PADEK.JAWAPOS.COM-Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons langsung berbagai aspirasi mahasiswa dan dosen dalam kuliah umum di Universitas Negeri Makassar (UNM), Makassar, Rabu (3/6/2026).
Sejumlah persoalan yang disampaikan mencakup distribusi pupuk subsidi, harga pupuk, usaha tani yang merugi, hingga kualitas beras bantuan yang diterima masyarakat.
Menanggapi keluhan terkait pupuk subsidi, Amran menegaskan tidak boleh ada pihak yang mengambil keuntungan dari hak petani.
Ia bahkan langsung menginstruksikan Pupuk Indonesia untuk menelusuri dugaan pelanggaran dan mengambil tindakan tegas apabila terbukti terjadi penyimpangan di lapangan.
Dalam sesi dialog yang berlangsung terbuka dan interaktif, seorang mahasiswi asal Bone bernama Ika menyampaikan keluhan warga terkait harga pupuk subsidi yang dinilai tidak sesuai ketentuan serta keterlambatan ketersediaan pupuk di daerahnya.
“Di desa saya, pupuk subsidi Rp115 ribu per sak dengan tambahan transportasi. Kesediaan pupuk juga sering terlambat,” kata Ika.
Keluhan serupa disampaikan mahasiswa asal Enrekang yang orang tuanya berprofesi sebagai petani. Ia mengungkapkan harga pupuk yang mahal untuk kebutuhan budidaya bawang merah.
Menanggapi hal tersebut, Amran meminta identitas pengecer yang diduga melakukan pelanggaran agar dapat segera ditindaklanjuti.
“Kasih namanya pengecernya. Pupuk Indonesia turun ke sana, begitu benar terbukti melanggar, langsung cabut izinnya. Kita tindak tegas. Hak petani harus kita jaga,” tegas Amran.
Selain persoalan pupuk, seorang mahasiswa asal Mamasa, Sulawesi Barat, menceritakan perjuangan usaha singkong yang masih mengalami kerugian.
Pengalaman serupa juga disampaikan seorang dosen UNM yang mengaku pernah merugi lebih dari Rp100 juta akibat gagal dalam usaha budidaya bawang merah.
Amran tidak menyarankan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, ia mendorong agar pengalaman tersebut dijadikan pelajaran untuk bangkit dan mencoba kembali.
“Kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Banyak orang berhasil karena mau bangkit setelah jatuh. Yang penting terus belajar dan memperbaiki cara,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan, Amran memberikan tips berwirausaha kepada mahasiswa. Ia juga langsung menghubungi jajaran Direktorat Jenderal Hortikultura untuk membantu dan mengawal pengembangan budidaya bawang merah yang akan kembali dilakukan dosen tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, seorang dosen lainnya menyampaikan keluhan masyarakat terkait kualitas beras bantuan yang diterima warga.
Mendengar hal itu, Amran meminta persoalan tersebut segera ditelusuri agar masyarakat mendapatkan bantuan pangan yang layak.
Menurut Amran, dialog seperti ini penting karena memberikan gambaran langsung mengenai kondisi yang dihadapi masyarakat di berbagai daerah.
Ia menegaskan keberhasilan menjaga swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh keterlibatan perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam mengawal pelaksanaannya di lapangan.
Karena itu, ia mengajak kampus untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah melalui riset, inovasi, dan pengabdian yang mampu menjawab persoalan nyata di sektor pertanian.
“Perguruan tinggi memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan. Inovasi yang lahir dari kampus harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan petani,” katanya.
Dalam kuliah umum tersebut, Amran juga memaparkan berbagai capaian sektor pertanian nasional yang menjadi fondasi swasembada pangan berkelanjutan.
Di antaranya stok beras nasional yang mencapai lebih dari 5,3 juta ton, peningkatan kesejahteraan petani, kemudahan akses pupuk bersubsidi, hingga peningkatan ekspor komoditas pertanian bernilai tambah.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen bangsa. Karena itu, swasembada pangan yang telah diraih harus terus dijaga dan diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, petani, perguruan tinggi, dan masyarakat.
“Ini adalah kerja bersama. Swasembada pangan yang kita capai hari ini harus dijaga agar terus berkelanjutan dan memberi manfaat bagi generasi mendatang,” pungkasnya.(*)
Editor : Heri Sugiarto