Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pasien dan Warga Palestina Dilanda Kepanikan di Rumah Sakit Al-Aqsa Usai Ledakan dan Perintah Evakuasi Israel

Heri Sugiarto • Senin, 26 Agustus 2024 | 08:40 WIB

Warga Palestina mengevakuasi pasien dari Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa setelah tentara Israel memerintahkan evakuasi di wilayah timur Deir el-Balah, Gaza, Minggu (25/8/2024). (Foto: Ashraf Amra/Anadolu)
Warga Palestina mengevakuasi pasien dari Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa setelah tentara Israel memerintahkan evakuasi di wilayah timur Deir el-Balah, Gaza, Minggu (25/8/2024). (Foto: Ashraf Amra/Anadolu)
PADEK.JAWAPOS.COM-Situasi di Rumah Sakit Al-Aqsa semakin memburuk setelah pasukan Israel memerintahkan evakuasi di wilayah timur Deir el-Balah, Gaza, Minggu (25/8/2024) waktu setempat.

Kepanikan dan ketakutan terlihat jelas di wajah pasien dan warga Palestina yang mengungsi di sana.

Mereka ada yang bersiap meninggalkan fasilitas medis tersebut meskipun tidak tahu ke mana harus pergi.

Rumah sakit ini bukan hanya berfungsi sebagai fasilitas medis, namun juga telah menjadi tempat perlindungan bagi ribuan keluarga yang mengungsi.

Organisasi medis internasional Medecins Sans Frontieres (MSF) menyatakan tengah mempertimbangkan untuk menghentikan sebagian layanan di Rumah Sakit Al-Aqsa, setelah ledakan terjadi di dekat fasilitas itu memicu kepanikan dan membuat orang banyak meninggalkan area tersebut.

"Situasi ini sangat tidak dapat diterima," ungkap MSF dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, seperti dilansir dari Al Jazeera.

Menurut MSF, Rumah Sakit Al-Aqsa telah beroperasi jauh melebihi kapasitas selama berminggu-minggu karena kurangnya alternatif bagi pasien.

Untuk itu, semua pihak yang berperang harus menghormati rumah sakit ini dan memberikan akses pasien mendapatkan perawatan medis.

Dalam pernyataannya, MSF menambahkan bahwa perintah evakuasi dari Israel untuk area tersebut telah membuat ratusan ribu orang telantar.

Negosiasi Tanpa Hasil

Sementara itu, negosiasi untuk gencatan senjata yang berlangsung di Mesir berakhir tanpa hasil ketika Hamas menolak syarat-syarat baru yang diajukan oleh Israel.

Di tengah ketegangan yang semakin meningkat, Pemimpin Hezbollah, Sayyed Hassan Nasrallah, mengungkapkan bahwa serangan balasan mereka terhadap Israel pasca pembunuhan komandan senior Fuad Shukr bulan lalu telah dilaksanakan sesuai rencana.

Target utama operasi tersebut adalah pangkalan intelijen Gilot, sekitar 100 kilometer dari perbatasan Israel-Lebanon.

Israel membantah bahwa pangkalan Gilot terkena serangan, tapi mengonfirmasi bahwa setidaknya satu tentaranya tewas dalam serangan Hezbollah tersebut.

Di sisi lain, serangan udara Israel di selatan Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya dua orang.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Inggris, dan Yordania menyerukan penurunan ketegangan, memperingatkan bahwa tindakan Israel dan Hezbollah dapat mengancam keamanan serta stabilitas kawasan.

Setidaknya 40.334 orang tewas dan 93.356 orang terluka dalam serangan Israel di Gaza. Diperkirakan 1.139 orang tewas di Israel selama serangan yang dipimpin Hamas sejak 7 Oktober.(ajz)

Editor : Heri Sugiarto