
Penulis : Mahyeldi Ansharullah - Gubernur Sumatera Barat
Setiap 1 Juni, Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah momentum yang tidak hanya mengingatkan kita pada rumusan dasar negara, tetapi juga mengajak seluruh anak bangsa untuk kembali merenungkan tujuan besar bernegara yang diwariskan para pendiri republik.
Di tengah berbagai tantangan global dan nasional yang semakin kompleks, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti pada seremoni dan slogan. Momentum ini harus menjadi ruang refleksi kolektif untuk memastikan bahwa arah pembangunan bangsa tetap berjalan di atas rel yang digariskan oleh Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
Hari ini dunia sedang menghadapi ketidakpastian yang besar. Konflik geopolitik yang terus meningkat di berbagai kawasan memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas global.
Ancaman perang terbuka antarnegara besar, krisis energi, perubahan iklim, gangguan rantai pasok pangan dunia, hingga perlambatan ekonomi global menjadi tantangan nyata yang tidak dapat diabaikan.
Dalam situasi seperti itu, Pancasila kembali menunjukkan relevansinya sebagai kompas kebangsaan. Nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial menjadi fondasi agar Indonesia mampu berdiri tegak di tengah gelombang perubahan dunia.
Namun tantangan bangsa tidak hanya datang dari luar negeri. Di dalam negeri, pemerintah pusat dan daerah juga menghadapi tantangan fiskal yang semakin berat. Keterbatasan ruang anggaran, dinamika Transfer ke Daerah (TKD), tuntutan pelayanan publik yang terus meningkat, serta kebutuhan pembangunan yang semakin besar mengharuskan seluruh elemen bangsa bekerja lebih efektif dan produktif.
Bagi Sumatera Barat, tantangan tersebut dirasakan secara nyata. Dalam beberapa tahun terakhir, daerah ini menghadapi berbagai bencana hidrometeorologi yang berdampak besar terhadap masyarakat, infrastruktur, sektor pertanian, dan aktivitas ekonomi. Banjir, longsor, galodo, serta cuaca ekstrem telah menguji ketahanan masyarakat dan pemerintah daerah.
Musim kemarau pada tahun 2026 diprediksi datang lebih awal dan lebih panjang, diperparah oleh potensi fenomena El Nino. Kondisi ini memicu ancaman serius kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Dalam tiga bulan pertama tahun ini saja, tercatat puluhan ribu hektar lahan terancam terbakar jika kita tidak waspada dengan lonjakan titik panas (hotspot) yang signifikan.
Namun di balik berbagai ujian tersebut, semangat gotong royong masyarakat Sumbar kembali membuktikan dirinya sebagai kekuatan sosial yang luar biasa.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



