Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Presiden Madagaskar Bubarkan Pemerintahan Usai Protes Besar Gen Z Soal Listrik dan Air

Heri Sugiarto • Selasa, 30 September 2025 | 11:37 WIB

Para pengunjuk rasa berlarian saat polisi anti huru hara menggunakan gas air mata dalam demonstrasi menentang pemadaman listrik dan kekurangan air yang sering terjadi, di Madagaskar. (Foto: Reuters)
Para pengunjuk rasa berlarian saat polisi anti huru hara menggunakan gas air mata dalam demonstrasi menentang pemadaman listrik dan kekurangan air yang sering terjadi, di Madagaskar. (Foto: Reuters)
PADEK.JAWAPOS.COM-Presiden Madagaskar Andry Rajoelina mengumumkan pembubaran pemerintahannya pada 29 September 2025, menyusul protes besar-besaran yang dipimpin oleh kaum muda terkait pemadaman listrik dan kurangnya pasokan air.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sedikitnya 22 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka dalam aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan tersebut.

Demonstrasi yang dimulai pada 25 September 2025, dipicu oleh kekecewaan terhadap pemadaman listrik berkepanjangan dan pasokan air yang tidak stabil di ibu kota, Antananarivo.

Protes ini terinspirasi oleh gerakan serupa di Kenya dan Nepal, yang dikenal dengan sebutan "Gen Z protests".

Para demonstran menuntut perbaikan layanan dasar dan mengkritik pemerintah atas ketidakmampuannya mengatasi masalah tersebut.

Spanduk di salah satu demonstrasi minggu lalu di Antananarivo bertuliskan: "Kami tidak ingin masalah, kami hanya ingin hak kami".

Pada 26 September, Menteri Energi diberhentikan, namun ketegangan terus meningkat. Pada 29 September, Rajoelina mengumumkan pembubaran pemerintah dan menyatakan bahwa pejabat yang tersisa akan menjalankan tugas sementara hingga pembentukan kabinet baru.

Pemerintah memberlakukan jam malam dari pukul 19.00 hingga 05.00 di ibu kota, Antananarivo, untuk mengendalikan situasi.

Namun, PBB mengkritik penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat keamanan, termasuk penggunaan peluru karet dan gas air mata.

Para demonstran terus menuntut perubahan signifikan dalam pemerintahan. Aksi ini dikenal sebagai “Gen Z protests”, dengan slogan: “We want to live, not survive”.

Menurut PBB, korban tewas termasuk pengunjuk rasa dan warga sipil yang terkena tindakan aparat keamanan, serta korban kekerasan dan penjarahan oleh individu atau kelompok yang tidak terkait dengan demonstran.

Rajoelina mengakui kegagalan pemerintahannya dan berjanji untuk melakukan reformasi. Namun, ia menegaskan tidak akan mengundurkan diri.

"Kami mengakui dan meminta maaf jika anggota pemerintah belum melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka," kata Rajoelina dalam pidato di lembaga penyiaran negara Televiziona Malagasy (TVM).

Presiden mengatakan ia ingin menciptakan ruang untuk berdialog dengan kaum muda, dan menjanjikan langkah-langkah untuk mendukung bisnis yang terkena dampak penjarahan.

"Saya memahami kemarahan, kesedihan, dan kesulitan yang ditimbulkan oleh pemadaman listrik dan masalah pasokan air. Saya mendengar aspirasinya, saya merasakan penderitaannya, saya memahami dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari," ujarnya.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#Andry Rajoelina #protes Gen Z #madagaskar #pbb #unjuk rasa Madagaskar #pemerintah Madagaskar