PADEK.JAWAPOS.COM-Google terus mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat mitigasi bencana di dunia. Berawal dari proyek percontohan di India pada 2018 yang mengandalkan data sungai real-time, kini teknologi AI Google diklaim dapat memprediksi bencana banjir di 150 negara, termasuk Indonesia, yang dihuni lebih dari 2 miliar orang.
Dikutip dari laman resmi Google Reseach, Inovasi tersebut dirancang untuk memberikan peringatan dini agar masyarakat dapat bersiap dan tetap aman dari dampak banjir sungai maupun banjir bandang perkotaan.
Teknologi Model AI di Balik Flood Hub
Prediksi banjir dari Google dapat diakses melalui platform Flood Hub, fitur Google Search, serta Floods API yang dimanfaatkan oleh berbagai organisasi penanggulangan bencana.
- Prediksi Banjir Sungai: Menggunakan kombinasi Hydrologic Model (memproses kondisi cuaca dan lahan untuk memprediksi volume air sungai) dan Inundation Model (memprediksi wilayah yang akan terdampak berdasarkan aliran air). Model ini mampu memprediksi banjir sungai hingga 7 hari sebelum terjadi.
- Prediksi Banjir Bandang Perkotaan: Mampu memprediksi hingga 24 jam sebelum kejadian, mengatasi tantangan kelangkaan data sensor fisik di area perkotaan.
- Akses tanpa Data Historis Lokal: AI Google mampu mengolah data global sehingga tetap dapat memberikan prediksi di wilayah yang minim data historis atau alat ukur lokal.
Metodologi "Groundsource" dan Peran Gemini AI
Pada Maret 2026, Google meluncurkan metodologi AI baru bernama Groundsource untuk mengatasi ketiadaan sensor banjir bandang di kawasan perkotaan.
- Pemanfaatan Gemini AI: Gemini digunakan untuk menganalisis lebih dari 5 juta laporan berita banjir selama rentang waktu 20 tahun.
- Database Historis Unik: Dari analisis berita tersebut, Google berhasil membangun dataset yang mencakup 2,6 juta peristiwa banjir masa lalu di lebih dari 150 negara. Data ini kemudian diintegrasikan ke dalam model banjir bandang perkotaan di Flood Hub.
Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Organisasi Kemanusiaan
Menurut Google, teknologi ini telah dimanfaatkan langsung oleh peneliti dan lembaga bantuan seperti GiveDirectly. Melalui integrasi Floods API, GiveDirectly berhasil menyalurkan bantuan dana tunai kepada warga di Kogi, Nigeria—salah satu wilayah terdampak banjir terparah di Afrika Barat—sebelum air naik.
Bantuan dana awal tersebut terbukti membantu warga mengevakuasi diri, mengamankan aset, dan membangun kembali kehidupan mereka. Dampaknya mencakup:
- Pendapatan warga meningkat lebih dari dua kali lipat.
- Kerawanan pangan menurun hingga 90%.
- Sebanyak 93% penerima bantuan merasa lebih siap menghadapi banjir di masa depan.
Rencana Pengembangan dan Sumber Daya Terbuka (Open Source)
Google Research, di bawah pimpinan Senior Staff Research Scientist Deborah Cohen dari tim Climate Crisis Resilience, terus menguji peluang penggunaan metodologi Groundsource untuk memprediksi bencana alam lainnya, seperti gelombang panas (heat waves) dan tanah longsor (mudslides).
Google juga berencana memperluas jangkauan prediksi ke area banjir bandang pedesaan dan banjir pesisir.
Baca Juga: Cuaca Sumbar 26-28 Agustus: Waspada Hujan Sedang-Lebat di Sejumlah Wilayah
Sebagai bentuk dukungan terhadap riset global, Google telah membagikan kerangka kerja hidrologi ini secara open source. Langkah ini memungkinkan Badan Meteorologi dan Hidrologi Nasional (NMHSs) serta lembaga meteorologi lainnya untuk mengintegrasikan data lokal mereka sendiri. Selain itu, dataset Groundsource dan Floods API kini dapat diakses secara publik oleh para peneliti di seluruh dunia.
Panduan Cara Menggunakan Google Flood Hub
Untuk memantau potensi banjir di wilayah Anda menggunakan teknologi AI Google, Anda bisa langsung menggunakan platform Google Flood Hub. Platform ini dapat diakses secara gratis baik melalui komputer maupun HP.
Berikut adalah langkah-langkah mudah untuk mengeceknya:
- Buka Situs Resmi Google Flood Hub
Buka browser di perangkat Anda, lalu masuk ke alamat: sites.research.google/gr/floodforecasting/
Anda akan langsung dihadapkan pada peta dunia interaktif dengan banyak titik pin berwarna. - Cari Wilayah Anda di Indonesia
Gunakan kolom pencarian (ikon kaca pembesar) di bagian atas peta.
Ketik nama wilayah Anda (contoh: "Jakarta", "Padang", atau nama sungai seperti "Bengawan Solo").
Peta akan otomatis melakukan zoom-in (memperbesar) ke area tersebut dan menampilkan titik-titik pemantauan virtual sungai yang ada di sekitarnya. - Baca Kode Warna pada Pin Sungai
Setiap pin bulat di atas sungai memiliki warna yang menunjukkan status keamanan hingga 7 hari ke depan:
| Status | Keterangan |
|---|---|
| 🟢 Hijau (Normal) | Ketinggian air sungai aman dan berada di bawah batas waspada. |
| 🟡 Kuning (Warning) | Air sungai mulai meningkat. Anda disarankan untuk mulai memantau situasi. |
| 🔴 Merah (Danger) | Air sungai diprediksi akan meluap dan mencapai tingkat berbahaya. Segera lakukan persiapan mitigasi atau evakuasi. |
4. Lihat Grafik Prediksi 7 Hari ke Depan
Klik pada salah satu pin sungai terdekat dari lokasi Anda.
Di bagian bawah atau samping layar akan muncul panel informasi berisi grafik prediksi hidrograf.
Grafik ini menunjukkan tren kapan volume air akan naik, mencapai titik puncak (peak flow), dan kapan air akan kembali surut dalam rentang waktu seminggu ke depan.