Ketika nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi menggigit manusia, parasit akan masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan berbagai gejala, mulai dari demam, menggigil, hingga kondisi yang lebih serius.
Tidak semua kasus malaria disebabkan oleh satu jenis Plasmodium. Terdapat beberapa spesies Plasmodium yang dapat menginfeksi manusia, masing-masing dengan karakteristik dan tingkat keparahan penyakit yang berbeda.
Di kutip dari laman Kemenkes RI, berikut 5 spesies Plasmodium yang paling umum menyebabkan malaria.
- Plasmodium Falciparum
Jenis Plasmodium ini paling sering menyebabkan malaria berat dan kematian. Siklus hidupnya yang pendek dan kemampuannya untuk menginfeksi berbagai jenis sel darah merah membuat plasmodium falciparum menjadi spesies yang paling berbahaya.
- Plasmodium Vivax
Plasmodium vivax menyebabkan malaria tertiana, ditandai dengan demam yang berulang setiap 48 jam. Spesies ini memiliki kemampuan untuk membentuk bentuk laten (hipnozoit) di dalam hati, yang dapat menyebabkan kekambuhan penyakit setelah beberapa bulan atau bahkan tahun.
- Plasmodium Malariae
Malaria yang disebabkan oleh plasmodium malariae dikenal sebagai malaria kuartana, dengan demam yang berulang setiap 72 jam. Infeksi plasmodium malariae dapat berlangsung kronis dan menyebabkan anemia.
- Plasmodium ovale
Plasmodiun ovale memiliki karakteristik yang mirip dengan plasmodium vivax, termasuk kemampuan membentuk hipnozoit. Namun, infeksi plasmodium ovale umumnya lebih ringan.
- Plasmodium Knowlesi
Awalnya dianggap sebagai parasit primata, plasmodium knowlesi kini diakui sebagai penyebab malaria pada manusia, terutama di Asia Tenggara. Malaria yang disebabkan oleh plasmodiun knowlesi memiliki gejala yang mirip dengan malaria falciparum.
Secara umum, malaria memiliki gejala klinis menggigil, demam tinggi, berkeringat, kelelahan, mual, muntah, diare, hingga nyeri otot. Salah satu upaya pencegahan penularan malaria adalah dengan pengendalian vektornya.
Pengendalian vektor dapat dilakukan pada stadium dewasa maupun pradewasa. Jenis pengendalian vektor bersifat lokal spesifik, disesuaikan dengan perilaku vektor, lingkungan, dan perilaku manusia. Diharapkan dengan metode ini pengendalian vektor yang dilakukan akan lebih optimal. (*)
Editor : Adetio Purtama