Pria Dominasi Kasus HIV di Padang, Dinkes Ungkap Fakta Mengejutkan Tahun 2025
Endang Pribadi• Kamis, 3 Juli 2025 | 20:45 WIB
Stop HIV Pria Dominasi Kasus HIV di Padang, Dinkes: 86 Persen Penderita Berusia Produktif
PADEK.JAWAPOS.COM—Dinas Kesehatan Kota Padang mencatat, jumlah pria yang terpapar HIV jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan. Data terbaru menyebutkan bahwa 86 persen penderita HIV di Kota Padang pada tahun 2024 adalah laki-laki.
“Berdasarkan data di tahun 2024, 86 persen pria terpapar HIV di Kota Padang. Penderita HIV kecenderungannya berusia sangat produktif, berkisar antara 25 hingga 49 tahun,” ujar Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Padang, Evawestari, SKM, M.I.Kom, Kamis (3/7/2025).
Evawestari menyampaikan bahwa lebih dari separuh kasus HIV di Padang berasal dari rujukan luar kota.
“Sebanyak 53 persen kasus HIV di Kota Padang berasal dari rujukan luar kota, bahkan dari provinsi lain. Ini menjadi salah satu alasan tingginya angka HIV di Padang dibandingkan wilayah lain di Sumbar,” katanya.
Secara rinci, jumlah kasus HIV tercatat mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. “Tahun 2018 tercatat 447 kasus, menurun menjadi 311 kasus di tahun 2024. Sementara itu, hingga Juni 2025, tercatat 139 kasus baru,” jelasnya.
Dari sisi wilayah, Kecamatan Koto Tangah masih menjadi wilayah dengan kasus HIV terbanyak. “Kecamatan Koto Tangah sejak dua tahun ini mencatat kasus tertinggi di Kota Padang,” ungkap Evawestari.
Ia pun mengimbau peran aktif orang tua dalam membimbing anak-anak mereka agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas.
“Kami mengimbau agar orang tua mendampingi dan membimbing anak-anaknya. Isi waktu mereka dengan kegiatan agama, olahraga, dan belajar. Tes HIV bisa dilakukan di seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kota Padang,” imbuhnya.
Terpisah, sosiolog dari Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Eka Asih Febriani, S.Pd., M.Pd menyoroti bahwa penyebaran HIV tidak hanya persoalan medis, tetapi juga fenomena sosial yang kompleks.
“Angka tinggi pada laki-laki menandakan kelompok LGBT, terutama gay dan biseksual, memiliki risiko lebih tinggi tertular HIV. Hubungan seksual tanpa kondom, penggunaan narkoba suntik bersama, hingga penularan dari ibu ke anak menjadi faktor utama,” jelas Eka.
Ia menekankan pentingnya deteksi dini sebagai langkah pencegahan. “Anggota keluarga harus menjalin komunikasi aktif, termasuk saat makan bersama, sebagai wadah berbagi cerita dan peringatan akan pentingnya menjaga norma sosial, agama, dan kesehatan,” katanya.
Lebih lanjut, Eka mengingatkan pentingnya perhatian terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) agar tidak mengalami diskriminasi. “Stigma negatif membuat ODHA takut mencari bantuan medis. Ini justru memperburuk penyebaran,” tegasnya.
Ia juga menyarankan agar setiap pasangan yang akan menikah memeriksakan kesehatannya terlebih dahulu. “Salah satu cara memutus mata rantai penyebaran HIV adalah dengan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah di puskesmas atau rumah sakit,” pungkasnya.(*)