Sulawesi Selatan (Sulsel), Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. “Ini kategori siaga, ya,” urainya.

Adapun potensi hujan sedang–lebat masih berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah (Jateng), Bali, NTB, Kalbar, Kalteng, Kaltim, Kaltara, Sulut, Gorontalo, Sulsel, Sulbar, Sultra, Malut, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua.

Tak hanya hujan, terdapat potensi angin kencang di Jateng, Kalbar, Sulteng, Sulsel, Kalteng, dan Kalsel. Juga di NTB, Bali, DKI Jakarta, dan Banten.

Masyarakat diimbau untuk mewaspadai perubahan cuaca mendadak seperti hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang. “Hindari beraktivitas di ruang terbuka saat hujan petir serta menjauhi pohon besar dan bangunan rapuh,” ujarnya.

Cek Rel, Jembatan, dan Perlintasan

Anne menyampaikan bahwa seluruh persiapan difokuskan pada pencegahan dan pemantauan dini terhadap potensi gangguan perjalanan.

“KAI memastikan seluruh prasarana dan petugas siap menghadapi lonjakan perjalanan menjelang libur panjang. Tujuan kami sederhana, yaitu menjaga keselamatan pelanggan dan memastikan setiap perjalanan berjalan lancar,” ujarnya.

Langkah utama yang dilakukan KAI adalah meningkatkan pemeriksaan kondisi rel, jembatan, dan perlintasan. Pemeriksaan dilakukan secara rutin, termasuk tambahan inspeksi saat hujan deras atau suhu tinggi.

“Petugas di lapangan juga melakukan pengecekan langsung terhadap perlintasan padat kendaraan serta area yang berpotensi terganggu akibat cuaca ekstrem,” paparnya.

Untuk memperkuat pengawasan, KAI menambah petugas ekstra di lapangan. Sebanyak 287 petugas pemeriksa jalur tambahan, 298 petugas penjaga perlintasan tambahan, dan 150 petugas pengawas daerah rawan disiagakan di lokasi-lokasi yang membutuhkan perhatian khusus.

“Penempatan difokuskan pada titik-titik dengan lalu lintas padat, jalur pegunungan, dan area yang rawan banjir atau longsor. Kehadiran petugas tambahan ini memastikan pengawasan berlangsung 24 jam penuh selama masa Nataru,” ujarnya.

KAI juga telah menyiapkan berbagai perlengkapan darurat seperti bantalan rel, rel cadangan, pasir, peralatan penerangan, dan jembatan darurat di lokasi-lokasi strategis.

“Perlengkapan tersebut ditempatkan sedekat mungkin dengan wilayah rawan agar bisa segera digunakan jika dibutuhkan,” ujarnya.

Seluruh petugas yang bertugas di lapangan, lanjut Anne, telah mengikuti pelatihan kesiapsiagaan. Mereka dilatih untuk mengenali tanda-tanda awal gangguan serta melakukan langkah penanganan cepat jika ditemukan kondisi yang berpotensi menghambat perjalanan kereta.

“Regu perawatan juga disiagakan selama 24 jam untuk memastikan jalur tetap aman dilalui,” jelasnya. (idr/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#bmkg #pt kereta api indonesia (kai) #nataru #cuaca ekstrem #Guswanto