Penulis : Dr. Yenni Hayati - Dosen Program Studi Sastra Indonesia FBS UNP
BAHASA Indonesia hari ini terdengar berbeda dari dua dekade lalu. Bukan karena tata bahasanya berubah drastis, melainkan karena penuturnya, terutama generasi milenial yang terus menciptakan cara baru untuk berkomunikasi. Fenomena ini bukan sekadar gaya bahasa sesaat, melainkan cerminan bagaimana teknologi, budaya populer, dan identitas sosial membentuk cara sebuah generasi berbicara.
Bahasa sebagai Cermin Zaman
Setiap generasi memang mewariskan jejak linguistik masing-masing. Namun, generasi milenial yang tumbuh bersamaan dengan ledakan internet, media sosial, dan budaya pop global, memiliki karakteristik kebahasaan yang khas sperti campur kode antara bahasa Indonesia dan Inggris dan bahasa lainnya, singkatan yang lahir dari keterbatasan karakter di platform digital, serta kosakata baru yang lahir dari meme dan tren daring. Fenomena ini dalam linguistik disebut sebagai variasi bahasa yang dipengaruhi faktor usia dan medium komunikasi. Generasi milenial tidak sedang “merusak” bahasa, melainkan melakukan apa yang secara alami dilakukan setiap generasi muda: menegosiasikan identitas melalui bahasa.
Ada beberapa fenomena terkait bahasa saat ini, seperti campur kode yang natural. Ungkapan seperti “aku tuh literally capek banget” atau “which is, dia emang salah sih” menunjukkan bagaimana kosakata bahasa Inggris disisipkan bukan untuk gaya-gayaan semata, tetapi karena kata tersebut dianggap lebih presisi menyampaikan nuansa emosi. Kata “literally” misalnya, berfungsi sebagai penekan (intensifier) yang tidak sepenuhnya tergantikan oleh “benar-benar” dalam konteks percakapan santai. Di samping itu, ada singkatan dan akronim baru seperti “gws” (get well soon), “btw” (by the way), atau yang lebih lokal seperti “gaskeun” (dari “gas” plus akhiran “-keun” ala bahasa Sunda) menunjukkan kreativitas morfologis. Menariknya, “gaskeun” adalah contoh hibridisasi bahasa daerah dengan semangat bahasa gaul nasionalbukti bahwa bahasa milenial tidak melulu berkiblat ke Barat. Kemudian, Makna baru untuk kata lama, seperti kata “healing” kini jarang dimaknai sebagai proses penyembuhan psikologis serius, melainkan jalan-jalan santai untuk melepas penat. Begitu pula “self-reward” yang bergeser menjadi pembenaran untuk belanja impulsif. Pergeseran makna ini menunjukkan bagaimana istilah psikologi populer “diturunkan” ke ranah sehari-hari lewat proses yang disebut semantic bleaching yaitu melunturnya makna asli sebuah kata karena pemakaian yang terlalu luas. Penggunaan partikel dan penegas khas generasi juga muncul, seperti “sih”, “deh”, “banget”, dan yang lebih baru “which is” atau “literally” berfungsi sebagai penanda emosi dan sikap penutur. Menariknya, penggunaan “which is” sebagai penghubung kalimat (bukan dalam fungsi tata bahasa Inggris yang semestinya) adalah bentuk reanalisis gramatikal. Kata tersebut dipinjam fungsinya, bukan maknanya secara harfiah. Bahasa visual emoji dan singkatan tulis juga tergambar dalam bahasa generasi milenial, seperti huruf kapital untuk penekanan (“KOK BISA”), pengulangan huruf untuk intonasi (“mauuu banget”), atau emoji yang berfungsi sebagai penanda nada, bukan sekadar hiasan. Ini adalah adaptasi bahasa lisan ke dalam ruang tulis digital yang serba cepat dan informal.
Dari sisi pola pembentukan kata, penelitian deskriptif-kualitatif terhadap bahasa gaul remaja milenial di Facebook, Twitter, dan Instagram menemukan bahwa kosakata baru itu tidak hanya diserap dari bahasa asing, tetapi juga dari bahasa daerah dan gabungan keduanya, dengan pola pembentukan yang beragam, seperti singkatan, pemendekan kata, akronim, pembalikan kata (seperti “sabi” dari “bisa”), kata plesetan, hingga pergeseran makna. Penelitian yang sama juga memetakan fungsi sosialnya—bahasa gaul dipakai bukan hanya untuk menyapa atau bercanda, tetapi juga untuk menyindir, membangun keakraban pertemanan, dan menandai eksklusivitas kelompok. Sementara itu, kajian tentang idiom ragam gaul generasi milenial di media sosial (dipublikasikan di jurnal ESTETIK, 2025) menegaskan bahwa variasi bahasa semacam ini bukan gejala acak, melainkan hasil kreativitas linguistik yang terpola dan bisa dianalisis secara sistematis dari sudut pandang sosiolinguistik.
Mengapa Ini Terjadi?
Ada beberapa faktor pendorong yang bisa dijelaskan secara linguistik dan sosiologis. Pertama, paparan media digital lintas bahasa. Generasi milenial tumbuh menonton konten berbahasa Inggris dari YouTube hingga serial Netflix, sehingga kosakata asing terserap secara alami ke dalam repertoar bahasa sehari-hari mereka. Kedua, kebutuhan efisiensi komunikasi digital. Batasan karakter di Twitter (kini X) dan kecepatan chat mendorong lahirnya singkatan dan akronim. Ketiga, pembentukan identitas kelompok. Bahasa gaul berfungsi sebagai penanda in-group, yaitu cara mengenali sesama anggota generasi dan membedakan diri dari generasi sebelumnya maupun sesudahnya (Gen Z, misalnya, punya istilah sendiri seperti “rizz” atau “delulu” yang justru dianggap asing oleh milenial).
Sebagian pemerhati bahasa mengkhawatirkan fenomena ini sebagai ancaman terhadap kemurnian bahasa Indonesia. Namun, perspektif linguistik modern justru melihatnya sebagai bukti bahwa bahasa Indonesia hidup dan dinamis. Bahasa yang tidak berubah adalah bahasa yang mati, seperti bahasa Latin klasik yang kini hanya dipelajari, bukan dituturkan. Yang perlu diwaspadai bukan perubahan itu sendiri, melainkan hilangnya kemampuan berbahasa Indonesia baku dalam konteks formal. Di sinilah pentingnya kesadaran berbahasa untuk mengetahui kapan menggunakan ragam santai dan kapan menggunakan ragam resmi (diglosia fungsional).
Fenomena kebahasaan generasi milenial bukan sekadar tren yang lucu untuk dibahas di media sosial, melainkan jendela untuk memahami bagaimana sebuah generasi memaknai dunia, membangun identitas, dan beradaptasi dengan teknologi. Bahasa gaul milenial hari ini mungkin akan menjadi kosakata baku yang dianggap wajar oleh generasi mendatang, sebagaimana kata “gaul” sendiri dulunya juga dianggap tidak baku sebelum akhirnya masuk kamus. Pada akhirnya, memahami fenomena ini bukan soal menghakimi benar-salah, tetapi soal menghargai bahasa sebagai organisme hidup yang terus tumbuh bersama penuturnya. (*)
Editor : Adriyanto Syafril