Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Fenomena Kebahasaan Generasi Milenial

Yenni Hayati • Sabtu, 18 Juli 2026 | 09:55 WIB
Dr. Yenni Hayati
Dr. Yenni Hayati

Penulis : Dr. Yenni Hayati - Dosen Program Studi Sastra Indonesia FBS UNP

BAHASA Indonesia hari ini terdengar berbeda dari dua dekade lalu. Bukan karena tata bahasanya berubah drastis, melainkan karena penuturnya, terutama generasi milenial yang terus menciptakan cara baru untuk berkomunikasi. Fenomena ini bukan sekadar gaya bahasa sesaat, melainkan cerminan bagaimana tek­nologi, budaya populer, dan identitas sosial membentuk cara sebuah generasi berbicara.

Bahasa sebagai Cermin Zaman

Setiap generasi memang mewariskan jejak linguistik masing-masing. Namun, generasi milenial yang tumbuh bersamaan dengan ledakan internet, media sosial, dan budaya pop global, memiliki ka­rak­­teristik kebahasaan yang khas sperti campur kode  anta­ra bahasa Indonesia dan Ing­­gris dan bahasa lainnya, singkatan yang lahir dari keterbatasan karakter di platform digital, serta kosakata baru yang lahir dari meme dan tren daring. Fenomena ini dalam linguistik di­sebut sebagai variasi bahasa yang dipengaruhi faktor usia dan me­dium komunikasi. Generasi milenial tidak sedang “merusak” bahasa, melainkan melakukan apa yang secara alami dilakukan setiap generasi muda: menegosiasikan identitas melalui bahasa.

Ada beberapa fenomena terkait bahasa saat ini, seperti campur kode yang natural. Ungkapan se­per­ti “aku tuh literally capek banget” atau “which is, dia emang salah sih” menunjukkan bagaimana kosakata bahasa Inggris disisipkan bukan untuk gaya-gayaan semata, tetapi karena kata tersebut dianggap le­bih presisi menyampaikan nuansa emosi. Kata “literally” misalnya, berfungsi sebagai penekan (intensifier) yang tidak sepenuhnya tergantikan oleh “benar-benar” dalam konteks percakapan santai. Di sam­ping itu, ada singkatan dan ak­ronim baru seper­ti “gws” (get well soon), “btw” (by the way), atau ya­ng lebih lokal seperti “gaskeun” (da­ri “gas” plus akhiran “-keun” ala ba­­hasa Sunda) menunjukkan krea­­tivitas morfologis. Menarik­nya, “gaskeun” adalah contoh hib­ridisasi bahasa daerah dengan semangat bahasa gaul nasionalbukti bahwa bahasa milenial tidak melulu berkiblat ke Barat. Kemudian, Makna baru untuk kata lama, seperti kata “healing” kini jarang di­maknai sebagai pro­ses penyembuhan psikologis serius, melainkan jalan-jalan santai untuk mele­pas penat. Begitu pula “self-reward” yang bergeser menjadi pem­be­naran untuk belanja impulsif. Pergeseran makna ini menunjukkan bagaimana istilah psikologi populer “diturunkan” ke ranah sehari-hari lewat proses yang disebut semantic bleaching yaitu melunturnya makna asli sebuah kata karena pemakaian yang terlalu luas. Penggunaan partikel dan penegas khas generasi juga muncul, seperti “sih”, “deh”, “banget”, dan yang lebih baru “which is” atau “lite­ra­lly” berfungsi sebagai penanda emosi dan sikap penutur. Menariknya, penggunaan “which is” sebagai penghubung kalimat (bukan dalam fungsi tata bahasa Inggris yang semestinya) adalah bentuk reanalisis gramatikal. Kata tersebut dipinjam fungsinya, bukan maknanya secara harfiah. Bahasa visual emoji dan singkatan tulis juga tergambar dalam bahasa generasi milenial, seper­ti huruf kapital untuk penekanan (“KOK BISA”), pengulangan huruf untuk intonasi (“mauuu banget”), atau emoji yang berfungsi sebagai penanda nada, bukan sekadar hiasan. Ini ada­lah adaptasi bahasa lisan ke dalam ruang tulis digital yang serba cepat dan informal.

