Upaya antisipasi dinilai penting karena hingga kini belum tersedia vaksin maupun antivirus spesifik untuk virus tersebut.
Aidil menjelaskan, Virus Nipah merupakan virus dari famili Paramyxoviridae yang memiliki perkembangan penyakit cepat.
Pada tahap awal, gejala yang muncul menyerupai flu, namun dapat berkembang menjadi gangguan serius pada sistem saraf pusat.
“Virus ini bersifat zoonotik, artinya dapat menular dari hewan ke manusia, bahkan antarmanusia,” kata Aidil, Rabu (4/2/2026).
Ia menyebutkan, reservoir alami Virus Nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus. Virus ini pertama kali teridentifikasi pada wabah tahun 1999 di Malaysia dengan babi sebagai hewan perantara sebelum akhirnya menular ke manusia.
Penularan kepada manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan atau minuman yang tercemar seperti nira aren, serta melalui droplet pernapasan dan cairan tubuh dari penderita ke orang lain.
Menurut Aidil, gejala awal infeksi Virus Nipah meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan.
Kondisi ini sering disalahartikan sebagai flu biasa sehingga berpotensi terlambat ditangani.
“Pada fase lanjut, virus dapat menyebabkan ensefalitis atau radang otak yang ditandai dengan kebingungan, kejang, gangguan pernapasan berat, hingga koma,” ujarnya.
Tingkat kematian akibat Virus Nipah dilaporkan cukup tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen.
Aidil menambahkan, wabah berulang yang terjadi di sejumlah negara Asia Selatan seperti India dan Bangladesh dipengaruhi oleh deforestasi serta meningkatnya interaksi antara manusia dan hewan liar.
Baca Juga: 9 Daftar Drama Korea Terbaru Februari 2026, Siap Temani Momen Puasa Kamu
Kasus yang muncul pada 2026 di India menunjukkan pentingnya respons cepat untuk mencegah penyebaran luas.
Karena belum adanya vaksin, langkah pencegahan menjadi strategi utama. Ia menekankan pentingnya penerapan higiene perorangan, isolasi pasien terduga, serta perlindungan maksimal bagi tenaga kesehatan yang menangani kasus suspek.
Sebagai upaya individu, masyarakat diimbau mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah kontak dengan hewan atau aktivitas dari luar rumah.
Selain itu, konsumsi nira mentah perlu dihindari, buah harus dicuci dan dikupas dengan bersih, serta tidak mengonsumsi buah yang terdapat bekas gigitan kelelawar.
Di sektor peternakan, Aidil menyarankan agar masyarakat menghindari kontak langsung dengan kelelawar, babi, atau hewan yang sakit.
Penggunaan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan pakaian pelindung diperlukan jika harus berinteraksi dengan hewan berisiko.
Ia juga mendorong penerapan biosekuriti, antara lain dengan melakukan disinfeksi kandang secara rutin, membatasi pohon buah di sekitar peternakan, serta memantau kesehatan ternak secara berkala.
Dari sisi kebijakan, Aidil menilai penguatan surveilans kesehatan di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan sangat penting.
Skrining perjalanan dari daerah endemik, penerapan SOP kekarantinaan kesehatan, serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) perlu terus diperkuat.
“Deteksi dini, isolasi pasien curiga, protokol ketat di rumah sakit, dan komunikasi risiko yang jelas dari Kementerian Kesehatan hingga pemerintah daerah menjadi kunci mencegah penyebaran Virus Nipah secara luas,” tutupnya. (yud)
Editor : Hendra Efison