Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kisah Ngilu Ibu Kandung dan Ibu Tiri

Novitri Selvia • Kamis, 10 Maret 2022 | 14:02 WIB
Meria Fitriwati Guru MAN 3 Pesisir Selatan
Meria Fitriwati Guru MAN 3 Pesisir Selatan
Terlahir dan dibesarkan dari dua ibu membuatku tumbuh dan kembang secara sempurna. Baik cara berpikir maupun dalam bertindak. Tidak jarang orang bilang cara berpikirku lebih dewasa dari umur. Perkataan itu pantas saja kuterima.

Bagaimana tidak, jika kebanyakan orang hanya diasuh oleh satu ibu dan satu ayah, aku malah diasuh oleh dua ibu dan satu ayah. Tentu saja akan menghasilkan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan.

Tidak banyak yang tahu bagaimana keadaan keluarga kami yang sesungguhnya. Yang aku tahu ayah adalah pemimpin keluarga yang baik dan pekerja keras, sedangkan ibu perempuan yang sering menghabiskan waktu di rumah atau bepergian dengan teman-temannya.

Sebagai anak terkadang aku sering meminta ibu untuk menemaniku di rumah dari hanya sekedar menghabiskan waktu tertawa tidak jelas bersama teman-temannya dan lalu keluar hingga senja menjelang. Aku ingin ditemani ibu membuat PR dari sekolah.

Akan tetapi, ibu seolah tidak punya waktu untukku. Sedih, ya sudahlah. Namun aku patut berbangga punya ibu. Teman-teman di sekolah malah ada yang tidak punya ibu, tidak ada yang mengurusi mereka.

Tidak ada yang memperhatikan akan makan, mencuci baju, kasih uang belanja, menemani tidur, dan lainnya. Sementara aku, masih punya ibu dengan segenap kasih sayangnya dan juga kesibukan yang ia punya.

Mengenai ayah, ia adalah seorang wirausahawan yang bekerja hampir setiap waktu. Hidupnya ia abadikan untuk bekerja agar kebutuhan keluarga terpenuhi dan bisa lebih dari yang lainnya. Tidak jarang waktu berkumpul dengan keluarga tersita hanya untuk bekerja.

Sebagai anak, aku hanya bisa menyaksikan betapa ayah sibuk dengan rutinitasnya. Tetapi aku bangga memiliki ayah yang saleh. Setiap Jumat, ia tidak akan melewatkan waktu untuk tidak pulang.

Ia akan membawaku ke masjid dan kami akan pergi dengan baju Koko yang serupa setiap minggunya. Aku bangga. Masih kecil sudah seperti orang besar. Tidak ayal, jamaah senang melihatku dan berkata bahwa aku akan menjadi ustadz kondang nantinya.

Ayah juga sering salat malam, jika aku sekali-sekali terbangun tidur dan pindah ke kamar ibu untuk melanjutkan tidur. Sementara ibu akan mengusap punggungku agar segera tidur. Jadilah kami tidur dengan nyenyak saat ayah salat.

Ketika itu aku baru saja menginjak kelas 3 SD. Tidak tahu apa sesungguhnya yang terjadi. Ibu tiba-tiba mengemasi barangnya dan pergi meninggalkan aku dan ayah. Tangisanku tidak berarti apa-apa bagi ibu. Ayah menyeka mataku dan kami tidur dengan pikiran tidak menentu.

Setahun setelah kepergian ibu, aku dihadiahi seorang ibu muda cantik, baik hati, suka senyum, berkaca mata, punya dua lesung pipi, alis mata lebat melengkung dan bulu mata panjang yang lentik. Aku suka melihatnya, apalagi giginya yang putih dan tangannya yang lembut. Ah ia ibu yang sempurna diberikan ayah padaku.

“Terima kasih ayah!” ucapku sesaat setelah pernikahan itu terjadi. Rasa syukurku terus berlanjut, apalagi ibu muda seseorang yang pintar memasak. Semua masakannya selalu enak. Aku tidak tahu menilai mana masakan yang paling enak di antaranya karena semua yang ia suguhkan selalu terenak.

Ia juga seorang penghafal Al Quran. Aku yang hanya baru hafal ayat-ayat pendek ketika dihafal di sekolah kini ikutan menjadi pe ghafal Al Quran. Enam bulan ibu bersama kami, aku sudah menamatkan tiga juz Al Quran.

