Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Saham Besar Ulama Dalam Kemerdekaan Indonesia

Novitri Selvia • Selasa, 16 Agustus 2022 | 11:55 WIB
Dedi Irwan Guru PAI SMA Negeri 2 Batusangkar
Dedi Irwan Guru PAI SMA Negeri 2 Batusangkar
Rabu, 17 Agustus 2022 tentunya menjadi momen penting bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Di mana HUT RI ke-77 bakal diperingati pada kesempatan itu. Dan tak terasa berarti bahwa 77 tahun yang silam negeri ini telah memproklamirkan kemerdekaan dari belenggu penjajahan.

Peringatan kemerdekaan tahun ini agak berbeda dari sebelumnya. Pasalnya, pada peringatan tahun ini kita sudah dapat melaksanakan peringatan secara normal setelah dua tahun terbelenggu oleh ganasnya covid-19.

Makanya kita harus bersyukur atas nikmat situasi yang kondusif sehingga diharapkan peringatan ini tidak hanya sebatas seremonial semata, namun harus mampu menggali nilai-nilai patriotis dan nasionalis dari peringatan tersebut.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari bangsa penjajah atau pemberian cuma-cuma dari negara penjarah. Kemerdekaan merupakan buah manis dari perjuangan yang membara dan pengorbanan yang tulus para pejuang dan segenap rakyat Indonesia.

Genangan darah dan linangan air mata sebagai bukti rasa nasionalisme dan patriotisme yang bersemayam dalam dada para pejuang untuk membela dan membebaskan negeri dari segala bentuk perbudakan atau penindasan. Hanya satu kata, “ Merdeka atau mati mulia” yang terukir dalam denyut perjuangan untuk merebut kemerdekaan.

Dengan semangat juang yang tinggi, mereka mengangkat senjata tanpa gentar menghadapi penjajah agar hengkang dari penjuru nusantara. Dengan menggunakan senjata seadanya, tentara Jepang dapat dikalahkan dan pergi dari ranah pusaka.

Keberhasilan perjuangan ini tidak terlepas dari karunia Allah, sebagaimana yang ditulis dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang selalu kita baca setiap upacara bendera. Makanya, bangsa ini harus menyukuri nikmat kemerdekaan dengan membangun keluhuran bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa.

Maksudnya, nilai religius tidak bisa dilepaskan dalam membangun negeri ini menuju bangsa yang sejahtera. Sejarah mencatat bahwa saham ulama sangat besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Ulama adalah aktor utama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Para ulama yang mulia ini, tidak hanya sekedar menyemangati santri atau rakyat untuk berjuang, memberikan tausyiah dan pidato pembakar semangat namun justru mereka langsung terjun ke medan jihad untuk memimpin perjuangan dengan semangat jihad fisabillah. Dengan teriakan “Allahu Akbar” para ulama dan santri bertempur di medan juang.

Mereka membawa senjata apa adanya bahkan bambu runcing untuk mengusir tentara penjajah. Semangat bergelora itu bertambah setelah dikeluarkannya fatwa Resolusi Jihad oleh ulama besar KH Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945. Dengan demikian, semua ulama dan kiyai yang mengasuh pondok pesanteren mengorganisir santrinya untuk berjuang merebut kemerdekaan.

Prinsipnya, berjuang tidak hanya membebaskan tanah air dari penjajah akan tetapi juga merupakan misi suci dalam memperjuangkan agama Allah. Makanya, pejuang yang gugur di medan laga dinilai dengan mati syahid yang balasannya adalah surga Allah. Peran ulama pejuang ini, tidak hanya merebut kemerdekaan. Mereka juga berperan aktif dalam meletakkan dasar dan fondasi negara.

Tugas ini dilaksanakan oleh BPUPKI yang sebagian dari mereka adalah para ulama yang nasionalis atau nasionalis yang religius, di antaranya, KH Wachid Hasyim, H. Agus Salim dan Abdul Kahar Muzakir. Dalam rapat Panitia Sembilan yang berlangsung 22 Juni 1945 dirumuskanlah Dasar Negara yang kemudian dikenal dengan Piagam Jakarta atau Jakarta Charter.

Pada sila pertama dalam Piagam Jakarta, berbunyi, “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Dalam perkembangannya untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia, PPKI sepakat untuk merubah sila pertama Pancasila berganti dengan, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Hal ini bentuk kerelaan ulama pada bangsa ini dalam mempertahan persatuan Indonesia yang terdiri dari beragam agama.

Begitu penting peran ulama dalam mendirikan negara ini. Ulama telah menanamkan saham besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kepahlawan ulama telah teruji dari masa ke masa. Semangat tersebut diwariskan terus menerus pada ulama generasi berikutnya sampai pada masa ini.

Sekalipun bangsa ini sudah merdeka namun perjuangan ulama tidak pernah berhenti dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kecintaan ulama terhadap negara ini tidak bisa diragukan lagi. Sebab mencintai negara merupakan pengejawantahan nilai Islam dalam kehidupan nyata.

Lalu bagaimana cara menyukuri nikmat kemerdekaan yang berkaitan dengan saham besar ulama dalam membebaskan negeri ini. Di antaranya adalah dengan memuliakan para ulama dan menjadikan mereka sebagai sumber inspirasi dalam membangun negeri ini.

Ilmu para ulama hendandaknya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan negara dan menyelesaikan problema umat. Selain itu, mendukung dan membantu pesanteren dan madrasah merupakan bentuk lain dalam memuliakan dan menghormati para ulama dan kiyai yang berjasa itu.

Sungguh, dengan demikian negeri ini akan terus berjaya karena memang tidak melupakan para ulama sebagai pejuang kesuma bangsa. Selamat dirgahayu HUT RI ke 77, Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat. (***) Editor : Novitri Selvia
#kemerdekaan indonesia #Saham Besar Ulama #Dedi Irwan