PADEK.JAWAPOS.COM – Pemerintah Kota New York mengumumkan program N.Y.C. Groceries, jaringan toko bahan pangan milik pemerintah yang menjanjikan harga lebih murah 30 persen dibandingkan harga pasar untuk barang kebutuhan pokok. Program ini menjadi salah satu pilar utama agenda keterjangkauan biaya hidup pemerintahan Wali Kota Zohran Mamdani.
Dalam pengumuman bersama Wakil Wali Kota Bidang Keadilan Ekonomi Julie Su dan New York City Economic Development Corporation (NYCEDC), Rabu (29/7/2026) waktu setempat, Mamdani menjelaskan bahwa paket barang kebutuhan pokok tersebut mencakup seluruh buah dan sayuran segar, daging, makanan laut, serta sekitar 20 kategori produk lainnya, termasuk bahan makanan kering, produk susu, dan makanan yang memerlukan pendingin.
Diskon 30 persen tersebut akan berlaku bagi seluruh pelanggan tanpa memandang tingkat pendapatan. Harga produk kebutuhan pokok tetap setiap bulan sehingga lebih stabil dan mudah diprediksi dibandingkan harga di supermarket swasta yang dapat berubah dari minggu ke minggu.
Pemerintah Kota New York memperkirakan kebijakan itu dapat memangkas rata-rata pengeluaran belanja kebutuhan pangan warga sekitar 15 persen, atau setara sekitar US$90 per bulan dan hampir US$1.000 per tahun.
Lima Toko Dibangun dengan Anggaran US$70 Juta
Untuk merealisasikan program tersebut, Pemerintah Kota mengalokasikan US$70 juta dalam anggaran belanja modal untuk membangun lima gerai N.Y.C. Groceries, masing-masing satu di setiap wilayah administratif New York.
Gerai pertama ditargetkan mulai beroperasi di Hunts Point, Bronx, sebelum akhir 2027. Pemerintah memilih lokasi tersebut karena sekitar 77 persen rumah tangga di Hunts Point mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, sehingga dinilai menjadi salah satu wilayah dengan kebutuhan tinggi terhadap akses pangan yang lebih terjangkau.
Selanjutnya, toko akan dibuka di La Marqueta, East Harlem, serta di Brooklyn, Queens, dan Staten Island, dengan target seluruh jaringan beroperasi sebelum berakhirnya masa jabatan pertama Mamdani.
Pemerintah Gandeng Operator Swasta
Meski merupakan inisiatif pemerintah kota, operasional harian toko tidak akan dijalankan oleh pemerintah secara langsung.
Pemerintahan Mamdani telah menerbitkan Request for Proposals (RFP) untuk memilih operator toko kelontong swasta yang akan mengelola satu atau lebih gerai N.Y.C. Groceries.
Operator yang terpilih nantinya bertanggung jawab atas kegiatan operasional sehari-hari, termasuk pengelolaan barang dagangan, pengadaan produk, perekrutan tenaga kerja, layanan pelanggan, keamanan toko, serta pengelolaan persediaan.
Sementara itu, Pemerintah Kota akan menetapkan misi program, standar operasional, desain toko, serta kebijakan harga.
Pemerintah juga menyediakan lokasi usaha dan menanggung sebagian besar biaya okupansi yang umumnya menjadi beban peritel swasta.
Selain itu, operator bersama NYCEDC akan mengeksplorasi peluang menghadirkan produk dengan merek N.Y.C. Groceries pada berbagai kategori kebutuhan pokok.
Dibangun dengan Model Kemitraan Publik-Swasta
Melalui dokumen kebijakan "N.Y.C. Groceries: A Recipe for Affordability", Pemerintah Kota menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai model supermarket kota pertama di kota besar Amerika Serikat yang menggabungkan kepemilikan publik dengan pengelolaan oleh operator swasta.
Program tersebut dibangun di atas sejumlah prinsip utama, antara lain meningkatkan keterjangkauan pangan, menjaga harga kebutuhan pokok tetap stabil, memilih lokasi berdasarkan kebutuhan masyarakat, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta memperkuat ekosistem distribusi bahan pangan yang telah ada di New York.
Pemerintah juga menyebut hampir 80 persen warga New York mengaku khawatir terhadap terus meningkatnya harga bahan pangan, sehingga kehadiran N.Y.C. Groceries diharapkan dapat menjadi layanan publik yang membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Dalam keterangannya, Mamdani mengatakan warga New York tidak seharusnya merasa cemas setiap kali berbelanja kebutuhan sehari-hari akibat kenaikan harga yang tidak menentu.
Ia menyebut program tersebut akan memberikan potongan harga pada berbagai kebutuhan pokok, termasuk telur, susu, ayam, buah-buahan, dan sayuran segar, sehingga masyarakat memperoleh harga yang lebih stabil.
Ekonom Pertanyakan Keberlanjutan Skema
Meski demikian, program tersebut memicu kritik dari sejumlah ekonom dan pelaku usaha.
Dikutip dari Fox News, Kepala Ekonom Heritage Foundation, E.J. Antoni, mempertanyakan keberlanjutan model pembiayaan program tersebut. Menurutnya, supermarket umumnya hanya memperoleh margin laba sekitar 2 persen, sehingga diskon sebesar 30 persen dinilai sulit dipertahankan tanpa dukungan dana publik.
Antoni berpendapat selisih harga tersebut pada akhirnya akan ditanggung oleh pembayar pajak. Ia juga menilai supermarket swasta berpotensi dirugikan karena harus bersaing dengan toko yang memperoleh dukungan pemerintah untuk menekan biaya operasional.
Kritik serupa juga disampaikan sejumlah ekonom lain yang mempertanyakan bagaimana Pemerintah Kota menghitung target diskon 30 persen, apakah asumsi keuangannya telah ditelaah oleh ekonom independen, serta berapa besar dukungan anggaran yang dibutuhkan agar program tetap berjalan dalam jangka panjang.(*)
Editor : Heri Sugiarto