Pertemuan yang awalnya bertujuan untuk membahas kesepakatan pengembangan sumber daya alam dan upaya perdamaian terkait konflik Ukraina-Rusia berubah menjadi perselisihan hebat di hadapan media.
Trump menuduh Zelensky tidak berterima kasih kepada rakyat Amerika dan tidak mau berunding untuk mengakhiri konflik dengan Rusia.
Trump menyatakan bahwa Zelensky tidak menunjukkan rasa terima kasih dan mengancam akan menarik dukungan jika Ukraina tidak mencapai kesepakatan damai dengan Rusia.
Trump meminta Zelensky untuk lebih bersyukur dan menyatakan bahwa Ukraina harus berkompromi dalam gencatan senjata dengan Rusia.
Trump tidak menerima berkomitmen untuk memberikan jaminan keamanan apa pun guna mendukung Ukraina tanpa kesepakatan mineral sebagai imbalan atas bantuan pertahanan dari Amerika.
Zelensky menolak tegas usulan Trump dan menyatakan bahwa tidak ada kompromi bagi Rusia, khususnya untuk Presiden Vladimir Putin.
Zelensky secara terang-terangan menyatakan bahwa Amerika jangan melunak terhadap Rusia.
Trump mengecam kata-kata Zelensky dan menyatakan bahwa Zelensky mempertaruhkan nyawa jutaan orang dan Perang Dunia Ketiga.
Wakil Presiden AS JD Vance juga menyemprot Zelensky dan menyebutnya tidak pantas dan menuduh Zelenskyy tengah melancarkan "tur propaganda" dan tidak "menghormati" Amerika.
Tuduhan terhadap zelensky menjadikan debat panas tentang kesepakatan damai dan peralihan tanah langka ukraina dalam pernyataan keras dari kedua belah pihak menambah dramatis pertemuan tersebut.
Pertemuan berakhir tanpa kesepakatan yang direncanakan sebelumnya. Zelensky meninggalkan Gedung Putih lebih cepat dengan membawa amarahnya dan tidak menandatangani kesepakatan yang direncanakan.
Baca Juga: Jadwal Bacaan Al-Qur’an Ramadan: Panduan Lengkap untuk Mengkhatamkan dalam 30 Hari
Pertemuan berakhir tanpa kesepakatan yang direncanakan, menunjukkan betapa sulitnya mencapai perdamaian dalam konflik Ukraina-Rusia. (*)
Editor : Adetio Purtama