Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mentan Amran Percepat Pertanian Modern PM-AAS, Pendapatan Petani Naik 3 Kali Lipat

Heri Sugiarto • Kamis, 9 Juli 2026 | 15:36 WIB
Mentan Amran saat memberikan arahan kepada jajaran Kementerian Pertanian, kepala dinas pertanian, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan pemerintah daerah di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (9/7/2026).(Foto: Humas)
Mentan Amran saat memberikan arahan kepada jajaran Kementerian Pertanian, kepala dinas pertanian, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan pemerintah daerah di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (9/7/2026).(Foto: Humas)

PADEK.JAWAPOS.COM – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mempercepat penerapan sistem Pertanian Modern PM-AAS sebagai strategi meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.

Berdasarkan hasil analisis usaha tani, metode budidaya tersebut mampu meningkatkan pendapatan petani hingga lebih dari tiga kali lipat dibandingkan sistem konvensional.

Pernyataan itu disampaikan Amran saat memberikan arahan kepada jajaran Kementerian Pertanian, kepala dinas pertanian, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan pemerintah daerah di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Menurut Amran, percepatan swasembada pangan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga harus memastikan pendapatan petani meningkat melalui transformasi sistem budidaya.

"Hari ini kami kumpulkan kepala dinas, direktur wilayah, dan PPL se-Indonesia. Tujuannya adalah melakukan akselerasi intensifikasi melalui pertanian modern. Yang kita kejar adalah kesejahteraan petani. Pertanian modern harus bertransformasi menjadi pertanian yang menjadikan petani sejahtera," kata Amran.

Ia menjelaskan metode PM-AAS telah diuji selama dua tahun di lahan sekitar 1.600 hektare di berbagai sentra produksi padi. Hasil uji coba menunjukkan produktivitas mencapai 9 hingga 12 ton gabah per hektare, lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas nasional sekitar 5,5 ton per hektare.

"Metode PM-AAS ini sudah kita uji coba di 1.600 hektare. Produksinya ada yang 10 ton, bahkan mencapai 12 ton. Minimal 9 ton per hektare. Sekarang kita dorong diterapkan di daerah-daerah irigasi agar produktivitas meningkat signifikan," ujarnya.

Amran mengatakan peningkatan produktivitas tiga ton per hektare di satu juta hektare lahan irigasi dengan indeks pertanaman tiga kali setahun berpotensi menambah produksi beras nasional sekitar lima juta ton.

"Kalau satu juta hektare kita tanami dengan metode ini dan ditanam tiga kali setahun di daerah irigasi, peningkatan produksinya bisa sangat besar. Inilah yang sedang kita kejar," katanya.

Selain meningkatkan hasil panen, PM-AAS juga dinilai mampu memperbaiki pendapatan petani. Pada sistem budidaya konvensional, biaya produksi sekitar Rp13 juta per hektare menghasilkan rata-rata 5,2 ton gabah dengan keuntungan sekitar Rp20,79 juta per musim tanam atau sekitar Rp5,19 juta per bulan.

Melalui PM-AAS, biaya produksi meningkat menjadi sekitar Rp15,17 juta per hektare. Namun, produksi mencapai 12,4 ton per hektare sehingga keuntungan naik menjadi Rp65,43 juta per musim tanam atau sekitar Rp16,36 juta per bulan. Rasio keuntungan (B/C Ratio) pun meningkat dari 1,60 menjadi 4,31.

"Dulu biaya sekitar Rp13 juta, sekarang menjadi Rp15 juta, naik hanya sekitar Rp2 juta. Tetapi pendapatan bersih petani yang sebelumnya sekitar Rp5 juta per bulan meningkat menjadi Rp16,3 juta per bulan. Naik tiga kali lipat. Ini yang kita kejar," ujar Amran.

PM-AAS merupakan pengembangan metode tanam yang menggabungkan sistem Arkansas dengan pola jajar legowo. Menurut Amran, kombinasi tersebut meningkatkan populasi tanaman sekaligus mengoptimalkan masuknya cahaya matahari sehingga proses fotosintesis dan pembentukan malai berlangsung lebih baik.

"Prinsipnya adalah penggabungan metode Arkansas dengan jajar legowo. Cahaya matahari masuk lebih optimal sehingga fotosintesis lebih baik, malai lebih bagus. Populasi tanaman yang sebelumnya sekitar 320 ribu sampai 360 ribu batang per hektare sekarang meningkat menjadi sekitar 1 juta batang. Itu yang membuat produksinya melonjak," jelasnya.

Metode tersebut juga mengurangi kebutuhan tenaga kerja karena menerapkan sistem direct seeding atau tanam langsung tanpa melalui proses persemaian dan pencabutan bibit.

"Kita juga menghemat tenaga kerja. Dulu harus semai, cabut, lalu tanam lagi. Sekarang langsung direct seeding sehingga jauh lebih efisien," katanya.

Pada tahap awal, implementasi PM-AAS diprioritaskan di sekitar 4,9 juta hektare lahan sawah beririgasi yang memiliki potensi produktivitas tinggi.

Amran menilai penerapan metode tersebut secara luas akan memperkuat swasembada beras sekaligus membuka peluang pengembangan komoditas strategis lain, seperti kedelai, bawang putih, dan cabai setelah musim panen padi.

Ia juga membuka peluang pemanfaatan teknologi modern yang lebih luas, termasuk penggunaan drone untuk penanaman hingga pengangkutan hasil panen di wilayah yang sulit dijangkau.

"Ke depan bukan hanya tanam menggunakan drone, tetapi juga mengangkut gabah dengan drone di daerah yang akses jalannya terbatas. Teknologi seperti ini terus kita teliti dan kembangkan agar usaha tani semakin efisien," tuturnya.

Amran menambahkan, berbagai indikator menunjukkan transformasi sektor pertanian mulai berdampak terhadap kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) terus meningkat, sementara kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional mencatat capaian tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

"Kalau petani sejahtera, mereka pasti berlomba-lomba menanam karena usahanya menguntungkan. Sekarang pertanian modern kita percepat. Insyaallah petani semakin sejahtera dan swasembada pangan berkelanjutan bisa kita wujudkan," katanya.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#PM-AAS #pendapatan petani #swasembada pangan #Pertanian Modern #mentan amran