Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mojtaba Khamenei dan Teka-Teki Fatwa Antinuklir Iran

Novitri Selvia • Kamis, 5 Maret 2026 | 11:30 WIB

TAK KALAH GARANG: Mojtaba Khamenei (tengah) anak dari Ayatollah Ali Khamenei.
TAK KALAH GARANG: Mojtaba Khamenei (tengah) anak dari Ayatollah Ali Khamenei.

PADEK.JAWAPOS.COM-KALAU niat sebenarnya Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran adalah mengganti rezim Ayatollah Ali Khamenei, bisa dipastikan tujuan itu gagal tercapai.

Khamenei memang meninggal akibat serangan kedua negara tersebut, tapi sang anak yang jadi pengganti, Mojtaba Khamenei, punya latar belakang tak kalah garang.

Mengutip situs iranintl.com, pria kelahiran Mashhad 56 tahun lalu itu dikabarkan ditunjuk Majelis Pakar Selasa (3/3) lalu sebagai Pemimpin Tertinggi, meski belum ada pengumuman resmi dari Teheran sampai dengan kemarin (4/3).

Jika benar, penunjukan itu tergolong di luar kebiasaan Iran. Selama ini negeri yang dulu bernama Persia itu menentang tradisi keturunan.

Mojtaba juga bukan seorang ulama terkemuka dan tak pernah memegang jabatan publik. Tapi dia tumbuh di masa ketika ayahnya terlibat aktif dalam Revolusi Islam yang berhasil menggulingkan Shah Iran pada 1979.

Dia juga ikut berjuang dalam Perang Iran–Irak yang berlangsung sekitar delapan tahun sejak 1980 dan dikenal dekat dengan Garda Revolusi.

Pertanyaan besarnya kini, apakah Mojtaba juga akan bersikap serupa seperti sang ayah terkait senjata nuklir? Selama ini dia lebih banyak berperan di balik layar untuk membantu Khamenei.

Mengutip media terkemuka Mesir Ahram Online, dengan menewaskan Khamenei, sebenarnya AS dan Israel justru seperti menumpas kebijakan antinuklir Iran.

Pada pertengahan 1990-an, pengganti Ayatollah Khomeini itu pernah mengeluarkan fatwa berisi larangan Iran membuat senjata nuklir.

Fatwa tersebut kemudian diumumkan secara terbuka pada Oktober 2003 dan pada Agustus 2005 disampaikan secara resmi dalam pertemuan Badan Tenaga Atom Dunia. Dan, Iran mematuhi benar fatwa itu.

“Seorang pemimpin agama tak boleh berbohong seperti politisi. Jadi ketika beliau (Khamenei) mengumumkan kalau kami tak akan membuat senjata nuklir, itu artinya kami tak akan membuatnya,” kata Presiden Iran Masoud Pezeshkian jelang perundingan program nuklir babak ketiga dengan AS pekan lalu seperti dikutip dari Ahram Online.

Di kalangan Syiah, yang merupakan mayoritas di Iran, masih mengutip Ahram Online, wajib hukumnya taklid kepada ajaran atau fatwa ulama yang dianggap berpengetahuan luas, dengan catatan selama sang ulama masih hidup.

Sewaktu sang ulama meninggal, para Imam Syiah harus memilih ulama berpengetahuan luas lainnya untuk kemudian diikuti umat. Katakanlah itu Mojtaba setelah resmi jadi Pemimpin Tertinggi.

Tapi pertanyaannya, apakah dia akan mengeluarkan fatwa serupa sang ayah? Kalau tidak, bisa dibayangkan betapa cemasnya Washington DC dan Tel Aviv. (ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#Fatwa Antinuklir Iran #perang iran vs as #Mojtaba Khamenei #Masoud Pezeshkian