Varian influenza A(H3N2) subclade K pertama kali terdeteksi di Amerika pada Agustus 2025. Sejak itu, penyebaran virus terus terpantau dan kini telah dilaporkan di lebih dari 80 negara, termasuk sejumlah negara di kawasan Asia.
Di Indonesia, hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di sebelas provinsi. Kasus terbanyak dilaporkan di Kalimantan Selatan, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus ditemukan pada anak-anak dan perempuan. Kendati demikian, situasi nasional dilaporkan masih terkendali.
Gejala influenza A(H3N2) subclade K pada umumnya serupa dengan flu biasa, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, pegal-pegal, hingga hidung berair. Berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap situasi dan data epidemiologis terkini, varian ini tidak menunjukkan peningkatan keparahan penyakit dibandingkan varian influenza lainnya.
Penularan virus terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk, bersin, berbicara, atau melakukan kontak dekat dengan orang lain. Risiko penularan lebih tinggi di tempat ramai dan ruang tertutup.
Oleh sebab itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi langkah penting untuk melindungi diri, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan penyakit penyerta.
Masyarakat diimbau tidak panik, namun tetap waspada dan disiplin melakukan pencegahan. Upaya yang dapat dilakukan antara lain memakai masker saat sakit atau berada di keramaian, rajin mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, beristirahat cukup, serta menjaga asupan makanan bergizi. Apabila gejala memburuk atau tidak membaik, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Selain itu, vaksinasi flu tahunan direkomendasikan, terutama bagi kelompok berisiko tinggi, anak-anak, lansia, dan orang dengan komorbid. Langkah ini diharapkan dapat menurunkan risiko gejala berat serta melindungi kelompok rentan dari infeksi influenza. (*)
Editor : Adetio Purtama