Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

10 Bom Melintas di Atas KBRI, WNI Ungkap Mencekamnya Serangan di Teheran

Novitri Selvia • Kamis, 12 Maret 2026 | 11:53 WIB

JEJAK GEMPURAN: Asap dari sebuah ledakan terlihat dari dekat Bank Sepah di Teheran, Iran, kemarin.
JEJAK GEMPURAN: Asap dari sebuah ledakan terlihat dari dekat Bank Sepah di Teheran, Iran, kemarin.

PADEK.JAWAPOS.COM-AWALNYA Zulvan Lindan hendak berobat di salah satu klinik di Iran. Namun, dia malah terjebak di medan perang dan menjadi saksi dahsyatnya ledakan bom.

Zulvan merupakan satu di antara 32 WNI yang dievakuasi dari Iran. Dia tiba Selasa (10/3) petang di tanah air.

Bukan kali pertama Zulvan bepergian ke Iran. Anggota DPR RI periode 2014-2019 itu sudah beberapa kali bertolak ke Negeri Para Mullah dalam rangka pengobatan akibat stroke.

Dia berobat ke Iran karena kualitas akupuntur-nya yang dinilai bagus. Selain itu, harganya juga sangat terjangkau. “Saya mau berobat. Baru empat hari berobat, eh ada bom di Teheran,” ujarnya.

Pada hari pertama serangan AS-Israel ke Iran, Zulvan tengah berada Qom, sekitar 30 Km dari titik pengeboman. Gempuran itu terjadi sekitar pukul 02.00 pagi, sesaat sebelum sahur.

“Tiba-tiba ada suara keras yang menggoncang. Kita belum tahu itu apa, sampai jam 04.00 waktu setempat baru diumumkan.
Ada pengeboman di rumah Syed Ali Khamenei,” kenangnya.

Karena serangan AS-Israel semakin membabi buta dan menargetkan sekolah, rumah sakit, dan tempat publik lainnya, Zulvan memutuskan untuk ikut rombongan evakuasi.

Dia segera berangkat ke Teheran menuju kantor KBRI Teheran.
Namun, kondisi di Teheran justru lebih mencekam. Dia tak hanya mendengar suara ledakan, tapi sempat menyaksikan sebuah gedung hancur usai terkena serangan rudal.

“Bukan mendengar lagi, kita lihat (rudal, red) terbang di atas rooftop hotel. Jadi saya lihat jatuh di 1 Km dari hotel,” ungkapnya.

Di KBRI Teheran, Zulvan mengalami kondisi serupa. “Itu 10 bom lewat di atas KBRI. Bayangkan, bom seberat 1 kilo sampai 2 kilo itu luar biasa efeknya,” sambungnya.

Menurutnya, para WNI yang berkumpul di KBRI sempat lari menyelamatkan diri menuju basemen. Saking kuatnya suara rudal yang melintas dan ledakan yang terjadi.

“Yang kita dengar itu ternyata bukan hanya rudal yang ditembak masuk ke Iran aja, ketika Iran menembakkan rudal suaranya juga kedengaran sangat kuat,” paparnya.

Dia dievakuasi menuju Azerbaijan. Rombongan berangkat sekitar Kamis dini hari lewat jalur darat.

Rombongan harus menempuh perjalanan sekitar sembilan jam sebelum tiba diperbatasan Iran dengan Azerbaijan. Di sana, WNI harus menunggu cukup lama untuk pengecekan imigrasi.

Begitu melintas, mereka langsung menuju Baku. Di Baku, para WNI ditempatkan di hotel selama tiga hari. Lalu, diterbangkan menuju Jakarta.

Hal senada disampaikan oleh WNI yang menjadi pelajar di Iran, Muhammad Jawad. Dia dan istrinya, Zaenab Al-kubro mengaku syok ketika menyaksikan dahsyatnya efek rudal.

Itu menjadi momen pertama, sebab, mereka biasa tinggal di Masyhad, yang cukup jauh dari Teheran.

Efek serangan yang dirasakan adalah pemutusan seluruh jaringan internet internasional. Sehingga, aplikasi-aplikasi buatan nonIran seperti WhatsApp (WA), Telegram, Facebook dan sebagainya tidak bisa digunakan.

Menurut Zaenab, masyarakat Teheran sudah terbiasa mendengar suara ledakan.

“Kalau bagi kami yang baru pertama kali mendengar, memang kami syok. Padahal, tidak melihat secara langsung, cuma hanya mendengar saja,” tutur Zaenab.

Ketika perang berkecamuk, lanjut Zaenab, masyarakat Iran justru tidak bersembunyi. Mereka justru melakukan tajammu atau berkumpul di titik-titik khusus untuk meneriakkan selogan-slogan dan kecintaan mereka terhadap pemimpin mereka.

“Kami pun sempat ikut tajammu ini sebagai bentuk dukungan,” jelasnya. (mia/aph/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#KBRI Teheran #perang Iran AS Israel #evakuasi wni