Dari sisi pola pembentukan kata, penelitian deskriptif-kualitatif terhadap bahasa gaul remaja milenial di Facebook, Twitter, dan Instagram menemukan bahwa kosakata baru itu tidak hanya dise­rap dari bahasa asing, tetapi juga dari bahasa daerah dan gabungan ke­duanya, dengan pola pembentukan yang beragam, seper­ti  si­ng­katan, pemendekan kata, akronim, pembalikan kata (seperti “sabi” dari “bisa”), kata plesetan, hingga pergeseran makna. Penelitian yang sama juga memetakan fungsi so­sial­nya—bahasa gaul dipakai bukan hanya untuk menyapa atau bercanda, tetapi juga untuk me­nyin­dir, membangun ke­akraban perte­manan, dan menandai ek­s­klu­sivi­tas kelompok. Sementara itu, kajian tentang idiom ragam gaul generasi milenial di media sosial (dipublikasikan di jurnal ESTETIK, 2025) menegaskan bahwa variasi bahasa semacam ini bukan gejala acak, melainkan hasil krea­ti­vitas linguistik yang terpola dan bi­sa dianalisis secara sis­tematis da­ri sudut pandang sosiolinguistik.

Mengapa Ini Terjadi?

Ada beberapa faktor pendo­rong yang bisa dijelaskan secara linguistik dan sosiologis. Pertama, paparan media digital lintas bahasa. Generasi milenial tumbuh menonton konten berbahasa Inggris dari YouTube hingga serial Netflix, sehingga kosakata asing ter­se­rap secara alami ke dalam repertoar bahasa sehari-hari mereka. Ke­dua, kebutuhan efisiensi ko­mu­ni­kasi digital. Batasan karakter di Twitter (kini X) dan kecepatan chat mendorong lahirnya singkatan dan akronim. Ketiga, pembentukan identitas kelompok. Bahasa gaul berfungsi sebagai penanda in-group, yaitu cara mengenali sesama anggota generasi dan membedakan diri dari generasi sebelumnya maupun sesudahnya (Gen Z, mi­­sal­nya, punya istilah sendiri se­per­ti “rizz” atau “delulu” yang justru dianggap asing oleh milenial).

Sebagian pemerhati bahasa mengkhawatirkan fenomena ini sebagai ancaman terhadap kemurnian bahasa Indonesia. Namun, perspektif linguistik modern jus­tru melihatnya sebagai bukti bahwa bahasa Indonesia hidup dan dinamis. Bahasa yang tidak be­rubah adalah bahasa yang mati, seperti bahasa Latin klasik yang kini ha­nya dipelajari, bukan dituturkan. Yang perlu diwaspadai bukan perubahan itu sendiri, melainkan hilangnya kemampuan berbahasa Indonesia baku dalam konteks formal. Di sinilah pentingnya kesadaran berbahasa untuk me­nge­tahui kapan menggunakan ragam santai dan kapan menggunakan ragam resmi (diglosia fungsi­o­nal).

Fenomena kebahasaan generasi milenial bukan sekadar tren yang lucu untuk dibahas di media sosial, melainkan jendela untuk memahami bagaimana sebuah generasi memaknai dunia, membangun identitas, dan beradaptasi dengan teknologi. Bahasa gaul milenial hari ini mungkin akan menjadi kosakata baku yang dianggap wajar oleh ge­nerasi mendatang, sebagaimana ka­ta “gaul” sendiri dulunya juga dianggap tidak baku sebelum akhir­nya masuk kamus. Pada akhirnya, memahami fenomena ini bukan soal menghakimi benar-salah, tetapi soal menghargai bahasa sebagai organisme hidup yang terus tumbuh bersama penuturnya. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
Laman Kampus