Transparansi Pemerintah dan Partisipasi Publik Jadi Kunci Hadapi Krisis Energi Global

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Sabtu, 11 April 2026 | 10:15 WIB
Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina menegaskan perlunya kesadaran publik untuk mitigasi krisis energi.(Foto ilustrasi AI)
Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina menegaskan perlunya kesadaran publik untuk mitigasi krisis energi.(Foto ilustrasi AI)

PADEK.JAWAPOS.COM-Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina menegaskan transparansi pemerintah dan partisipasi publik menjadi langkah penting menghadapi ancaman krisis energi global.

Krisis energi global yang muncul akibat konflik geopolitik berkepanjangan menjadi tantangan serius bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Hj. Nevi Zuairina, menyampaikan perlunya penguatan kesadaran publik agar masyarakat memahami situasi tanpa terjebak kepanikan.

Nevi mengapresiasi komitmen pemerintah yang memastikan harga BBM tidak akan naik hingga akhir 2026. Ia menilai langkah tersebut menjadi upaya konkret menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

“Komitmen ini patut diapresiasi, namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana pemerintah mampu menghadirkan komunikasi publik yang transparan, sederhana, dan mudah dipahami masyarakat,” ujar Nevi.

Legislator asal Sumbar II ini menjelaskan bahwa strategi komunikasi menjadi aspek penting dalam mitigasi krisis energi.

Pemerintah perlu menyampaikan secara terbuka penyebab krisis, seperti gangguan pasokan global akibat konflik, dampaknya terhadap Indonesia, serta langkah penanganan yang ditempuh.

Nevi juga menilai pentingnya pelibatan berbagai elemen masyarakat untuk membangun kesadaran energi.

"Tokoh masyarakat, generasi muda, hingga influencer memiliki peran strategis dalam mengampanyekan gaya hidup hemat energi secara luas," katanya.

Kapoksi VI FPKS ini turut mengingatkan bahwa dampak konflik global terhadap sektor energi bersifat serius dan sistemik.

Gangguan jalur distribusi minyak dan gas, terbatasnya ekspor dari negara produsen, serta fluktuasi harga energi berpotensi memicu kenaikan harga BBM, tarif listrik, dan biaya logistik. Kondisi tersebut dapat mendorong inflasi dan menambah beban subsidi dalam APBN.

“Efeknya memang tidak selalu langsung terlihat, tetapi dampaknya bisa sangat luas terhadap perekonomian nasional,” jelasnya.

Dalam menghadapi dinamika tersebut, Nevi menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam keberhasilan mitigasi krisis. Ia mengajak masyarakat mulai melakukan langkah sederhana seperti menghemat energi di rumah dan mengubah pola pikir dari konsumtif menjadi sadar energi.

“Selama ini energi sering dianggap selalu tersedia. Padahal, energi itu terbatas dan memiliki konsekuensi ekonomi yang besar. Karena itu, ketahanan energi harus menjadi gerakan bersama,” tutup Nevi Zuairina.(*)

Editor : Heri Sugiarto
kesadaran energi krisis energi global Komisi VI DPR RI harga BBM 2026 nevi zuairina