Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perang Timur Tengah Tekan Rupiah dan IHSG, Harga Minyak Dunia Melonjak

Novitri Selvia • Selasa, 10 Maret 2026 | 11:19 WIB

Abdul Hakam Naja
Abdul Hakam Naja

PADEK.JAWAPOS.COM-MELETUSNYA perang di Timur Tengah membuat nilai tukar rupiah melemah. Pada perdagangan kemarin (9/3), rupiah sempat menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS.

Tekanan juga terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat anjlok hingga sekitar 5 persen pada awal perdagangan.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan tersebut dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal yang meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar.

Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat setelah muncul kepemimpinan baru di Iran. Pergantian pemimpin tersebut dinilai berpotensi memperpanjang konflik di kawasan.

Situasi semakin memanas setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyinggung kemungkinan perubahan rezim di Iran.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.

“Ketegangan di Timur Tengah melonjak tinggi dan berdampak pada jalur perdagangan energi global, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz,” ujar Ibrahim.

Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Ibrahim mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak sering kali menjadi pemicu perlambatan ekonomi. Seperti yang pernah terjadi pada krisis global 2008.

Untuk faktor domestik, lanjut dia, pemerintah sebelumnya menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) masih dapat dijaga stabil dalam waktu jangka pendek.

Namun, lonjakan harga minyak dunia berpotensi memperlebar defisit anggaran negara. Jika harga minyak tetap tinggi, pemerintah diperkirakan menghadapi tekanan fiskal yang dapat mendorong defisit anggaran hingga sekitar 3,6 persen.

Kenaikan Harga Minyak

Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga sekitar 20 persen dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2022.

Kenaikan itu dipicu oleh gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Mengutip Al Jazeera, harga minyak Brent tercatat naik USD 15,24 atau 16,4 persen menjadi USD 107,93 per barel.

Sebelumnya, harga Brent bahkan sempat melonjak hingga USD18,35 atau 19,8 persen dan menyentuh USD111,04 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS meningkat USD 16,50 atau 18,2 persen ke level USD 107,40 per barel setelah sempat mencapai USD 111,24 per barel.

Kenaikan harga minyak sebenarnya telah terjadi sejak pekan sebelumnya. Selama seminggu terakhir, Brent telah melesat 27 persen, sedangkan WTI naik hingga 35,6 persen sebelum kembali menguat pada awal pekan ini.

Lonjakan harga tersebut dipicu oleh berkurangnya pasokan dari sejumlah negara produsen minyak utama di Timur Tengah.

Selain itu, pasar juga diwarnai kekhawatiran akan terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abdul Hakam Naja menilai salah satu risiko terbesar dari konflik adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz di Teluk Persia, yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia.

Menurut Hakam, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat tersebut. Jika jalur itu terganggu, harga minyak berpotensi melonjak tajam dan memberikan tekanan ekonomi bagi banyak negara.

Dia menilai Indonesia perlu mewaspadai tren kenaikan harga minyak yang kini telah mencapai sekitar USD100 per barel, jauh di atas asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang menetapkan harga minyak sekitar USD70 per barel.

“Setiap kenaikan USD1 per barel minyak berpotensi menambah defisit anggaran sekitar Rp 6,8 triliun,” ujarnya. (mim/agf/jpg)

Baca Juga: Harga Emas Menguat, Harga Minyak Turun di Tengah Fokus Pasar Pantau Konflik AS-Israel-Iran

Editor : Novitri Selvia
#perang timur tengah #Abdul Hakam Naja #harga minyak dunia #selat hormuz #ibrahim assuaibi #ihsg