Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Data BPS Ungkap Ironi Pekerja Indonesia, Jam Kerja Tinggi Tak Berbanding Lurus dengan Kesejahteraan

Mengki Kurniawan • Sabtu, 7 Februari 2026 | 14:26 WIB

Aktivitas pekerja di lingkungan perkantoran mencerminkan jam kerja panjang yang masih dialami sebagian tenaga kerja Indonesia berdasarkan data Sakernas BPS 2025. (pinterest)
Aktivitas pekerja di lingkungan perkantoran mencerminkan jam kerja panjang yang masih dialami sebagian tenaga kerja Indonesia berdasarkan data Sakernas BPS 2025. (pinterest)
PADEK.JAWAPOS.COM—Fenomena jam kerja panjang atau overwork masih menjadi gambaran yang melekat pada dunia kerja di Indonesia, meskipun perkembangan teknologi terus mengubah pola dan sistem kerja.

Data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025 mencatat jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 146,54 juta orang.

Dari total tersebut, distribusi jam kerja menunjukkan perbedaan yang cukup tajam antar kelompok pekerja di berbagai sektor.

Mayoritas pekerja, sekitar 40,43 persen, tercatat bekerja selama 35 hingga 48 jam per minggu, yang jika dihitung dalam lima hari kerja setara dengan 7 hingga 10 jam per hari.

Durasi ini belum memperhitungkan waktu perjalanan menuju tempat kerja maupun lembur tidak resmi yang kerap tidak tercatat dalam administrasi perusahaan.

Seperempat Pekerja Bekerja Lebih dari 49 Jam per Minggu

Sakernas BPS juga mencatat 25,47 persen pekerja Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu, atau sekitar satu dari empat pekerja mengalami jam kerja berlebih.

Kelompok ini menjadi sorotan karena beban kerja yang panjang berpotensi berlangsung secara berkelanjutan dalam keseharian mereka.

Di sisi lain, terdapat 32,68 persen pekerja yang bekerja dalam rentang 1 hingga 34 jam per minggu, yang umumnya berasal dari pekerja paruh waktu atau sektor ekonomi informal.

Ketimpangan jam kerja ini memperlihatkan bahwa beban kerja tidak terdistribusi secara merata di seluruh angkatan kerja nasional.

Kondisi tersebut menempatkan sebagian pekerja pada jam kerja panjang, sementara kelompok lainnya berada pada durasi kerja yang lebih singkat.

Sorotan Publik dan Isu Kesejahteraan Pekerja

Isu jam kerja panjang turut menjadi perhatian publik, salah satunya melalui unggahan akun media sosial indo_psikologi pada Sabtu, 7 Februari 2026, sekitar pukul 06.51 WIB.

Dalam unggahannya, akun tersebut menyoroti ironi antara kerja keras dan kesejahteraan yang dirasakan oleh pekerja di Indonesia.

“Muncul ironi yang kian terasa, yaitu bekerja keras ternyata tak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan,” tulis admin akun tersebut.

Sorotan ini mencerminkan kegelisahan masyarakat, terutama generasi muda, yang mulai menaruh perhatian pada keseimbangan kehidupan kerja atau work-life balance.

Dalam konteks ketenagakerjaan, para ahli psikologi industri kerap mengingatkan bahwa jam kerja berlebih yang berlangsung lama dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental pekerja.

Pemerintah melalui kementerian terkait dihadapkan pada tantangan untuk memantau penerapan aturan jam kerja, agar perlindungan terhadap tenaga kerja tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga produktivitas nasional. (cr3)

Editor : Hendra Efison
#jam kerja berlebih pekerja Indonesia #Sakernas BPS 2025 #kesejahteraan pekerja #overwork Indonesia #jam kerja pekerja Indonesia