Drone ini diresmikan oleh Pasukan Dirgantara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) pada bulan Januari 2025. Drone ini merupakan bagian dari upaya Iran untuk meningkatkan kemampuan teknologi militer mereka dan menunjukkan kekuatan kepada sekutu dan musuhnya.
Nama "Gaza" dipilih untuk menunjukkan solidaritas Iran dengan rakyat Palestina di Gaza yang telah mengalami konflik berkepanjangan. Drone ini juga merupakan bentuk dukungan Iran terhadap perjuangan Palestina melawan Israel.
Pengembangan drone Gaza ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat di Timur Tengah, terutama setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Dalam demonstrasi pertamanya, drone Gaza berhasil menghancurkan delapan target dengan presisi menggunakan rudal yang dilengkapi dengan kemampuan kecerdasan buatan.
Iran terus mengembangkan teknologi militernya untuk menunjukkan kekuatan barunya. Drone ini akan digunakan untuk operasi perbatasan dan pengawasan daerah luar Iran.
Drone Gaza memiliki jangkauan terbang hingga 1.000 kilometer, serta mampu membawa muatan hingga 500 kilogram. Pesawat nirawak ini juga bisa membawa hingga 13 rudal atau 8 bom presisi Sadid-345. Drone ini terbang dengan berat lepas landas mencapai 3.100 kilogram.
Drone ini memiliki lebar sayap 22 meter, daya tahan terbangnya mampu menempuh selama 35 jam, dengan Kecepatan jelajah mencapai 350 kilometer per jam. Radius operasional diperkirakan sekitar 4.000 kilometer.
Pada demonstrasi pertama, drone Gaza berhasil menghancurkan delapan target dengan presisi menggunakan rudal yang dilengkapi dengan kemampuan kecerdasan buatan. Drone ini dirancang untuk operasi perbatasan dan pengawasan, serta untuk mendukung keamanan nasional Iran.
Drone Gaza telah dibandingkan dengan drone Amerika Serikat, MQ-9 Reaper, karena ukurannya yang serupa dan kemampuan yang mirip.
Meskipun Reaper memiliki lebar sayap yang lebih sempit dan berat lepas landas yang lebih besar, kedua drone ini memiliki peran operasional yang serupa, seperti pengawasan dan serangan. (*)
Editor : Hendra Efison