PADEK.JAWAPOS.COM-Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa capaian swasembada pangan Indonesia merupakan fakta berbasis data kredibel milik lembaga internasional, bukan klaim sepihak pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Amran saat memberikan keynote speech pada Musyawarah Besar Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA UNHAS) di Four Points Makassar, Sabtu (2/4/2026).
Dalam paparannya, Amran menekankan bahwa data mengenai keberhasilan Indonesia mencapai swasembada merujuk pada tiga lembaga resmi, yaitu Badan Pusat Statistik (BPS), Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), serta United States Department of Agriculture (USDA).
“Itu bukan kata saya. Itu bukan Kementerian Pertanian yang menyampaikan. Yang menyampaikan adalah BPS, FAO, dan USDA,” tegas Amran.
Target Dicapai Lebih Cepat
Amran menyebutkan, target swasembada yang awalnya ditetapkan Presiden untuk dicapai dalam empat tahun berhasil direalisasikan hanya dalam satu tahun.
“Di mana Bapak Presiden targetkan swasembada empat tahun, alhamdulillah dalam waktu satu tahun kita capai,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengakuan lembaga internasional tersebut menunjukkan capaian Indonesia tidak dapat diperdebatkan secara subjektif.
Meluruskan Pemahaman Istilah Pangan
Amran juga menyinggung masih banyaknya kekeliruan publik dalam memahami istilah swasembada, ketahanan pangan, dan kedaulatan pangan.
Ia menjelaskan bahwa menurut FAO, negara masih dikategorikan swasembada apabila impor pangan pokok strategis tidak melebihi 10 persen kebutuhan nasional.
“Swasembada pangan itu impor maksimal 10 persen. Jadi kalau impor masih di bawah 10 persen, itu masih disebut swasembada,” jelasnya.
Konsep ketahanan pangan, menurut Amran, lebih menekankan pada ketersediaan pangan baik dari produksi dalam negeri maupun impor, selama kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Stok Beras Tertinggi dalam Sejarah
Dalam kesempatan itu, Amran memaparkan bahwa stok beras nasional pada April 2026 mencapai 5 juta ton, yang disebut sebagai angka tertinggi sejak Indonesia berdiri.
Ia membandingkan capaian ini dengan data pada era Presiden Soeharto yang berada di kisaran 2,75 juta ton.
“Ini nilainya Rp60 triliun dan diaudit oleh BPK. Kalau tidak benar, saya katakan dipenjara semua,” tegasnya.
Indikator lain yang dicapai sektor pertanian adalah Nilai Tukar Petani (NTP) 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir, dan pertumbuhan PDB pertanian 2025: 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir
Amran menilai kinerja tersebut menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi nasional.
Dampak Global Penghentian Impor
Mentan juga mengungkap bahwa kebijakan penghentian impor beras dalam jumlah besar berdampak signifikan terhadap harga beras dunia. Indonesia, sebagai salah satu importir terbesar, memengaruhi harga global.
“Dari 660 dolar turun menjadi 340 dolar. Dari Rp11.000 menjadi Rp5.700 per kilo. Karena Indonesia importir terbesar dunia, 7 juta ton selama dua tahun,” paparnya.
Menurutnya, kebijakan tersebut berdampak langsung pada 33 negara dan memengaruhi 176 negara lainnya.
Kerja Keras Tanpa Henti
Amran juga menggambarkan ritme kerja intensif jajaran Kementerian Pertanian demi mencapai percepatan target swasembada.
“Tidak ada hari libur selama satu tahun. Kami rapat jam 2 subuh, jam 3 subuh. Kalau tidak angkat telepon, berakhir jabatannya,” ungkapnya.
Ia juga mengenang saat Presiden meminta percepatan target dari empat tahun menjadi satu tahun.
“Saya keringat dingin, tapi sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang,” ujarnya.
Ajak Alumni UNHAS Berperan
Menutup pidatonya, Amran menegaskan bahwa swasembada bukan sekadar angka, tetapi fondasi kedaulatan bangsa.
“Mimpi kita adalah seluruh pulau Indonesia swasembada pangan, protein, dan energi,” katanya.
Ia mengajak seluruh alumni UNHAS untuk tetap solid dan turut berkontribusi memperkuat posisi Indonesia sebagai negara berdaulat pangan di tingkat global.(*)
Editor : Heri Sugiarto