PADEK.JAWAPOS.COM-Pemboman besar-besaran terus dilakukan Israel di Gaza. Kementerian Kesehatan Palestina mengungkapkan bahwa jumlah warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel di Gaza telah lebih dari 10.022 jiwa sejak 7 Oktober lalu, termasuk 4.104 anak-anak dan 2.641 wanita. Sedangkan korban terluka 25.408 orang.
“Jumlah (korban tewas) diperkirakan akan meningkat karena setidaknya 2.000 orang masih tertimbun reruntuhan. Masalahnya adalah, dengan kurangnya alat berat dan mesin, tim penyelamat di lapangan tidak dapat mengeluarkan mayat-mayat dari bawah reruntuhan,” kata koresponden Al Jazeera Hani Mahmoud melaporkan dari Khan Younis di Gaza selatan, Senin (6/11/2023).
Meskipun Israel telah bersumpah untuk menghancurkan kelompok bersenjata Hamas, yang menyerang Israel selatan pada 7 Oktober dan menewaskan lebih dari 1.400 orang, namun kondisi kemanusiaan di Gaza telah mencapai titik kritis di bawah tekanan Israel yang terus-menerus melakukan pemboman.
Habisnya persediaan bahan bakar mengakibatkan16 dari 35 rumah sakit di Gaza terpaksa menghentikan operasinya. Sementara jumlah warga terluka dalam pemboman tersebut melebihi 25.000 orang. Selain itu, PBB mengatakan sekitar 1,5 juta orang atau lebih dari setengah populasi Gaza, telah mengungsi dan menderita berbagai penyakit.
"Rumah Sakit Al-Rantisi menjadi sasaran dua kali serangan udara Israel. Pusat Kanker dan Pusat Anak Khusus juga menjadi sasaran. Empat orang tewas dan 70 orang luka-luka, beberapa di antaranya anak-anak, staf, dan pengungsi," kata kata juru bicara Kementerian Kesehatan Ashraf Al-Qudra, Senin (6/11/2023).
Serangan Israel juga menghancurkan panel surya dan tangki air di Rumah Sakit al-Rantisi. Menargetkan pasokan penting mengancam kehidupan semua orang di rumah sakit.
Menurutnya, Israel melakukan 18 serangan dalam beberapa jam terakhir, menewaskan 252 orang, 192 staf medis tewas dan 32 ambulans hancur sejak 7 Oktober, sementara 16 rumah sakit kini tidak dapat beroperasi.
"Penargetan toko roti menambah krisis pangan. Israel menganggap diamnya komunitas internasional sebagai lampu hijau untuk melanjutkan pembantaiannya," kata Ashraf.
Ratusan ribu penduduk di kota Gaza dan gubernuran Gaza Utara menghadapi kekurangan air yang parah. "Sumur-sumur yang dikelola pemerintah kota tidak mampu memompa air karena kekurangan bahan bakar," kata badan PBB OCHA.
Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran akan dehidrasi dan penyakit yang ditularkan melalui air. Akibat konsumsi air dari sumber yang tidak aman.
Di wilayah selatan, semua sumur kota telah berhenti beroperasi sejak 2 November karena kekurangan bahan bakar. Selain itu, salah satu dari dua pabrik desalinasi di daerah tersebut ditutup.
"Pada tanggal 4 dan 5 November, tujuh fasilitas air di Jalur Gaza terkena dampak langsung dan mengalami kerusakan besar, termasuk tiga pipa limbah di kota Gaza, dua reservoir air (di Kota Gaza, kamp pengungsi Rafah dan Jabalia) serta dua sumur air di Rafah. Pemerintah kota Gaza memperingatkan tentang risiko banjir limbah," kata badan PBB OCHA seperti dilansir dari Al Jazeera.
Menurut badan PBB tersebut, beberapa kasus infeksi pernafasan akut, diare dan cacar air telah terjadi di antara orang-orang yang mengungsi di tempat penampungan UNRWA.
Ketika kondisi di Gaza semakin memburuk dan jumlah korban tewas terus meningkat, seruan untuk mengakhiri pertempuran pun semakin meningkat. Pada akhir Oktober, Majelis Umum PBB memberikan suara yang sangat mendukung resolusi yang menyerukan agar dilakukan gencatan senjata kemanusiaan.
Baik Israel maupun sekutu terkuatnya, Amerika Serikat (AS), menolak seruan gencatan senjata, dengan mengatakan bahwa diakhirinya pertempuran akan memberikan waktu bagi Hamas untuk berkumpul kembali.
AS telah mengatakan bahwa mereka akan mendukung penghentian sementara pertempuran agar lebih banyak bantuan dapat masuk ke Gaza. Namun Israel menunjukkan sedikit antusiasme terhadap gagasan ini.
Pada hari Minggu (5/11/2023), para pemimpin dari 18 badan PBB dan organisasi nirlaba (LSM) telah menyerukan gencatan senjata segera dalam perang Israel-Hamas. Mereka juga menyatakan keterkejutan dan kengerian atas meningkatnya jumlah korban tewas akibat konflik tersebut.
“Kita membutuhkan gencatan senjata kemanusiaan segera. Sudah 30 hari. Cukup sudah. Ini harus dihentikan sekarang,” kata para pemimpin PBB dan LSM dalam pernyataan bersama.
Para pemimpin PBB dan LSM, termasuk para pemimpin UNICEF, UN Women, Program Pangan Dunia, Organisasi Kesehatan Dunia dan Save the Children, menggambarkan serangan terhadap warga Israel dan Palestina selama sebulan terakhir sebagai hal yang mengerikan.
Sedangkan Fatah, partai yang dipimpin oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas, mengutuk serangan yang mereka sebut sebagai ‘perang pemusnahan biadab’ Israel dan meminta komunitas internasional menghentikan perang yang berlangsung sejak 7 Oktober itu.(*)