Aku cukup bangga apalagi ketika di sekolah, kepala sekolah menyuruhku membaca salah satu surat juz 29 dan aku membacanya dengan lancar. Beliau memberikan uang 10.000 sebagai hadiah kala itu. Aku bahagia. Uang itu ditarik ibu dalam lemari dan diberi bingkai.

“Hadiah dari Kepala sekolah untuk anak pintar,” tulisnya di bingkai tersebut. Lalu aku juga diberi hadiah oleh seorang ustadz ketika mendengarkan suaraku melantunkan ayat-ayat Allah.

Kali ini aku diberi uang Rp 50.000. Ibu juga melakukan hal yang sama. Aku semakin senang belajar dan bangga melihat hadiah yang dipajang oleh ibu. Enam bulan kebersamaan dengan ibu baru, ibu yang sudah lama meninggalkan kami datang ke rumah dan meminta agar aku juga diizinkan untuk tinggal bersamanya.

Ayah mengizinkan. Jadilah, hariku terbagi 3 hari bersama ibu kandung dan 4 hari bersama ibu baru dan ayah. Hal ini membuat hafalan Quran ku tidak banyak bertambah. Selama tempat ibu yang melahirkanku, ia hanya sibuk menjelek-jelekkan ayah.

Lalu, membawa saya pergi ke tempat permainan anak bersama paman Hisyam teman ibu. Aku diberikan kebebasan bermain sedangkan ibu bercerita sambil ketawa-ketawa dengan paman. Aku risih melihatnya.

Ibu seperti pacaran saja. Aku mengenal pacaran ketika teman-teman sekolah menertawakan teman satunya dengan teman yang lainnya berlainan jenis dan mengatakan mereka berpacaran. Ibu sepertinya memang begitu. Aku sebenarnya tidak suka melihat cara ibu bergaul.

Belum lagi, rambutnya yang sebahu terurai dan baju yang melilit badan. Jauh berbeda dengan ibu muda. Yang menutup semua auratnya jika keluar rumah. Di rumah pun ia tetap memakai baju longgar dan hanya sesekali membuka jilbab.

Karena tidak tahan melihat ibu, aku memilih tinggal bersama ayah selamanya. Tidak mau lagi pergi ke rumah ibu yang melahirkanku. Inilah awal mula masalah selanjutnya. Ibu datang memaki-maki ibu muda dan memfitnah bahwa aku telah dirasuki ibu muda sehingga tidak mau bertemu ibu kandung.

Ia juga mengatakan bahwa otakku sudah dicuci ibu muda. Setiap ayah pergi bekerja, ia akan datang dan berkata kasar kepada ibu muda. Aku yang sudah kelas 6 SD dan mulai mengerti mana yang salah dan benar tentu saja memihak ibu muda.

Tetapi, ibu tidak terima sehingga ia mencakar wajah ibu muda, menarik jilbabnya hingga ibu tersungkur. Malang tidak dapat ditolak, mujur tidak dapat diraih. Ibu pendarahan. Ternyata di perut ibu muda sedang bertengger adikku.

Darah itu terus mengucur dan ibu dilarikan tetangga ke rumah sakit. Ia pingsan dan dua hari setelahnya ia meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Sejak saat itu aku bertekad mewujudkan impian ibu muda, menjadi anak yang dekat dengan agama dan tidak menaruh dendam kepada siapa pun.

Alhamdulillah sekarang di umurku yang ke 15 tahun, aku telah menamatkan 30 juz. Ini aku hadiahkan kepada ibu muda, ibu yang telah melahirkanku, dan juga ayah. Semoga ibu muda tenang di alamnya dan berada di tempat yang layak di sisi Allah SWT.

Ibuku sayang ibuku malang, aku akan senantiasa melakukan apa yang telah engkau ajarkan. Itulah caraku membahagiakanmu ibu. Setiap kebaikan yang aku kerjakan karena ajakanmu maka setiap itu jugalah amal itu akan selalu mengalir untukmu ibu.

Maka sebagai anak, aku ingin membahagiakanmu dengan mengamalkan semua kebaikanmu, agar pahala itu terus mengalir kepadamu ibu bertambah dan bertambah setiap detiknya. (*) Editor : Novitri Selvia
#Kisah Ngilu Ibu Kandung dan Ibu Tiri #Meria Fitriwati