Pemilihan Paus baru berawal saat Konklaf dimulai pada 7 Mei 2025 dan berlangsung selama dua hari. Sebanyak 133 kardinal berpartisipasi dalam pemungutan suara.
Setelah tiga putaran, akhirnya asap putih keluar dari cerobong Kapel Sistina, menandakan bahwa paus baru telah terpilih.
Langit Vatikan tampak cerah saat ribuan umat Katolik memenuhi Lapangan Santo Petrus, menanti momen bersejarah.
Setelah dua hari konklaf yang penuh doa dan diskusi, akhirnya asap putih mengepul dari cerobong Kapel Sistina, pertanda bahwa dunia telah memiliki Paus baru.
Saat Robert Francis Prevost muncul di balkon Basilika Santo Petrus, sorakan riuh memenuhi udara. Dengan senyum tenang, ia menyapa umat dan memperkenalkan dirinya sebagai Paus Leo XIV, paus pertama dalam sejarah yang berasal dari Amerika Serikat.
Terpilihnya Robert Francis Prevost sebagai Paus ke-267 menjadi momen bersejarah bagi Gereja Katolik.
Perjalanan Hidup Paus Leo XIV
Lahir pada 14 September 1955 di Chicago, Illinois, Robert Francis Prevost tumbuh dalam keluarga yang memiliki akar Prancis-Italia dan Spanyol. Sejak muda, ia menunjukkan ketertarikan pada teologi dan pelayanan sosial, yang membawanya bergabung dengan Ordo Santo Agustinus.
Pada 1985, ia dikirim sebagai misionaris ke Peru, di mana ia bekerja selama lebih dari satu dekade, melayani komunitas miskin dan membantu membangun gereja serta sekolah.
Pengalamannya di Peru membentuknya menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat, memahami tantangan sosial yang dihadapi umat Katolik di berbagai belahan dunia.
Setelah kembali ke Amerika Serikat, ia menjabat sebagai Prior Jenderal Ordo Santo Agustinus, sebelum akhirnya dipanggil kembali ke Peru oleh Paus Fransiskus pada 2014, untuk menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Chiclayo.
Baca Juga: Manchester United Hajar Bilbao 4-1, Jumpa Spurs di Final Liga Europa 2025
Sebagai Paus Leo XIV, Prevost diharapkan membawa reformasi dalam Gereja Katolik, terutama dalam isu geopolitik, krisis iklim, dan inklusivitas. Ia dikenal sebagai sosok yang moderat mampu menjalin hubungan dengan berbagai pihak di dalam Kuria Roma.
Dalam pidato pertamanya sebagai Paus, ia menekankan pentingnya persatuan dan kasih, serta berjanji untuk mendekatkan Gereja kepada umat, terutama mereka yang berada di pinggiran sosial.
Terpilihnya Paus Leo XIV mendapat sambutan hangat dari berbagai pemimpin dunia. Presiden AS Donald Trump mengucapkan selamat, sementara Vatikan News menyebut pemilihannya sebagai momen bersejarah bagi Gereja Katolik.
Dengan kepemimpinan yang berakar pada pengalaman misionaris dan pelayanan sosial, Paus Leo XIV diharapkan membawa angin segar bagi Gereja Katolik, menjadikannya lebih inklusif dan relevan di era modern.(*)
Editor : Hendra Efison