242 Titik Skrining TBC di Padang, Kemenkes Fokus Lacak Kontak Erat

Randi Zulfahli • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 21:24 WIB
Wamenkes Benyamin Paulus Octavianus, memantau penggunaan alat rontgen portable dan TCM Truenat saat tinjauan Cek Kesehatan Gratis dan Skrining TBC di Padang, Jumat (18/9/2026). (Randi/Padek)
Wamenkes Benyamin Paulus Octavianus, memantau penggunaan alat rontgen portable dan TCM Truenat saat tinjauan Cek Kesehatan Gratis dan Skrining TBC di Padang, Jumat (18/9/2026). (Randi/Padek)

PADEK.JAWAPOS.COM–Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat pencegahan tuberkulosis (TBC) di Kota Padang dengan mendorong pelacakan kontak erat melalui 242 titik skrining. Langkah ini diarahkan untuk menemukan warga yang terpapar sebelum berkembang menjadi TBC aktif.

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benyamin Paulus Octavianus, mengatakan penanganan medis terhadap pasien TBC di Indonesia secara umum sudah berjalan baik. Angka keberhasilan pengobatan pasien TBC bahkan tercatat di atas 90 persen.

Namun, tantangan masih terdapat pada pencegahan dan deteksi dini terhadap warga yang berinteraksi dekat dengan pasien TBC. Menurut Benyamin, warga yang tinggal serumah dengan pasien perlu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui risiko penularan.

"Kalau perkara mengobati orang sakit, di Indonesia enggak ada masalah, dari Aceh sampai Papua sudah bisa dan bagus, masalah kita pencegahannya yang belum jalan," kata Benyamin di sela kegiatan Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) untuk Indonesia Sehat dalam agenda Cek Kesehatan Gratis dan Skrining TB di Kantor Camat Lubukbegalung, Padang, Jumat (18/9/2026).

Bagi warga yang terdeteksi sebagai kontak erat tetapi belum mengalami gejala TBC aktif, pemerintah menyediakan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Terapi tersebut diberikan untuk mencegah infeksi berkembang menjadi penyakit TBC aktif.

"Begitu ditemukan orang enggak sakit tetapi kontak serumah, obat pencegahan langsung dikasih minum seminggu sekali," ujar Benyamin.

Ia menjelaskan, perkembangan TBC tidak selalu langsung menimbulkan gejala setelah seseorang terpapar. Menurutnya, bakteri membutuhkan waktu sekitar 8 hingga 12 minggu untuk berkembang di dalam tubuh.

"Kalau tertular hari ini, sakitnya baru bisa Desember, bukan sakitnya minggu depan," ungkapnya.

Karena itu, Kemenkes mendorong pelacakan aktif atau contact tracing dengan melibatkan pemerintah daerah, kader kesehatan, hingga media massa. Pada tahun ini, Kemenkes memfasilitasi pemeriksaan radiologi X-ray di 53.335 lokasi secara nasional dan menargetkan jumlah tersebut mencapai 100.000 titik pada tahun mendatang.

Khusus di Kota Padang, terdapat 242 titik pelaksanaan skrining yang antara lain diarahkan untuk menemukan kasus TBC dari kelompok kontak erat.

"Di Kota Padang 242 titik acara seperti ini, tujuannya kontak erat yang diperiksa duluan," tutur Benyamin.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, dr. Srikurnia Yati, mengatakan pihaknya telah menggerakkan pemantauan di 11 kecamatan dan mendirikan Kelurahan Siaga Tuberkulosis di 104 kelurahan.

Penelusuran menyasar anggota keluarga, lansia, anak-anak, perokok berat, hingga penderita diabetes melitus. Dari 105 lokasi pelacakan awal, ditemukan 77 kasus terkonfirmasi positif TBC.

"Tracking ini kita laksanakan untuk pasien yang kontak erat, kemudian pasien yang berisiko dan masyarakat yang berisiko," kata Srikurnia.

Kemenkes menetapkan target pencarian kasus TBC di Kota Padang sebanyak 4.800 kasus pada 2026. Hingga pertengahan September 2026, Dinas Kesehatan Kota Padang telah menemukan sekitar 2.700 kasus.

"Target dari Kementerian Kesehatan, kasus TB yang harus kita temukan di tahun 2026 untuk Kota Padang itu 4.800, sampai dengan sekarang kita sudah temukan 2.700 kasus," katanya.

Srikurnia menegaskan, temuan kasus tersebut tidak menunjukkan kegagalan sistem kesehatan. Sebaliknya, angka tersebut mencerminkan upaya penelusuran untuk menemukan kasus dan menekan penularan di masyarakat.

"Kasus kita temukan bukan berarti kekurangan di kita, tapi merupakan suatu upaya di kita untuk menekan penularan," ujarnya.

Untuk memperluas jangkauan pemeriksaan, skrining di lapangan juga memanfaatkan teknologi rontgen portable. Pemkot Padang masih menunggu distribusi tiga unit perangkat bantuan Kemenkes, masing-masing dua unit untuk RSUD Kota Padang dan satu unit untuk RS Universitas Andalas.

Selama pengadaan perangkat tersebut, pemeriksaan lapangan mengoptimalkan alat hasil kolaborasi dengan PDPI. Teknologi tersebut memungkinkan pemeriksaan dilakukan lebih dekat dengan masyarakat sehingga warga tidak harus datang ke rumah sakit.

"Tentunya memudahkan, karena kita bawa ke lapangan, jadi masyarakat tidak perlu datang ke rumah sakit, cukup kita lakukan rontgen di tempat kegiatan," tutur Srikurnia.

Ketua PDPI Sumatera Barat, dr. Masrul Basyar, mengatakan kegiatan pengabdian masyarakat tersebut digelar bersamaan dengan Konferensi Kerja Dokter Paru Seluruh Indonesia XVIII 2026. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mendukung eliminasi TBC pada 2030.

"PDPI Sumatera Barat bersama PDPI Pusat menyelenggarakan pengabdian masyarakat dalam rangka mendukung eliminasi tuberkulosis 2030," kata Masrul.

Masrul juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma negatif kepada penderita TBC. Penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan pengobatan yang disiplin.

"TBC itu penyakit yang bisa disembuhkan, bukan penyakit keturunan dan bukan kutukan," tegasnya.

Pengobatan TBC umumnya berlangsung selama enam bulan. Seluruh Obat Anti Tuberkulosis (OAT) disediakan gratis oleh pemerintah melalui fasilitas kesehatan primer.

Dukungan teknologi dalam skrining turut diberikan Molbio Diagnostics dan PT Norma Diagnostika Indonesia melalui Tes Cepat Molekuler (TCM) Truenat serta rontgen ultra-portable Prorad Atlas.

Senior Regional Business Development Manager ASEAN Molbio Diagnostics, Roni Chandra, mengatakan Truenat dapat beroperasi tanpa pendingin udara dan memiliki baterai mandiri. Perangkat tersebut mampu memberikan hasil pemeriksaan dalam waktu kurang dari satu jam dan telah digunakan di enam puskesmas di Kota Padang.

"Teknologi ini mempermudah perluasan jangkauan pemeriksaan, khususnya untuk warga di wilayah dengan keterbatasan fasilitas," tutur Roni. (cc1)

Editor : Hendra Efison
TBC Padang kontak erat TBC kesehatan Padang kemenkes skrining tbc