Serangan ini mengincar infrastruktur energi Ukraina, termasuk pembangkit listrik termal, dan mengakibatkan pemadaman listrik yang meluas di beberapa wilayah.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengkritik serangan tersebut melalui pernyataan di X (Twitter), dan menyebut bahwa Rusia sengaja memilih Natal untuk menyerang.
"Putin sengaja memilih Natal sebagai serangan. Apa yang lebih tidak manusiawi dari itu," kata Zelenskyy. "Mereka terus berjuang untuk pemadaman listrik di Ukraina," imbuhnya.
Menurut laporan pemerintah Ukraina, lebih dari 50 rudal dan sejumlah besar drone berhasil ditembak jatuh oleh pasukan Ukraina.
Meski demikian, serangan ini menyebabkan kerusakan signifikan pada sistem kelistrikan negara tersebut.
Menteri Energi Ukraina, Herman Halushchenko, menyatakan bahwa serangan ini merupakan upaya besar-besaran untuk menghancurkan infrastruktur energi Ukraina.
Angkatan Udara Ukraina mengonfirmasi bahwa beberapa rudal Rusia telah diluncurkan ke wilayah Kharkiv, Dnipro, dan Poltava di Ukraina timur.
Sebagai langkah antisipasi, operator distribusi listrik Ukraina membatasi konsumsi energi untuk mengurangi dampak lebih lanjut terhadap sistem kelistrikan.
"Petugas energi akan segera mengevaluasi kerusakan yang ditimbulkan begitu situasi keamanan memungkinkan," ujar Halushchenko.
DTEK, perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, melaporkan bahwa serangan Rusia menghantam salah satu pembangkit listrik termal mereka pada pagi hari Natal.
Maxim Timchenko, CEO DTEK, mengutuk serangan tersebut, menyebutnya sebagai tindakan jahat yang menyasar jutaan warga Ukraina yang merayakan Natal.
Sementara itu, Ukrenergo, operator energi negara, menerapkan pemadaman listrik preventif akibat serangan rudal besar-besaran. Pemadaman ini juga mempengaruhi ibu kota Kyiv dan beberapa distrik lainnya.
Di Kharkiv, serangan rudal menimbulkan kebakaran di sejumlah lokasi dan menyebabkan sedikitnya tiga orang terluka.
Wali Kota Kharkiv, Ihor Terekhov, mengonfirmasi bahwa ledakan terus mengguncang kota tersebut. "Serangkaian ledakan terjadi di kota, dan masih ada rudal balistik yang terbang menuju kota. Tetaplah di tempat yang aman," kata Terekhov.
Dalam perkembangan lain, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, melaporkan bahwa salah satu rudal Rusia terbang melewati wilayah udara Moldova dan Rumania.(*)
Editor : Heri Sugiarto